Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Tuesday, April 1, 2014

Kenapa Harus Jadi PNS?

Yakin jadi PNS?
Ceritanya, seorang ayah sedang pusing tidak kepalang. Bagaimana tidak, anak laki-lakinya yang sulung yang menjadi tumpuan cita-citanya menolak untuk jadi pengusaha. Anaknya bersikeras ingin jadi pegawai negeri. Alasannya sederhana menjadi pengusaha penuh resiko dan melelahkan, sementara jadi pegawai negeri kerjanya santai, uangnya pasti (meski tidak kerja serius dan sering bolospun gaji tidak berkurang), terus waktu tua dapat jaminan.

Bapaknya marah besar dengan alasan tersebut.

“Bapak ini pegawai negeri tapi bapak tidak bekerja dengan alasan seperti kamu.”, demikian suara keras sang Ayah.

“Bapak mengabdikan diri pada negeri ini meski bapak sering merasa asing di negeri sendiri…Bapak sering merasa tolol di antara para pemeras rakyat yang sah di mata hukum. Jadi pengusaha itu lebih mulia, kamu bisa membantu memberi nafkah orang lain…” bentak bapak.

Saturday, November 30, 2013

Absurditas Dua Sisi Kehidupan

Gambarnya nggak absurd kok, baca aja isinya...

Hari ini aku kembali tersentil dengan dua sisi kehidupan. Dua sisi kehidupan yang lama tak disadari dan kemudian mencoba menunjukkan eksistensinya ke permukaan. Dua sisi kehidupan yang berjalan beriringan dan seringnya timbul tenggelam beriringan pula. Terkadang satu sisi lebih eksis dan terkadang sisi satunya mencolok signifikan.

Dan hari ini dua sisi kehidupan itu muncul dan ingin eksis bersamaan. Fase yang sangat sangat membuat rasa dan asa seolah dipermainkan, diangkat kemudian dibanting dan pecah berkeping-keping. Aku sadar masih cukup lemah untuk dihadapkan pada fase ini. Entahlah, entah lemah atau aku yang belum siap.

Wednesday, November 13, 2013

Renungan tentang Kematian

Daun yang gugur tak pernah membenci angin 
Satu daun gugur dari pohon kehidupan.
Daun yang begitu hijau dan segar, dia jatuh tanpa angin yang meniupnya.
Perjalanannya di tangkai-tangkai dunia begitu sementara.
Siapa yang tahu, akan secepat ini…

Tuesday, November 12, 2013

Masalah dan Analogi Segelas Air

image: ryandutka.com
Nah ini ada cerita yang menurut saya asosiasinya oke untuk terus-terus diingat ketika lagi berhadapan dengan masalah. Semoga kamu dapat deep-insight...

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Steven Covey, pakar Leadership-7 Habits, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: seberapa berat menurut Anda segelas air ini?

Monday, May 20, 2013

Antara Pilihan, Takdir dan Usaha

Seringkali dalam hidup, kita dihadapkan pada suatu kondisi di mana itu adalah yang paling tidak diinginkan. Stress dengan kesibukan sehari-hari, bosan, penat, kecewa, sedih, marah, terkucilkan, diabaikan, rendah diri, hingga frustasi dengan hidup. Beberapa pernah gue alami, dan itu emang nggak enak. Kondisi di mana kita merasa begitu lemah, tak berdaya dan serba salah. Merasa semua yang kita lakukan itu salah di mata orang lain tapi dari kacamata kita sendiri. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kalo orang jawa bilang,”hanjuk aku kudu piye?”

Paling pertama sekali menurut gue adalah kita harus memahami hakikat hidup itu. Coba kita bertanya pada hati nurani sebenarnya apa yang menjadi alasan kita untuk hidup. Apa sebenarnya yang kita cari? Pentingkah hidup ini? Untuk apa kita belajar, bekerja, mengejar deadline untuk mencapai target dan sebagainya? Seberapa jauh kita mengenal diri kita sendiri? Benarkah kita punya tujuan? Bagaimana untuk mencapainya? Apakah tujuan itu memang benar-benar orientasi hidup kita? Atau ada orientasi lain yang tak terlihat tapi sebenarnya itu yang jadi tujuan kita hidup?

Thursday, April 11, 2013

Kontemplasi Absurditas Sisyphus karya Albert Camus

Parodi Myth of Sisyphus | distilleryimage
Sudah lama rasanya sejak terakhir kali membaca filsafat. Mungkin tiga bulan yang lalu ketika saya membaca Myth of Sisyphus-nya Albert Camus. Saya ingat waktu itu saya baca itu karena ada tugas dari dosen. Tugas untuk menganalisis berbagai macam karya sastra dengan dikontemplasikan pemikiran tokoh filsafat eksistensialis. Secara garis besar karya ini menceritakan tentang Sisyphus yang dikutuk dewa untuk menggelindingkan batu dari kaki gunung ke puncaknya. Berkali-kali pekerjaan itu dilakukan dan berkali-kali pula batu itu menggelinding ke kaki gunung. Kata para dewa, tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tanpa harapan.

