Showing posts with label Trip and Travel. Show all posts
Showing posts with label Trip and Travel. Show all posts

Sunday, February 12, 2017

Pantai Gesing: Nuansa Lokal yang Begitu Kental

Suasana di Pantai Gesing | Dok. @ambrcwls
Niatan kami untuk menyambangi pantai ini sebenarnya sudah dari pertemuan sebelumnya. Waktu itu kami baru sempat ke Pantai Wohkudu dan Pantai Kesirat. Padahal jika dilihat dari sisi akses jalan, Pantai Gesing ini masih satu jalur dengan kedua pantai tersebut. Mmm...tapi memang karena satu dan lain hal pada kunjungan pertama, alhasil baru kita realisasikan di pertemuan selanjutnya. Intinya kan, mission accomplished, ya nggak? Hehehe

Ok, ngomong-ngomong soal Pantai Gesing, pantai ini mulai ramai dikunjungi traveler sekitar 2014 ketika Jogja mulai booming dengan aktivitas explore yang tentunya digawangi oleh kaum-kaum muda. Para explorer, begitu kami menyebutnya, ini mulanya dalam rangka hunting foto-foto keren untuk diunggah di media sosial, khususnya instagram. Berawal dari aktivitas ini, Pantai Gesing dan banyak pantai juga tempat wisata lainnya terangkat pamornya di kalangan instagramer yang rata-rata anak muda masa kini, bukan masa gitu. Pantai Gesing yang memang sudah sejak dulu (entah kapan, kami kesulitan mencari sumber primernya) dikenal sebagai pantai nelayan, mulai menjadi alternatif wisata bagi turis-turis lokal berkat foto-foto menarik yang viral di media sosial. Foto-foto keren yang menggugah rasa penasaran dan keinginan untuk eksis ini ternyata sangat ampuh untuk menggaet minat masyarakat berkunjung ke Pantai Gesing.

Saturday, January 14, 2017

Mampir Tersirat di Pantai Kesirat


Pantai Kesirat, dari arah jalan aspal | Dok. @ambrcwls
Sudah baca postingan sebelumnya tentang Pantai Wohkudu? Kalau belum, jangan lupa mampir dulu yaa, karena postingan yang ini akan sangat terkait dengan erat dengan postingan itu. (Ciee alesan aja biar traffic post naik...).

Tapi serius sih memang ini terkait dengan postingan sebelumnya tentang Pantai Wohkudu. Di postingan itu, aku sempat menulis tentang mendapat 'bonus pantai lain' karena tak jadi mampir ke Pantai Gesing. Yah inilah rahasia terkuak dari judulnya, Pantai Kesirat. Selepas melepas lelah di parkiran Pantai Wohkudu, makan mie rebus yang rasa nikmatnya saat itu seperti berlipat-lipat, aku dan Ciwul memutuskan untuk menyirat sejenak ke Pantai Sejenak. Itung-itung menuhi memori kamera dengan foto-foto ala @ambrcwls gitu deh.

Friday, January 6, 2017

Pantai Wohkudu: Pesona Surga di Panggang

Pantai Wohkudu, Dukuh Wiroso, Panggang, GK | Dok. @ambrcwls
“Kita besok mau ke pantai mana ya?”
“Besok kan tahun baru pasti pantai-pantai mainstream bakal rame banget. Nggak mau lah, cari pantai yang hipster biar bisa menikmati suasana sambil ngobrol santai.”
“Bentar-bentar 'gugling' dulu yaa…”

Begitulah kira-kira obrolan kami di penghujung tahun 2016 lalu. Semua berawal dari hasrat yang sudah lama tak terpuaskan karena kami yang biasanya setiap ketemu selalu ke pantai, tapi beberapa pertemuan terakhir lebih sering ‘mangkrak’ di kota untuk wisata kuliner. Apalagi Ciwul yang anaknya pantai banget, sudah pasti tak tahan jika terus dibeginiin… (loh jadi kemana ini?).

Alhasil setelah ‘gugling’ dengan kata kunci “pantai tersembunyi di jogja” ketemulah beberapa pantai yang jadi alternatif untuk disambangi esok hari di tanggal 1 Januari 2017, diantaranya Pantai Gesing dan Wohkudu. Ternyata dua pantai ini pun berdekatan atau minimal satu arah perjalanan jika berangkat dari Jogja kota. Sama-sama via jalur jalan Imogiri Timur.

