Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Saturday, November 1, 2014

Mencari Indonesia di Pantai Balangan?



Keren kan, Pantai Balangan ini?
Sepulang dari Sanur, menikmati sunrise yang epic di sana, kami memutuskan pulang dulu ke hotel, mandi-mandi dan sarapan dulu lah sebelum melanjutkan petulangan di Bali hari kedua itu. Iya, hari ketiga ini tak boleh tinggal diam dan harus dimanfaatkan seromantis mungkin, eh semaksimal mungkin buat mengeksplor Bali hingga ke urat-uratnya. Rencananya sih gitu, kita lihat saja nanti, hehehe…

Selepas mandi, beberes ria dan sarapan dengan roti bakar plus telor mata sapi yang Ciwul Cuma doyan putihnya doang, kita caw. Eh belum caw ding, kan sarapannya pas baru pulang ya dari Sanur ya, baru mandi, jadi masih di kamar aja kalo gitu, nunggu agak siangan. Tanda-tanda ambisi mulai teredam, hahaha.

Agak siangan deh akhirnya kami baru caw dari hotel, naik motor lagi dan tujuannya adalah Ayam Betutu khas Gilimanuk yang maknyus parah. Enak, mantep dan pecah parah sampe-sampe aku ‘terpaksa’ nambah porsi ayamnya, hehehe. Eits, tapi bukan ini kok tujuan utama kita hari ini karena petualangan masih akan berlanjut ke Bali selatan sana, ke Pantai Balangan. Tetep dengan bermodal waze di tangan, kita cus menuju selatan Bali dan lagi-lagi lewat tol laut Bali yang bikin melayang itu.

Friday, July 19, 2013

Museum Keluarga yang Kreatif dan Romantis, Ya Museum Affandi


Museum Affandi
Lamaaaaa banget pengen ngunjungin museum satu ini. Sejak nggak sengaja dapet info tentang museum ini dari seorang dosen sejarah kesenian di kampus, gelora di dada dan rasa penasaran untuk bisa lihat sendiri isi museum ini semakin membuncah. Ditambah lagi, tokoh satu ini menjadi obyek pilihan pertama yang tadinya mau gue apresiasi dalam tugas mata kuliah tersebut, meskipun gagal karena keduluan temen yang lain dan akhirnya dapet Popo Iskandar.  Yap! Bener banget lah, nggak usah bikin tebak-tebakan karena di judulnya juga udah keliatan kalo gue pengen ngulas tentang kunjungan ke Museum Affandi beberapa waktu lalu.

Punya pacar orang Jogja (meskipun darahnya bukan Jogja Aseli) jadi nilai lebih buat gue yang doyan jalan-jalan dan pengen nyari sesuatu yang beda dari jalan-jalan itu. Apalagi doi juga demen banget sama yang namanya jalan-jalan bin ngebolang binti hangout bahasa kerennya. Doi paling tau kalo udah diajakin jalan, pasti yang pertama kali keliatan itu senyumnya yang selalu bikin rindu itu. Huss..apaan ini jadi sosweet gini guenya. Bisa jadi ini efek dari museum yang mau kita kunjungin ini, bisa jadi bisa jadi bisa jadi…!!!

Friday, May 17, 2013

Skripsi vs Pacar, Mana yang Paling Benar?


Skripsi lo... | Sumber gambar: hamdandesign.net
Saat menjadi mahasiswa, banyak hal menyenangkan bisa lo dapet. Pengalaman, teman, ilmu, keterampilan, sampai ke gebetan atau pacar juga bisa aja lo dapetin. Seiring waktu berjalan, hingga sampailah sang mahasiswa menjadi “mahasiswa tingkat akhir” yang punya momok menakutkan bernama skripsi, tugas akhir atau apalah itu namanya. Istilah di kampus gue buat tugas akhir mahasiswa tingkat akhir jenjang S1 itu ya skripsi.

Skripsi menjadi semacam dementor yang gemar mencium dan menyedot hawa kebahagiaan dari orang-orang. Kalo dalam kasus ini ya itu tadi, mahasiswa tingkat akhir. Ketika mengerjakan skripsi, banyak masalah yang sering muncul. Mulai dari uang saku menipis, teman yang satu-per-satu mulai nggak keliatan, orientasi hidup yang fluktuatif, pertanyaan dari ortu “kapan lulus? kapan wisuda?” dan masalah sama pacar.

Wednesday, March 20, 2013

Menantang Dosen Penguji di Sidang Skripsi

Kali ini gue tertarik untuk mereblog sebuah postingan dari forum sebelah. Alasan kenapa harus mereblog ini sederhana kok. Nggak tau kenapa, pas membaca trit ini di forum, adrenalin tiba-tiba meningkat, merinding. Alam bawah sadar gue tersentak. NAH! Momen yang sedang dialami oleh tokoh dalam trit ini sangat relevan dengan kondisi yang gue alami akhir-akhir ini. Ya, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang getol menyusun skripsi.

Ini postingan yang sudah seharusnya menjadi renungan buat gue khususnya dan semoga juga buat temen-temen semua yang senasip seperjuangan untuk meraih gelar sarjana. Gue yakin beberapa temen juga udah pernah membaca trit ini, karena bukan 'barang baru' memang.

Thursday, November 8, 2012

HPF in Action (on my youtube channel)

Hello, I'm totally a newbie on Youtube Channel. But I just wanna make everyone happy and entertained with my work. This is a song I dedicate to all Harry Potter Freak Indonesia.