Pantai Greweng: Surga Berceruk di Selatan Jogja



Kami di Pantai Greweng
“Ke pantai greweng aja yuk!”, ajaknya suatu ketika via chat di Line.
“Boleh, yuk besok ya pas aku pulang”, balasku.

Begitulah awalnya rencana kami untuk menyambangi satu pantai lagi di Gunung Kidul, Pantai Greweng. Aku belum sempat mencari tau letak, lokasi dan arah jalan menuju ke sana waktu itu. Mikirnya, yaudah nanti aja paling juga masih di sepanjang Gunung Kidul sana, masih terjangkau lah dua jam perjalanan. Sampai kemudian, aku nyari referensi tentang petunjuk jalan menuju Pantai Greweng ini. Tak salah lagi, ternyata pantainya tak jauh dari Pantai Wediombo yang udah dua kali kami sambangi sebelumnya. Tenang deh hati dan pikiran. Namun ternyata ada ‘prasyarat’ lain untuk mencapai area pantai ini, tracking. Wah tantangan baru nih, biasanya kami ke pantai di Gunung Kidul nggak sampai tracking segala. Pernah sih, waktu ke pantai timang, tapi itupun cuma sekitar 10-15 menit doang udah nyampe pantainya dari parkiran. Nah, untuk mencapai pantai ini, sesuai dengan referensi yang aku dapet harus tracking sekitar 30-45 menit sebelum akhirnya sampai di area pantainya. Sudah sampai di sini dulu aja nyari referensinya…

Saturday, November 1, 2014

Kacamataku Raib di Tengah Epicnya Sunset Pura Uluwatu

View dari atas Pura Luhur Uluwatu
Beranjak dari Pantai Balangan, destinasi berikutnya adalah tempat mainstream yang selalu ada di paket tur ke pulau dewata. Apalagi kalo bukan Pura Uluwatu atau lengkapnya biasa disebut Pura Luhur Uluwatu. Perjalanan dari Pantai Balangan ke Uluwatu memakan waktu kurang lebih satu jam. Tenang, modal kami tetep kok, si keren waze…

Kami sampai di parkiran Pura Uluwatu sekitar pukul lima sore WITA. Yapski, belum ketinggalan sunset dong. Bayar parkir, parkir motor, kemudian langsung membeli tiket masuk untuk dua orang sebagai wisatawan dalam negeri meskipun wajah kami kebule-bulean (hehehe..) memakai selendang karena saya pake celana pendek untuk menghormati area peribadatan, kamipun masuk ke area pura. Sebelumnya beberapa orang sempat menawarkan diri sebagai pawang kera, maksudnya jadi pawang (guide) untuk melindungi kami dari kera-kera liar yang ada di area pura ini. Tapi kami memilih untuk melindungi diri kami sendiri dengan doa dan kewaspadaan. Sudah diingatkan untuk tidak menggunakan benda-benda yang mencolok perhatian, termasuk topi, perhiasan, kacamata. Yang lain-lain oke lah ya, tapi kalo kacamata, gimana nanti aku bisa jalan coba kalo tanpa kacamata. Akhirnya kacamata tetep aku pake dengan syarat kewaspadaan tingkat tinggi. Anw, kami berdua pake kacamata semua kok.

Mencari Indonesia di Pantai Balangan?



Keren kan, Pantai Balangan ini?
Sepulang dari Sanur, menikmati sunrise yang epic di sana, kami memutuskan pulang dulu ke hotel, mandi-mandi dan sarapan dulu lah sebelum melanjutkan petulangan di Bali hari kedua itu. Iya, hari ketiga ini tak boleh tinggal diam dan harus dimanfaatkan seromantis mungkin, eh semaksimal mungkin buat mengeksplor Bali hingga ke urat-uratnya. Rencananya sih gitu, kita lihat saja nanti, hehehe…

Selepas mandi, beberes ria dan sarapan dengan roti bakar plus telor mata sapi yang Ciwul Cuma doyan putihnya doang, kita caw. Eh belum caw ding, kan sarapannya pas baru pulang ya dari Sanur ya, baru mandi, jadi masih di kamar aja kalo gitu, nunggu agak siangan. Tanda-tanda ambisi mulai teredam, hahaha.

Agak siangan deh akhirnya kami baru caw dari hotel, naik motor lagi dan tujuannya adalah Ayam Betutu khas Gilimanuk yang maknyus parah. Enak, mantep dan pecah parah sampe-sampe aku ‘terpaksa’ nambah porsi ayamnya, hehehe. Eits, tapi bukan ini kok tujuan utama kita hari ini karena petualangan masih akan berlanjut ke Bali selatan sana, ke Pantai Balangan. Tetep dengan bermodal waze di tangan, kita cus menuju selatan Bali dan lagi-lagi lewat tol laut Bali yang bikin melayang itu.

Thursday, September 4, 2014

Mengejar Sunrise Pantai Sanur

Berpose sambil menikmati sunris Pantai Sanur
Hari kedua di Bali kami gagal untuk berburu sunrise. Semua gara-gara kesalahan teknis yang apa-mau-dikata-lagi kalo sudah soal akomodasi. Sebenernya di hotel kami ada fasilitas sepeda yang bisa dipake free sama tamu yang menginap di situ tapi berhubung penyakit malas sudah terlalu akut, alhasil ya enggak deh, hehehe. Kamipun memutuskan untuk berburu sunrise keesokan harinya. Kebetulan malam itu ciwul nginep di rumah “boleh dibilang saudara sih ya”-nya di daerah Teuku Umar sana, sekitar 30 menit dari tempat kami menginap. Malemnya kita udah janjian besok pagi aku jemput jam lima pagi biar bisa dapet momen-momen sunrise yang keren di Sanur.

Keesokan harinya, aku sudah terbangun dari pukul empat pagi, nunggu sambil bengong, terus siap-siap berangkat jemput pacar di rumah tantenya. Pukul 4.30 aku pamit sama resepsionis buat caw mau berburu sunrise di Pantai Sanur. “Mau ke Sanur, mas. Paling nanti dari Sanur balik dulu ke hotel buat sarapan sebelum lanjut jalan-jalan lagi,” aku bilang ke mas resepsionis, Bagus namanya. Setelah itu, segera ambil helm dan cusgo keluar melawan dinginnya Bali pagi itu, cukup dingin sih. Bali sedang dingin akhir-akhir ini kalo pagi katanya, meskipun kalo siang jangan tanya, panasnya luar biasa menyengat.

Wednesday, September 3, 2014

From Jimbaran with Love: Romantisme Pantai, Sunset dan Seafood

From Jimbaran with love...
Waktunya berburu seafooooood, berburu sunseeeeet, berburu keromantisaaaaan…

Kemana lagi kalo bukan Jimbaran, surganya café-café yang nyediain aneka hidangan seafood yang super yummy. Ada satu café yang emang keliatan lebih rame dan blink-blink dari yang lain di sini, namanya Menega Café. Di sepanjang Pantai Jimbaran memang berderet tempat dimana kita bisa menikmati seafood, dinner romantis di tepi pantai sambil menikmati matahari terbenam yang keemasan.

Nggak salah lagi kalo destinasi Agentventure kami selanjutnya adalah tempat ini. Segera mengaktifkan waze dan navigate menuju langsung ke Menega Café, kamipun bergegas segera dengan belalang tempur andalan selama di Bali ini. Dari Bali Bird Park menuju Jimbaran memakan waktu lebih kurang satu jam. Kami pilih jalur lewat Tol Laut Benoa yang baru itu. Sensasinya luar biasa deh, naik motor masuk tol, di atas laut pula, ditambah helm yang seakan mau terbang mulu, hehehe. Hampir mirip sih sama naik motor di Jembatan Suramadu, tapi jelas bedanya karena Suramadu itu jembatan sedangkan yang kami lewati ini jalan tol yang tentunya lebih panjang. Ok then...