Let's check this out and hope you enjoy it! 


Sunday, October 28, 2012

Seremonialitas Sumpah Pemuda


Sumber: search button from Twitter for Blackberry
Jangan bebani harimu dengan “sumpah pemuda” yang muluk-muluk. Mending yang simpel tapi konsisten dan komitmen pada apa yang diucapkan.

Hari ini di twitter begitu ramai twit yang mengutarakan pendapat mereka mereka mengenai Sumpah Pemuda. Apa mereka tahu maknanya atau tidak, itu urusan lain. Pokoknya lihat apa yang lagi rame, langsung deh ikutan. Twitnya pun bermacam-macam, mulai dari sekedar mengucapkan selamat hari sumpah pemuda, mengkritisinya, mengalaykan, bahkan menggalaui Hari Sumpah Pemuda pun ada.

Saya tertarik dengan twit seorang wanita yang cukup simpel tapi silakan dinilai sendiri. Demikian isi twitnya:
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Hari dimana para pemuda harus merealisasikan sumpah-sumpah mereka. Hayolooo…

Thursday, July 19, 2012

First Impression PKL di Perpustakaan Freedom

Perpustakaan Freedom, sumber: jfkoernia.wordpress.com
Liburan gue semester ini lumayan berwarna loh temen-temen. Walopun gak ada proyekan perpus dan sejenisnya tapi ada hal lain yang bikin liburan ini terasa lain dari biasanya. Kali ini gue harus menjalani PKL (praktik kerja lapangan) yang itungannya termasuk telat daripada temen satu jurusan seangkatan gue. Yang lain pada udah PKL di liburan semester empat, sedangkan gue baru bisa di semester enam. Udah deh gausah curhat kenapa gue ngambil PKL di semester enam ini ya, yang penting bisa aja. Hehe

Gue dapet tempat PKL di Perpustakaan Freedom, Freedom Intitute, Menteng, Jakarta Pusat, tau kan? Beberapa dari kalian pasti ada yang tau deh kalo udah pernah kesana atau paling gak pernah gak sengaja nemu di site-site internet. Ya, di situ gue PKL selama lima minggu terhitung mulai 9 Juli sampai 10 Agustus 2012. Sekarang udah berjalan sekitar satu setengah minggu dan emang sih belum banyak yang gue dapet dan gue pelajari di sana secara teori. Tapi banyak juga pengalaman lapangan yang gue temukan selama beberapa hari belakangan di sana.

Hari pertama gue masuk (10/07), Mas Wahyu (Kepala Perpustakaan Freedom) langsung menjadi tutor gue dan beliau menunjukkan karakteristik unik sebagai seorang kepala perpustkaan. Beliau ini menurut gue adalah sosok yang professional dalam kerjaan tapi bisa santai sesuai dengan tempatnya. Intinya beliau ini sosok yang pandai menghadapi dan menempatkan diri dalam berbagai situasi. Ada kan orang yang suka gak nyante waktu kita lagi nyante, gak bisa serius pas lagi serius. Nah, kalo Mas Wahyu ini sebaliknya.

Lalu ada Kak Shella, dia ini ternyata senior gue di kampus. Dia angkatan 2005 dan pantes aja gue gak ketemu pas waktu dulu ospek soalnya gue masuk si doi wisuda. Kalo Kak Shella ini, yang pasti cantik iya, baik iya, dan rekan-rekan yang lain sih bilangnya dia gendut tapi menurut gue sih gak gitu-gitu amat kok. Haha. Sebenernya banyak yang mau gue tanyain ke dia tentang manajemen Perpustakaan Freedom, tapi kayaknya dia ini sosok yang ketika gue tanya, gue harus punya cara yang tepat dalam bertanya sehingga jawabannya pun bisa komprehensif. Nah, gue lagi berusaha nyari metode yang tepat. Kebetulan doi di bagian promosi perpustakaan, dan gue masih beberapa waktu lagi masuk di bagian itu untuk mengeksplor lebih jauh .

Di bagian dokumentasi dan audio visual ada Mas Rian dan Mas Aco. Kalo Mas Rian ini sosok yang open banget sih kalo menurut gue. Dia banyak cerita tentang perjalanan hidupnya dari jaman kecil, sekolah sampai dia bisa direkrut oleh direksi Freedom Institute untuk jadi staf dan masuk di Perpustakaan Freedom. Dia termasuk yang bisa menyirami rohani gue dengan kisah hidupnya. Gue cukup nyaman kalo ngobrol dengan dia. Sosok ayah yang baik dan bisa mengayomi anaknya.

Kalo Mas Aco, gue sih belum bisa begitu tau karakternya. Yang jelas dia itu spesialis terjun di lapangan dalam hal kerjaan. Dia banyak pengalaman kerja outdoor dan seorang gadget maniac. Kalo ada barang baru, tanya dia deh pasti bakal update. Secara dia kan di bagian dokumentasi jadi ya banyak berhubungan dengan gadget-gadget gitu.