Tuesday, September 2, 2014

Bali Bird Park: The Ultimate Bird Park in Indonesia

Pintu masuk Bali Bird Park
Hari kedua di Bali rencana awal kita adalah berburu matahari terbit di Pantai Sanur yang mainstream itu tapi berhubung akomodasi baru bisa dateng jam delapanan, ya dari pagi cuma leyeh-leyeh aja di penginapan sambil ngemil sarapan bareng bule-bule yang juga nginep di situ. Penginapan kami namanya Sugiras Living di daerah Banjar Suwung, nanti bakal aku ceritain tersendiri deh tentang penginapan ini.

Hari semakin siang, dan setelah motor dateng, kami sudah mandi terus siap-siap, langsung deh cusgo ke destinasi kedua hari itu, Bali Bird Park. Awalnya sih karena penasaran aja sama taman burung yang ada di Bali ini, seperti apa kondisinya dan bagaimana koleksi aves yang ada di sana. Dengan mengandalkan aplikasi waze dari gadget, ampuh banget deh buat nemuin lokasi tujuan dengan tepat bahkan ngasih rekomendasi jalan-jalan sempit alternative yang jadi rute tercepat menuju lokasi. Ampuh banget si waze jadi partner Agentventure kami di part ini…

Penantian Itu Usai Sudah, Bali I'm Comiiiing...

Bali, I'm comiiiiiing...
“Haloo sayang, lagi ngapain?” demikian isi chatku hari itu via Line. Kami sedang dapet ujian LDR yang semakin jauh dalam sebulan terakhir. Doi sedang melakoni tugasnya sebagai mahasiswa semester enam yang harus ikut KKN, ya tepat sekali Kuliah Kerja Nyata. KKN-nya sih biasa aja tapi dia sepakat sama tim unitnya buat ngambil area Bali sebagai destinasinya. Alhasil, berangkatlah dia bareng teman satu unitnya ke Bali, tepatnya di Dusun Piling, Tabanan, daerah pegunungan gitu.

Sebelum KKN ini ada, kami pun sebenernya sudah berstatus pacaran el-de-er Jogja-Jakarta, tapi setelah KKN rasanya kok ya makin jauh ya mmm… Nah dari situlah timbul niatku buat ngunjungin doi pas KKN, tapi nyari waktunya kok susah amat ya. Tapi lagi, tekad itu udah segitu menggebunya (ciee…) akhirnya terputuslah niatan yang lebih mateng, aku bakal ke Bali pas dia kelar KKN, jadi itung-itung nengokin pacar, sekalian jemput pulang dan pastinya sekalian main. Nah lagi, tadinya juga niatan ini bakal jadi surprise dan nggak mau bilang-bilang dulu ke dia tapi…

Wednesday, September 25, 2013

Pantai Jungwok: Paduan Nama Asing, Pasir Kasar dan Perairan Dangkal

Pasir Pantai Jungwok
Mencari pantai-pantai yang nggak mainstream di Jogja adalah hobi kami berdua kalo lagi traveling bareng, tentunya di Jogja. Nggak tau kenapa ya, rasanya kalo ngerasain dateng ke pantai yang masih perawan, belum tersentuh modal-modal, masih terpampang dengan segala pesona kealamiannya itu menyenangkan dan luar biasa. Ada semacam kepuasan pribadi gitu daripada dateng ke pantai yang udah banyak warung di sana-sini, toilet berjajar, tempat parkir banyak dan intinya udah serba gampang gitu.

Pantai satu ini sebenernya udah lama gue caritau infonya tapi baru awal September lalu bisa tereksekusi. Namanya unik, Jungwok, tak seperti kebanyakan nama pantai di selatan Jogja lainnya yang kebanyakan kejawa-jawaan gitu namanya. Nama Jungwok ini kesannya kayak kata serapan dari istilah asing gitu nggak sih? Korea-korea gitu kali ya? Sayangnya gue kurang referensi buat nulis travelpost ini, jadi agak ngasal aja dan jangan percaya sama gue seratus persen ya. Mungkin aja menyesatkan, hahaha menyesatkan ke jalan yang benar. Kalo pengen tau sejarah asal muasal nama Pantai Jungwok ini, coba search aja ya di google, kali aja ada.