Yang gak kalah pentingnya di Perpustakaan Freedom ini adalah bagian kearsipan yang dipegang oleh seorang kakak cantik, Kak Ayu. Dia tiga tiga-empat tahunan lebih tua dari gue, tapi karena badannya yang kecil jadi tetep keliatan lucu-lucu gimanaaa gitu deh. Hehe. Gue juga belum banyak ngobrol sama doi, justru gue rasa dia yang mencoba membuka obrolan sama gue tapi bingung juga apa yang mau diobrolin. Oke, menurut gue sebenernya Kak Ayu ini sosok yang mudah diajak ngobrol asal gue punya topik aja. Tentunya nanti pas gue di bagian kearsipan ini bakal banyak ngobrol sama doi. Semoga bisa dapet banyak pengalaman tentang kearsipan dan preservasi bahan pustaka dari Kak Ayu.

Terakhir ada spesialis fotokopi dan dedengkot Perpustakaan Freedom, Mas Ujang. Beliau ini sudah bekerja di Perpustakaan Freedom sejak institusi ini berdiri pada tahun 2002. Pengalamannya di bidang perpustakaan, khususnya bidang pengolahan cukup mumpuni . Beliau lumayan hapal loh koleksi-koleksi yang dimiliki Perpustakaan Freedom. Menurut gue, beliau ini sosok pustakawan yang banyak ditempa oleh pengalaman di lapangan bukan Cuma dicekoki teori-teori di kelas. Gue masih harus banyak belajar dari beliau.

Tiga minggu ke depan, gue harus bisa banyak belajar dan lebih banyak menimba pengalaman dari tutor-tutor gue di atas. Gue gak mau stigma negatif dari temen-temen gue yang bilang kalo PKL itu cuma bakal jadi kuli dan gak bisa banyak belajar dari sana terjadi juga sama gue. Gue harus mematahkan stigma itu dan membuktikan bahwa PKL di dalam negeri pun bisa dapet ilmu gak kalah banyak daripada di luar negeri. Kita juga banyak stok pustakawan dan perpustakaan berkualitas kok, tinggal pinter-pinternya kita aja buat menemukan tempat dan orang yang tepat untuk belajar.

Tuesday, May 8, 2012

Perhimak Ui Fest 2012: Kebersamaan dalam Sebuah Gelaran Budaya

Salah satu pertunjukan di Perhimak UI Fest 2012

Dewasa ini, istilah kebersamaan telah mengalami pergeseran makna seiring pergerakan arus zaman. Ada yang mengartikan kebersamaan sebagai sesuatu yang baik (dalam artian positif) ketika diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang konstruktif, missal dalam gotong-royong, guyub-rukun, wadah-wadah social kemasyarakatan dan kemanusiaan, dan sebagainya. Namun, pelak ada pula yang memberikan definisi negatif pada kebersamaan ketika terminologi ini direfleksikan dalam bentuk-bentuk yang dekonstruktif, semisal kelompok demonstran yang anarkis, kelompok separatism berdalih kebersamaan, kumpul kebo atas nama kebersamaan, dekaka.

Fenomena itu mengusik sanubari pemuda-pemudi kreatif masa kini untuk kembali meraup makna kebersamaan kembali pada terminology awalnya. Berbekal semangat kebersamaan, paguyuban mahasiswa daerah yang menamakan dirinya sebagai Perhimak UI merangkul paguyuban-paguyuban mahasiswa daerah di UI untuk mengadakan sebuah festival budaya bertajuk “Pelangi Budaya Nusantara”.

Eva, sebagai moderator talkshow
Diikuti oleh 15 paguyuban daerah dan didukung oleh lebih dari 20-an paguyuban lain, event yang berjudul “Perhimak UI Fest, Our Culture Our Pride” sukses terselenggara pada Sabtu (5/5) kemarin. Bertempat di Aula Utama Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, event tersebut cukup menarik antusiasme pengunjung yang datang. Didapuk sebagai visioner, Perhimak UI berusaha mengonsep acara yang luar biasa dan bermakna. Selain festival budaya yang berupa pertunjukan seni dari masing-masing paguyuban daerah yang terlibat, juga ada diskusi dan talkshow seputar pengembangan potensi daerah untuk kemajuan bangsa yang menghadirkan pembicara diantaranya Tukimin (perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata), Khamami (Ketua Perkumpulan Pedagang Nasi Goreng Jabodetabek), Widio (Ketua Forkat Asrama UI 2010) dan dimoderatori oleh Maya Ayu Permata Sari (4th Runner-up Putri Pariwisata Indonesia 2009) dan Eva Septriani Sianipar (4th Runner-up Putri Pariwisata Indonesia 2011).


Maya Ayu Puspita Sari
Tidak kalah menarik, di luar aula juga ada booth pameran fotografi hasil seleksi kompetisi yang bertema “Potensi Budaya Daerah yang Terpendam”. Teras aula juga tak ketinggalan menjadi ajang bagi paguyuban daerah unjuk aksi membuka bazaar kuliner, pernak-pernik dan kerajinan khas dari daerahnya masing-masing.

Festival budaya daerah yang berlangsung dari pukul 8.00 WIB pagi ini diakhiri dengan presentasi final dari 3 tim business plan yang lolos tahap seleksi awal. Tema business plan ini pun tidak jauh dari “Pengenmbangan Potensi Daerah untuk Kemajuan Ekonomi”, karena itu memang jadi focus acara ini.

Tiba di penghujung acara saat pemenang kompetisi dari masing-masing kategori diumumkan, mulai dari kompetisi fotografi, lomba karikatur, business plan hingga apresiasi untuk paguyuban dengan penampilan dan pertunjukan terheboh. Kebersamaan yang harmonis dan energy positif melingkupi segenap partisipan yang telah menyukseskan acara ini dari awal hingga akhir. Keyakinan kami, generasi muda, semakin mantap bahwa budaya adalah sesuatu yang dapat menyatukan manusia di balik keberagamannya. 

Ke depannya, semoga event serupa bisa digencarkan lagi untuk menggugah dan melestarikan kembali budaya daerah dan semangat kebersamaan bagi pemuda-pemudi bangsa. Tentunya dengan persiapan yang lebih matang, baik dari segi dekorasi, tata panggung, stand, bazaar, booth fotografi yang lebih menarik dan sebagainya.

Culture is us.
We make it.
We shape it as we love it to be.

Tuesday, February 21, 2012

Persiapan Skripsi, So What?

Masih setengah-setengah rasanya gue kuliah semester ini. Berangkat masih telat mulu (kalo yang ini mungkin dari sononya), kalo pagi rasanya pengen aja tidur terus, di kampus pun masih males-malesan. Minggu lalu aja gue baru masuk 1 kelas doang dari total 7 kelas yang gue ambil semester ini. So, pertemuan pertama yang jadi first impression dengan dosen-dosen dan mata kuliah gue semester ini gak dapet sama sekali, dalam artian gagal caper nih. Haha.

Sampai akhirnya tadi, hari kedua di minggu ini yang bisa dibilang hari Selasa tanggal 21-2-12 (maksudnya 20 Februari 2012) pukul 13.13 tepat saat dosen Metodologi Penelitian Dasar Ilmu Informasi masuk dan akhirnya memberikan semacam warning buat penghuni kelas itu yang notabene angkatan 2009 semua (plus 3 makhluk dari angkatan 2008 yang ikutan masuk tan[a gue tahu alasannya apa). Sebut saja namanya Bu Ike, dosen metolit gue dari semester lalu ini. Beliau tipe dosen yang cukup disiplin tapi bukan itu inti yang mau gue bicarakan.

Jadi, hari ini beliau memberikan materi (kalau bisa dibilang begitu) tentang isu, topik, dan masalah penelitian yang nantinya akan menjadi dasar penyusunan skripsi. Dan! hari ini juga seluruh penghuni kelas harus bikin 'tiga macam' itu. Secara, gue agak bingung tadinya harus milih isu, topik dan masalah apa, begitu juga temen gue yang lain deh kayaknya. Sampai akhirnya gue kepikiran tentang 'kerjaan' gue semester lalu di mata kuliah yang sama tapi beda grade ini. Gue menyampaikan isu gue yaitu tentang sistem temu kembali informasi dan setelah penjelasan beliau berikutnya ternyata gue dapet koreksi bahwa isu yang gue angkat itu terbalik dengan topik yang seharusnya yaitu manajemen perpustakaan. Yah, akhirnya dapetkan itu isu dan topik. Penghuni kelas yang lain akhirnya paham juga tentang 'dua hal' ini dan berhasil menentukan isu dan topik mereka masing-masing.

Masalah muncul lagi dan bertepatan dengan penentuan masalah penelitian pula. Kompleks abis ya, gak nyangka gue kalo skripsi itu bakal serumit ini, (kalo dibikin rumit). Dari penghuni kelas pertama yang ditanya oleh Bu Ike, Azmi, ternyata dia belum begitu paham tentang masalah penelitian sampai harus dapet pemahaman yang berulang-ulang dari bu ike. Berjalan dan bergulir, giliran pun sampai pada temen ketiga di sebelah kiri bangku gue, sebut saja namanya Tejo. Dia mengungkapkan tentang masalah penelitian yang akan diangkat. Agak terbata tapi ternyata mendapat 'sambutan hangat' dari Bu Ike, walopun ya masih dapet koreksi dikit tentang penjabaran masalahnya. Angin segar nih, gue juga harus bisa memutar otak. Sebenernya gue udah cukup lama memikirkan topik dan masalah yang mau gue angkat di skripsi nantinya tapi selalu masalah penyampaian dan pengutaraan yang susah.

Di akhir, tidak begitu mengecewakan akhirnya gue bisa menentukan masalah penelitian dengan 'biasa aja' sih kalo kata gue, yaitu pengolahan koleksi video program berita di stasiun tv x mulai dari proses pengndeksan, pengatalogan sampai pada tahap penelusuran dalam rangka ketepatan dan kecepatan akses temu kembalinya. Ya, itu, dengan niat baik, bismillah semoga gue konsisten dengan isu, topik dan masalah penelitian tersebut. So, semoga skripsi gue besok bisa lancar, minimal mata kuliah ini bisa berjalan dengan semestinya dengan hasil yang maksimal.

Skripsi? So what, guys? Kita pasti bisa.
Buat JIP 2009, semangat ya. Kita semua satu angkatan harus lulus tepat waktu. Amin.

Depok, 21 Februari 2012

Wednesday, January 4, 2012

Gue dan Deadline

Introduction to Korean history exam has been executed!
Syukurlah, kelar juga tugas take home korea, setelah semaleman begadang demi tugas ini. Emang kebiasaan sih, tipe-tipe deadliner macam gue ini kalo ngerjain tugas apapun itu, walaupun udah lama dikasih tugas dan ngerjainnya pun sebenernya udah mulai dari kemarin-kemarin, tapi tetep saja malam sebelum hari H adalah malam paling indah buat nyelesein semua tugas itu.