Tuesday, September 24, 2013

Gembira Loka “Not Secret” Zoo: Kebun Binatang Punya Jogja

Welcome to GL Zoo!
Saat pergi ke suatu tempat atau kota, paling nggak kepikiran di benak gue adalah ngunjungin kebun binatangnya. Nggak tau kenapa ya, nggak minat gitu sama yang namanya kebun binatang. Dari namanya aja kok rada nggak masuk akal gitu, pikir gue. Kebun binatang, itu tuh absurd nggak sih? Kebun ya kebun gitu aja sih, isinya ya tumbuhan, taneman, bunga-bunga, pohon-pohon, sayur-sayuran, buah-buahan dekaka. Lah ini, kebun binatang. Jadi, kebunnya binatang apa kebun yang isinya binatang? Ah sabodo deh. Sering gue mikir gitu, makanya nggak tertarik sama kebun binatang. Tempatnya pasti absurd, gitu.

Percaya atau nggak, ternyata selama ini mindset gue salah lagi. Kebun binatang atau istilah kerennya “zoo” gitu jauh dari ekspektasi gue selama ini. Apalagi setelah si pacar ngajakin berkunjung ke Gembira Loka, kebun binatang di Jogja. Ternyata tempatnya nggak seabsurd di pikiran gue. Di sana juga banyak pohon, hijau-hijau-hijau dan hijau. Tempatnya juga nggak kaku atau terlalu njelimet. Dari pantauan mata gue sih, Gembira Loka ini tampilannya sederhana, green dan usefull. Yang jelas, nggak ada binatang yang gue lihat merasa terkungkung gitu.

Tamansari: The Mainstream but Epic Tourism Destination in Jogja

Tamansari, Jogjakarta
Bingung gue, serius gue bingung mau ngawalin travelpost ini kayak gimana. Mmm…pas sih sama persis kayak waktu itu mau berkunjung ke tempat yang mau gue review ini. Persis bingungnya. Iya, bener. Berawal dari kebingungan mau berkunjung ke mana lagi setelah hari sebelumnya juga udah cukup jauh ngebolang sampai ke selatan Jogja sana. Kemudian selanjutnya pun pada akhirnya, kepikiran juga di kepala.

“Gimana kalo ke Tamansari, kan nggak jauh-jauh amat tuh masih dalem kota?”, usulku saat masih di rumah Ciwul.

“Boleh juga, capek juga kalo mau caw jauh lagi,” si partner menimpali.

“Oke, jadi fix ya nanti ke Tamansari.”

Pantai Ngrenehan: Sedia Seafood Rasa Bintang Lima Harga Kaki Lima


Di Pantai Ngrenehan
Pantai lagi…pantai lagi…pantai lagi…

Lagi-lagi pantai jadi obyek wisata favorit dan hampir wajib yang gue datengin pas berkunjung ke heritage city, Jogja. Kali ini giliran pantai yang yang letaknya di wilayah Gunung Kidul sebelah barat, Pantai Ngrenehan.

Alesan kenapa Pantai Ngrenehan jadi destinasi pilihan kali ini sebenarnya tak lepas dari ide yang terlontar dari partner gue, siapa lagi kalo bukan si agen super mendes Ciwulsky.

“Ambil lurus aja, kita belum pernah kan ngambil jalan lurus ini? Seringnya ambil kiri terus. Yuk cobain ke pantai yang di jalur lurus ini…”, demikian si Ciwul berseloroh di simpang tiga yang menuju kawasan timur Gunung Kidul (belok kiri) dan Barat (lurus terus).

“Boleh juga, tapi mau ke pantai mana nih? Bukannya pantai di arah ini udah mainstream semua ya?” kataku.

“Iyasih tapi kayaknya ada yang nggak terlalu mainstream deh, cari aja..”

“Okedeh, kalo Ngrenehan itu sebelah mana ya? Di sana ada yang jual udang kan?” tanyaku mulai tertarik.

“Nah iya itu, ayok cobain aja ke sana!!!”

“Oke cuss!”

Monday, September 23, 2013

Wisata Nostalgia di Kali Oya

Ke Kali Oya yuk..
Udah pernah mandi di kali? Ah nggak seru kalo belum, pasti masa kecilnya kurang bahagia sekali alias MKKBS, hahaha. Sebagai anak yang tumbuh dan besar di desa dan dekat dengan alam, masa kecil gue banyak dihiasi dengan main-main yang kaitannya dengan alam terbuka langsung, semisal main layangan di sawah, berburu jangkrik di tegalan, berburu kepiting di pantai sampai mandi-mandi di kali (sungai). Buat anak kota mungkin semua itu jadi sesuatu yang asing atau bahkan mahal karena pasti jarang banget bisa mereka nikmatin. Lagi-lagi gue harus banyak bersyukur dengan semua yang dimiliki dan nikmat yang selalu Tuhan berikan sepanjang hidup gue.