Hmm, ya gak tau juga ya. Cuman rasanya kalau ngerjain dengan cara deadline itu rasanya lebih menantang dan inspirasi semuanya bakal keluar disitu. Kreativitas kita muncul dengan jor-joran banget pas malem menjelang pengumpulan tugas itu. Ide-ide segar dan mantep begitu lancar mengalir bak banjir lahar dingin hasil erupsi gunung merapi (oke ini lebay..trims). 


Selain itu, pengaruh temen juga sangat dominan disini. Istilahnya efek pergaulan juga sih, jadi kita jadi suka menunda-nunda lkerjaan atau tugas karena waktunya masih lama. Contohnya nih temen gue bilang gini, "Santai lah sob, baru tanggal 3 ini, kan ngumpulinnya tanggal 10, masih lama lah. Tiga bab proposal semalem juga kelar ngerjainnya." (kasusnya, kita dikasih tugas bikin proposal skripsi atau proposal penelitian sampai bab 3 dan harus dikumpulin maksimal sampai tanggal 10 januari ini). Nah, mantep kan? Itu sering deh terjadi dan gue yakin gak cuma sama gue tapi kalian juga pernah ngerasainya atau malah emang kalian seperti itu? Atau lebih parah? (udah deadliner, kerjaan tinggal copaste doang lagi) 


Sebenernya jadi orang dengan tipe deadliner seperti ini gak salah dong. Itu kan pilihan hidup (ciee, semacam pembelaan diri). Tapi ya emang demikian, selain memacu adrenalin secara kita dituntut menyelesaikan tugas dengan batasan waktu minimal, kita juga nantinya dituntut untuk bertanggung jawab dan menerima segala hasil dari kerja deadline kita. Ya iyalah mungkin kualitas kerjaan antara deadliner dan beginner akan berbeda dan berpengaruh juga pada nilai yang didapatkan. Tapi kalo gue sih, prinsipnya, walaupun gue berperan sebagai deadlier sejati, tapi gue selalu berusaha memberikan dan mengerjakan yang terbaik. Jadi apapun nilai yang gue dapet nantinya, gue akan tetep bersyukur. Dan satu lagi, yang jelas gue ngerjain sendiri dan gak copaste doang ye. ^_^

Wednesday, December 21, 2011

Mencoba Kepo Seputar Manusia = Teknologi

Muncul dalam benak gue pertanyaan-pertanyaan seputar teknologi. Selalu lewat twitter, yang gue anggap sebagai media sosial yang lumayan terbuka. Berawal dari tweet "Dalam keadaan 'sibuk', blackberry adalah benda yang 'paling' membuat gue gak produktif sepanjang masa", kemudian muncul pemikiran-pemikiran bahwa fenomena yang terjadi saat ini baik dikalangan generasi muda maupun yang sudah 'tua'. Blackberry yang merupakan produk dari teknologi menjadi semacam 'trigger point' baru dalam kultur masyarakat kita dewasa ini. Bagaimana tidak, jika kita melihat kenyataan bahwa orang menganggap bahwa teknologi (blackberry) sudah menjadi kebutuhan pokok yang mendasar dan harus mereka penuhi untuk mendukung kehidupan mereka.


Kemudian apa dapat kita simpulkan bahwa manusia saat ini sudah menjadi budak teknologi, yang notabene merupakan hasil dari budaya manusia itu sendiri? 
Ehm..pikiran gue sih gak sejauh itu, cuma disini muncul banyak pertanyaan yang semoga bisa menjadi perenungan bagi kita semua, yang sudah mulai terbuai dengan indahnya dunia teknologi tanpa mengurangi fungsionalitasnya.


Pertanyaan (renungan) untuk kita semua, Manusia = Teknologi ?

  • Teknologi = produk budaya manusia. Benarkah?
  • Kalo yang terjadi sebaliknya gimana? Manusia = produk teknologi?
  • Mungkin lebih tepatnya, manusia = korban teknologi ?
  • Atau...teknologi = mengorbankan manusia ?
  • Ehm...gimana kalau, manusia = mengendalikan teknologi / teknologi = mengendalikan manusia ?
  • Teknologi yang salah kaprah maksudnya gimana? Apa sama dengan struktur bahasa yang sudah kaprah? Apa hubungannya?
  • Hubungan antara manusia dan teknologi = pembeli dan pedagang ?
  • Pembeli menuntut kualitas terbaik, pedagang nyari untung = manusia dan teknologi ?
  • Kalo, manusia dan teknologi = budak dan majikan, hubungannya gimana ?
  • Doktrinasi teknologi pada manusia itu seperti apa ? 
  • Teknologi = tuntutan / teknologi = menuntut ? Manusia = penonton ?
  • Manusia = buta teknologi / teknologi = membutakan manusia ?
  • Manusia = tidak bisa hidup tanpa teknologi / teknologi = mati tanpa manusia ?
  • Teknologi = perkembangan zaman / manusia = perkembangan teknologi ? Jadi, manusia tidak bisa lepas dari teknologi ?
  • Teknologi = membutakan manusia. Buta = tidak melihat / tidak mau melihat ?
  • Teknologi = kebutuhan ? Perlu tinjauan lebih lanjut sepertinya mengenai definisi teknologi.
Beberapa respon dari tweeps (istilah untuk pengguna twitter)
  • Teknologi itu berkembang sesuai kebutuhan manusia, artinya teknologi ada karena manusia butuh.
  • Teknologi membutakan manusia.
  • Teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
  • Manusia = budak teknologi.
  • Teknologi membutakan manusia (tidak melihat bukan tidak mau melihat), kalu tidak mau melihat terlihat sengaja. (?)
  • Masyarakat sudah terdoktrinasi oleh teknologi.
  • Dalam teknologi tidak ada yang dibutakan atau membutakan. Mati tanpa teknologi itu salah. Semua tergantung kebutuhan.
  • Dan respon-respon lain yang gue pikir mirip-mirip dengan yang diatas. Intiya sama.
Topik ini tanpa kesimpulan. Silakan menyimpulkan sesuai dengan pemahaman (pribadi) masing-masing. Semoga bisa jadi (pe) renungan untuk kita semua. Salam technooo...

Thursday, November 24, 2011

Fenomena Manusia Abad 21 (Part I, sebuah pengantar)


Akankah Neutrino Menggugurkan Einstein?
"JENEWA, KOMPAS.com - Adanya partikel yang bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya tampaknya semakin bisa dibuktikan. Laboratorium Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) baru saja melakukan eksperimen ulang tentang kecepatan gerak neutrino.
Hasil eksperimen tentang pengukuran kecepatan neutrino pertama kali diumumkan September 2011 lalu. Hasil menunjukkan bahwa neutrino bergerak 20 per 1 juta lebih cepat dari kecepatan cahaya. Para ilmuwan melakukannya dalam program Oscillation Project with Emulsion-tRacking Apparatus (OPERA), dengan cara menembakkan neutrino dari laboratorium CERN di Jenewa ke Gran Sasso National Laboratory, Italia, menempuh jarak 730 kilometer di kedalaman 1400 meter di bawah tanah.
Hasil penelitian itu membuat geger karena selama ini dunia fisika meyakini, sesuai pendapat Albert Einstein, bahwa tak ada partikel yang bergerak melebihi kecepatan cahaya yang sebesar 299.792 kilometer per detik atau dibulatkan menjadi 300.000 km per detik. Beberapa kalangan ilmuwan menanggapi skeptis.
Ekeperimen ulang yang telah mendapatkan hasil sesuai eksperimen awalnya. CERN mengumumkan hasil eksperimen ulang ini pada Jumat (18/11/2011) lalu. Mereka mengatakan bahwa eksperimen ulang dilakukan dengan jauh lebih teliti. Ilmuwan benar-benar melihat waktu awal saat neutrino mulai ditembakkan.
"Pengukuran detail dan melihat implikasi yang mendalam dalam fisika, membutuhkan ketelitian yang tinggi. Hasil postif membuat kita makin percaya diri," kata Fernano Ferroni, predisen Institut Penelitian Fisika Nuklir Italia seperti dikutip AP, Jumat
Dengan hasil penelitian ini, kemungkinan kebenaran hasil penelitian CERN semakin bisa dibuktikan. Jika satu saja lembaga penelitian di luar CERN yang berhasil melakukan eksperimen analog dan mendapatkan hasil yang sama, maka keberanaran tentang neutrino bisa dibulatkan dan implikasinya akan menggugurkan pendapat Einstein. Akankah neutrino menggugurkan Einstein?

Saya ingin melihat fenomena tersebut bukan untuk menganalisis, mengomentari atau bahkan membantah. Sekedar dalam taraf pemahaman saya sebagai orang sosial. Dunia sains adalah lembah dan hilir dari kehidupan alam jagat raya ini. Jika kita telisik lebih jauh, bagaimana segala gejala alam yang terjadi di alam ini seolah-olah selalu ingin dibuktikan secara ilmiah. Siapa pelakunya? Manusia. Benar, makhluk satu ini memang sebagai makhluk badani yang tidak dan selalu merasa ingin tahu. Pada hakikatnya memang demikian.

Relativitas setiap manusia memang berbeda dari tingkat kecenderungannya dalam menangkap dan memahami suatu fenomena. Ada yang hanya melihat segala hal dengan cara membuka mata saja, ada yang merasakannya sebagai sebuah komunikasi spiritual, ada pula yang memahaminya secara kontekstual. Kemudian pada taraf yang lebih implisit, mereka yang memahami segala gejala dengan semua indera yang dimilikinya.

Kepuasan. Satu hal yang tidak pernah manusia dapatkan di dunia ini. Tidak pernah satu orang pun di dunia ini yang akan merasa puas dengan apa yang ada dalam dirinya. Selalu meras kurang dan menuntut lebih. Itulah manusia. Mengapa saya mengambil artikel tentang eksak di atas padahal yang saya bicarakan justru menyimpang jauh dari penemuan terbaru CERN di atas. Sebuah anomali tengah berlangsung di sini. Ketika seseorang menganggap teorinya tak terbantahkan oleh argumentasi apapun, betapa mereka di luar sana tengah berjuang untuk mematahkan korelasi tersebut.

Terus belajar, dan .... (isi sesuai pemahaman masing-masing)

Saturday, October 22, 2011

UI Book Festival 2011

Depok - Pesan-pesan moral dalam keakraban sungguh terasa dalam serangkaian acara UI Book Festival 2011 yang berlangsung mulai 20-22 Oktober 2011 ini. Walaupun saya tidak terlibat secara langsung tapi disana saya banyak belajar. Belajar dalam banyak hal tentunya, dari mengamati persiapan, pelaksanaan sampai pada akhirnya nanti penutupan yang akan dilaksanakan hari ini.