Berkaitan dengan masa kecil gue itu, travelpost gue kali ini semacam bikin nostalgia masa kecil saat di mana masih bisa menikmati kumpul bareng temen-temen dan kakak cowok gue, jalan ke sungai di desa tetangga kemudian nyebur-nyebur sampai sore, dicariin ibu sambil dimarahin sepanjang perjalanan pulang. Momen itu terus terngiang sepanjang gue nulis ini. Destinasi yang gue maksud adalah Kali Oya. Orang Jogja melafalkannya dengan sebutan Kali Oyo, sungai yang masih berada di kawasan dan sepaket dengan objek wisata Goa Pindul. Jarak tempuh dari Goa Pindul sekitar 2 kilometer dan kami menempuhnya dengan pick up dari agen wisata. Jalan menuju starting point untuk body rafting Kali Oya ini masih jelek, tanah berdebu dan banyak lubang. Nggak kebayang pas musim hujan seberapa parah jalanan ini. Yang penting nikmatin aja lah ya…

Tujuhbelasan di Goa Pindul: Wisata Adventure di Selatan Jogja


Di Goa Pindul
Tujubelas agustus taun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita..
Hari merdeka, nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa In-do-ne-sia

Bukan tanpa sebab gue ngawalin travelpost ini pake lirik lagu di atas. Sebagai warga negara Indonesia yang sejak esde sudah diajarkan PPKn, jelas gue apal lagu di atas. Bahkan sejak teka juga udah sering pawai keliling sambil nyanyiin lagu di atas sambil megang bendera merah putih plastik yang terpancang di batang bambu, dulu disebutnya tuding.

17 Agustus 2013, ya hari ini tepat 68 tahun umur Indonesia sejak kelahirannya yang diproklamasikan oleh founding father kita. Kalo tahun lalu gue menikmati tujubelasan di puncak gunung, kali ini bareng partner gue menyambangi salah satu wisata adventure di wilayah Gunung Kidul, Jogja. Sudah lama niat ingin mengunjungi destinasi ini tapi karena masalah waktu selalu saja belum sempat dan saat inilah momen yang paling tepat. Goa Pindul adalah destinasi  gue kali ini, tepat di perayaan kemerdekaan RI. Kurang keren apa lagi coba? Ada yang nggak tau Goa Pindul? Gih cari langsung di internet, dijamin pasti ada.

Friday, July 19, 2013

Agentventure: Si Kecil Pantai Timang yang Bikin Jantungan

Pernah liat ginian di atas laut?
Petualangan kami kali ini sangat mendebarkan. Bukan lebay tapi emang begitu kok. Aku  bareng partner agenku, seperti biasa kalau bertemu pasti selalu merencanakan pergi bertualang kemanapun angin meniupkan isyaratnya. Tujuannya (lagi-lagi) pantai di selatan Jogja.

“Pokoknya kita samperin pantai yang kamu belum pernah aja, gimana?” kata si Ciwul di awal perjalanan.

“Oke, nanti siapa tau nemuin pantai baru…” aku mengiyakan dengan cara itu.

Perjalanan dimulai pukul 06.00 WIB dengan motor  seksi punya si agen satu itu. Kami belum punya firasat apapun soal pemilihan motor seksi ini buat tunggangan di misi kali ini. Pertimbangannya sih cuma biar nggak capek aja karena pake matic yang tinggal muter gas sama mantengin rem bisa jalan. Wuuuush…meluncur ke arah Gunung Kidul lewat jalan Wonosari.

Museum Keluarga yang Kreatif dan Romantis, Ya Museum Affandi


Museum Affandi
Lamaaaaa banget pengen ngunjungin museum satu ini. Sejak nggak sengaja dapet info tentang museum ini dari seorang dosen sejarah kesenian di kampus, gelora di dada dan rasa penasaran untuk bisa lihat sendiri isi museum ini semakin membuncah. Ditambah lagi, tokoh satu ini menjadi obyek pilihan pertama yang tadinya mau gue apresiasi dalam tugas mata kuliah tersebut, meskipun gagal karena keduluan temen yang lain dan akhirnya dapet Popo Iskandar.  Yap! Bener banget lah, nggak usah bikin tebak-tebakan karena di judulnya juga udah keliatan kalo gue pengen ngulas tentang kunjungan ke Museum Affandi beberapa waktu lalu.

Punya pacar orang Jogja (meskipun darahnya bukan Jogja Aseli) jadi nilai lebih buat gue yang doyan jalan-jalan dan pengen nyari sesuatu yang beda dari jalan-jalan itu. Apalagi doi juga demen banget sama yang namanya jalan-jalan bin ngebolang binti hangout bahasa kerennya. Doi paling tau kalo udah diajakin jalan, pasti yang pertama kali keliatan itu senyumnya yang selalu bikin rindu itu. Huss..apaan ini jadi sosweet gini guenya. Bisa jadi ini efek dari museum yang mau kita kunjungin ini, bisa jadi bisa jadi bisa jadi…!!!

Friday, May 17, 2013

Dinner di atas Bintang, Bisa Nggak Yaa?

Night view dari Bukit Bintang, Yogyakarta
gambar: wisata-yogyakarta.com
Dari judulnya, kayaknya fiktif banget ya. Berasa lagi didongengin kisah seribu satu malam atau sejenisnya. Gimana ceritanya dinner di atas bintang? Kalopun bisa , itu pasti mahal banget dan super tak terjangkau. Kalo dinikmati bareng pasangan pastinya bakal jadi momen yang super romantis. Kalo dinikmati sendiri, ya…itu sih derita lo asal jangan niat bunuh diri aja terjun dari atas bintang-bintang meskipun itu ide paling keren juga. Terus makanan seperti apa yang bisa dinikmati di atas bintang-bintang?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu wajar buat yang bukan orang Jogja atau belum pernah ke Jogja atau sudah pernah ke Jogja tapi cuma mainnya di kota-kota aja. Percaya deh sama gue kalo makan malam alias dinner di atas bintang-bintang itu bukan mimpi atau dongeng belaka. Lo dateng ke Jogja dan buktiin omongan gue. Di sana ada sebuah tempat yang diberi nama Bukit Bintang. Wuiih…namanya aja udah keren gitu, gimana aselinya yak? Yuk cuss… Sebelumnya nama Bukit Bintang ini juga pastinya nggak asing buat lo yang pernah main ke Malaysia. Ini adalah nama sebuah distrik di Malaysia yang menyediakan pusat belanja dan hiburan. Nah kalo Bukit Bintang yang mau gue ceritain ini adalah…

Berendam Ala Kuda Nil di Pantai Siung

Berendam ala kuda nil
Kenapa banyak orang suka nulis catatan kunjungan mereka ke suatu tempat di mulai dengan lokasi, penunjuk jalan dan nananananananana…? Bosen gue, makanya gue mulai tulisan ini dengan nyinyir aja deh. Sumpah jalanan menuju pantai-pantai di Jogja ini bikin capek, kelak-kelok nggak jelas, naik-turun bikin degdegan, udah gitu jalannya sempit pula. Tapi semua itu terbayar kalo lo udah sampai di tempat tujuan. Seolah apa yang baru aja lo rasakan, capek dan lelahnya di perjalanan, hilang. Nah, banyak cara buat menikmati eksotisnya pantai-pantai di Jogja ini, salah satunya dengan berendam di pantai.

Berendam di pantai-pantai Jogja juga harus pilih-pilih karena ada beberapa pantai yang nggak cocok untuk berendam. Bisa jadi karena ombaknya terlalu besar, tidak ada spot yang pas untuk berendam, atau juga ada spot tapi ada gangguna alam lain yang tidak memungkinkan untuk berendam di situ (seperti ada hewan-hewan yang tidak mengenakkan untuk teman berendam; bulu babi, bintang laut, dsb.) jadi, cerdas-cerdaslah memilih spot yang tepat untuk berendam di pantai.