Serangkaian acara ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia. Sebagai wujud nyata kepedulian mahasiswa khususnya dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui budaya gemar membaca, digagaslah kegiatan tersebut. Tidak cukup sampai disitu, kami juga mengadakan berbagai pelatihan, talkshow dan seminar berkaitan dengan dunia teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini.

Pada tahun ini, Book Festival mengusung tema “Read Books: Fly Your Imagination”, melalui tema ini kami ingin menantang seluruh masyarakat untuk berani berimajinasi dan mengembangkan imajinasinya. Selain itu memang kegiatan ini juga menyuguhkan berbagai acara yang pada intinya mengajak, mengampanyekan dan membudayakan gemar membaca dan literal culture kepada masyarakat. Acaranya meliputi talkshow arsip, seminar dan workshop tentang perpustakaan sekolah dan karir, lomba dongeng dan blog, dan yang tidak kalah menarik tentunya entertainment corner.

Menjadi daya tarik tersendiri juga bahwa rangkaian acara selama tiga hari ini diadakan di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia yang baru dan di area Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (FIB UI). Hal ini tentu menjadikan acara tidak membosankan dan juga fresh karena selain gedung perpustakaan yang baru cukup megah dan menarik untuk menarik minat dan antusias pengunjung.

Pada akhirnya, kami berharap semoga acara ini semakin baik kedepannya dan mendorong untuk menggali acara-acara yang serupa dan bermanfaat bagi generasi bangsa ini. 
x

Tuesday, October 18, 2011

Fenomena Freeport dan Jatidiri Bangsa: Sebuah Obrolan Kopi di Tengah Malam

Tiba-tiba teringat obrolan dengan teman satu kosan beberapa hari yang lalu. Obrolan yang cukup absurd, di tengah malam yang pada akhirnya tanpa kesimpulan apapun. Berawal dari obrolan seputar carut-marut kasus Freeport akhir-akhir ini. Seorang teman bertanya sebenarnya apa yang membuat Freeport itu datang ke Indonesia dan bisa dengan begitu welcome pemerintah pada saat itu menerima mereka tanpa pertimbangan-pertimbangan dari berbagai aspek?

Kemudian disitu mulai terjadi adu argumentasi. Waktu itu saya awalnya hanya berlaku sebagai pendengar kritis ceritanya. Kami berargumen dari berbagai sudut pandang dan latar belakang, di satu sisi dari aspek sains, di sisi lain dari aspek sosial masyarakat, dan saya mencoba mengaitkan di antara keduanya.

Seorang teman berpendapat bahwa Freeport datang ke Indonesia waktu itu karena kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Orde Baru, menyatakan bahwa digalakkanlah penanaman modal asing (PMA) yang ingin berinvestasi di Indonesia. Dia melanjutkan bahwa pada masa itu keadaan ekonomi Indonesia sangat terpuruk dan carut-marut sehingga diperlukan pemulihan dari segi ekonomi-finansial nasional. Salah satu cara yang ditempuh ialah dengan membuka peluang investasi terhadap aset-aset vital bangsa bagi para investor. Pada waktu itu perkembangan teknologi di Indonesia tidak memungkinkan dalam hal pengelolaan sumber daya alam (SDA), khususnya dalam bidang pertambangan. Oleh karena itu, keluarlah kebijakan bagi Penanaman Modal Asing  yang ingin mengelola sumber daya alam.Indonesia.

Kemudian muncul lagi pertanyaan, mengapa pada waktu penandatanganan kontrak dengan investor dulu hanya mencantumkan 'tembaga' dalam suratnya? Sedangkan pada kenyataannya, aset yang digali melebihi daripada itu, 'logam mulia emas' juga ikut di-eksploitasi habis-habisan. Seorang teman berargumen bahwa hal itu terjadi karena pemerintah tidak tahu dan tidak melibatkan para ilmuwan atau scientists dalam hal penentuan kebijakan atau penandatanganan kontrak kerja dengan Freeport tersebut. Lebih jelas lagi ditambahkan bahwa pemerintah membuat kebijakan secara tidak matang dari berbagai aspek. 

Argumentasi lain menegaskan bahwa disitu mulai tercium kecurangan politis dan ke-korup-an pemerintahan bangsa ini dari zaman dulu. Kemungkinan adanya politik amplop-isasi dalam pembuatan kebijakan kontrak kerja tersebut disinyalir begitu kuat. Pemerintah pada masa itu mudah diiming-imingi dengan amplop dan sejenisnya. Hal itu bisa jadi dampak juga dari keadaan ekonomi masyarakat pada masa itu. Selain itu juga karena dampak sistem pemerintahan terpusat yang begitu egaliter bagi masyarakat sekarang.

Akantetapi muncul sanggahan mengenai pendapat pertama dari seorang teman. Dia mengungkapkan bahwa tidak mungkin pemerintah tidak mencampur-tangankan para ilmuwan dalam menentukan kebijakan yang cukup vital. Dia berargumen bahwa, seperti halnya dalam sistem parlementer, dalam membuat satu kebijakan pasti akan melibatkan parlemen yang ada di dalamnya. Itu berarti jajaran menteri-menteri yang bersangkutan pasti dikaitkan. Dalam hal kontrak tambang Freeport ini, teman saya berasumsi bahwa pasti ada campur tangan dari Menteri Sumber Daya Alam dan Energi, Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Ekonomi dan sebagainya minimal atau yang berkaitan. Hal itu cukup beralasan tetapi menimbulkan pertanyaan kembali. Mengapa kebijakan yang muncul justru demikian? Hanya 'tembaga' yang tertulis bukan beserta mining product yang lain misal emas? Padahal jika itu dicantumkan pastinya akan membawa peningkatan ekonomi yang cukup signifikan masa itu ataupun sekarang yang kian memanas. Apa gunanya campur tangan para ilmuwan, ekonom dan lain-lain itu jika pada akhirnya tidak mampu menghasilkan suatu kebijakan dengan orientasi national prosperity.

Muncul lagi celetukan dari seorang teman, kemungkinan para menteri yang terlibat dalam penentuan kebijakan itu pada masa pendidikannya tidak 'benar'. Pernyataan ini cukup menggelitik sekaligus menarik juga untuk dibahas dari aspek historis personalitis para menteri itu. Kemungkinan para menteri itu dulunya juga mahasiswa seperti kita-kita ini yang katanya idealis, banyak menghujat kebobrokan bangsa di zamannya, aktivis, tapi satu catatan, normatif yang tidak bersubstantif.  Saya semakin bingung pada taraf ini, apa yang dimaksud teman saya dengan pernyataannya yang demikian. Kemudian kembali dia menjelaskan, kemungkinan mereka itu pada mulanya adalah orang-orang yang idealis dengan pemahaman mereka sendiri yang sangat goodies, tetapi pada akhirnya ketika sudah terjun di dunia nyata, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang ikut jalur, hilang ke-idealis-annya dan pada akhirnya terlepas dari kebebasan eksistensial yang dimilikinya dengan menjadi makhluk yang yes man.

Saya sendiri memahaminya di luar konteks di atas. Entah itu masalah Freeport, perseteruan blok Ambalat dengan Malaysia beberapa tahun silam, kasus Gayus Tambunan, Nazaruddin Zulkarnain, sampai pada isu yang sedang santer terdengar saat ini tentang reshuffle kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Semua itu tidak terlepas dari pribadi manusia itu sendiri. Pada hakikatnya kita, sebagai bangsa Indonesia, dewasa ini lebih senang menghakimi daripada introspeksi. Kita lebih suka menjadi komentator yang beradu argumen di depan layar kaca tentang suatu kasus. Kita lebih suka terkenal dengan ketenaran kita dan sebagainya. Akantetapi dibalik semua itu, kita lupa akan jati diri kita sebagai manusia. Kita sebagai makhluk berakal sekaligus berhati nurani dan juga memiliki kesadaran, seharusnya paham dan mengerti tentang hakikat hidup kita, apa yang kita lakukan dan kerjakan, dan mulailah menggunakan hati nurani sebagai hakim bagi diri kita sendiri tanpa mengesampingkan aspek rasio. Ketika semua itu berjalan dengan selaras seimbang, semoga nantinya kita sebagai generasi baru bangsa Indonesia, mampu dan siap untuk me-rekonstruksi bangsa ini menuju kesejahteraan bagi para penghuninya.

Giving thanks for my friends: Danang, Reda, Anis
Wish we are the best future generation for our nation, guys!

Thursday, March 31, 2011

Misteri Burung Hantu

Gadis 
Ngobrol

Sejak zaman dulu, cerita mistis seputar hewan malam ini sudah beredar dimana-mana. Apalagi ditambah dengan wujudnya yang cukup menyeramkan. Matanya yang bulat besar, serta tumpukan bulu di dahinya semakin menambah efek horror ketika melihat sosoknya. Bahkan di beberapa budaya, burung hantu dianggap sebagai simbol keajaiban. Seperti apa kisah seru di balik binatang yang lagi ngetop di dunia fashion ini?
  • Masyarakat Inggris percaya bahwa jika kita membakar telurnya hingga menjadi abu, bisa jadi ramuan untuk memperbaiki penglihatan. Begitu juga di India, jika kita memakan matanya, penglihatan kita akan membaik.
  • Budaya Yunani dan Romawi percaya kalau burung hantu adalah jelmaan dari penyihir yang suka menghisap darah bayi. Ada juga yang percaya kalau hewan ini bertugas menyampaikan pesan para penyihir. Ketika kita mendengar suaranya, itu berarti ada seorang penyihir yang mendekati kita.
  • Kabarnya, burung hantu adalah satu-satunya binatang yang bisa hidup dengan hantu. Jika kita melihat sarangnya bertengger di sebuah rumah kosong, bisa jadi rumah itu berhantu. Hiii.. Mungkin ini dia penyebabnya, kenapa dia dinamai burung hantu, ya?
  • Buat para traveler, ketika mereka bermimpi tentang burung hantu, itu artinya mereka diramalkan akan mengalami kesialan, seperti dirampok atau kapalnya karam.
  • Tapi nggak semua legenda tentangnya jelek, kok. Dalam legenda Afganistan, burung hantulah yang membawakan batu api dan besi kepada masyarakat Afganistan. Sehingga, mereka bisa membuat api.
  • Masyarakat Greenland bahkan percaya bahwa burung hantu adalah simbol kepemimpinan dan penolong.
Sedangkan di negara kita sendiri, kehadiran atau suara burung hantu bisa menjadi pertimbangan yang bagus saat akan bepergian ke suatu tempat.

Sumber: http://www.gadis.co.id