Eksistensialisme Marcel dalam Libri di Luca: Bukan Resensi

Libri di Luca
Ada sekelompok orang yang menamakan dirinya Lector. Mereka adalah orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Orang-orang yang mampu memengaruhi orang lain lewat sebuah bahan bacaan yang dibacakannya. Memengaruhi orang tanpa mereka sadari. Memengaruhi pandangan mereka pada tulisan, tema atau hal lainnya. Bahkan bisa mengubah pendapat seseorang tentang sebuah masalah, semau mereka. Apakah ini kemampuan, bakat atau bencana yang bisa merugikan orang lain?

Diawali dengan kematian seorang pemilik toko buku terkenal di distrik Vesterbro, Kopenhagen, perjalanan kisah ini bermula. Libri di Luca, nama toko buku tersebut. Toko buku legendaris milik keluarga pecinta buku, Campelli. Luca Campelli adalah generasi kesekian yang mewarisi harta berharga tersebut sebelum akhirnya meninggal di toko buku miliknya karena—menurut banyak pendapat—terkena serangan jantung. Dia juga seorang Lector. Sepeninggalnya, kepemilikan Libri di Luca kemudian jatuh ke anak Luca satu-satunya yang berprofesi sebagai pengacara, Jon Campelli.

Tuesday, April 9, 2013

Sisi Gelap Manusia

meski berkali-kali kukatakan dan kuyakini
bahwa manusia adalah gudangnya khilaf
namun cibiran tetap menohok sinis
sembari bisik-bisik lewat pintu belakang
merendahkan menghina dan segala kata usil

tapi tak mengapa
sebab manusia memeang cenderung diperbudak nafsunya
dan memperbudak sesamanya
pemuda manislaku di muka kedua orang tuanya
yang ternyata berjalan mengitari pusat perbelanjaan
mencari mangsa perempuan tua yang nampak berpunya

Friday, March 22, 2013

Renungan Nakal di Penghujung Hari


Sumber: wallpaperswala.com
Merasa lemah bagi manusia ialah sesuatu yang wajar bagi makhluk angkuh laiknya manusia. Lemah tak kenal gender. Lemah tak pandang usia. Lemah tak peduli jabatan. Lemah tak perlu batasan terestrial. Everybody’s going to be weak whenever they want to. Mmm I’m sorry, it should be weird but yea, whenever they will, it will... Seseorang bisa merasa lemah atau sekedar lemah biasa atau memang benar-benar dia orang lemah. That’s no prob, guys. Any difference? It’s all about W E A K.

Suatu ketika, di sebuah bilik sempit di tepi rel kereta, seorang pria bersenandung dengan diiringi alunan cello gitarnya. Dari bibirnya yang kering terlantun irama-irama In My Life-nya The Beatles. Nadanya tak begitu jelas dan artikulasinya juga begitu payah. Dia hanya tampak seperti bergumam alih-alih bernyanyi. Satu-satunya hal yang membuatnya terdengar melantunkan In My Life itu adalah dentingan gitarnya yang mantap. Dia memainkannya dengan hati. Entahlah, aku tiba-tiba bisa merasakan apa yang pria itu rasakan. Dia sedang mengutarakan rindunya. Lewat dentingan senar akustik, dia mencoba mengirimkan ungkapan-ungkapan rindunya entah pada siapa, atau apa.

Friday, January 11, 2013

Refleksi Pendaki

 
Refleksi pendaki. | foto: ambarr
"Seorang pendaki, sejatinya tidak sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi yang menusuk ke langit, melainkan ia sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi dirinya sendiri sebagai manusia"

Demikian kata-kata yang saya kutip dari sebuah blog milik salah satu merek rokok ternama di Indonesia. Sepertinya tidak salah apa yang dikatakan oleh kalimat itu. Ketika mendaki sebuah gunung, tidak hanya sekedar puncak tertinggi yang kita taklukan, tetapi juga puncak tertinggi dalam diri kita.

Kesombongan, ego, kejumawaan, ketidakpedulian, keangkuhan, perasaan selalu paling benar, kepongahan, rasa rendah diri, ketidakpuasan, keterpurukan, ketidakberdayaan, kelemahan, ketidakmenghargaian, ketidakhormatan, keterasingan, semuanya yang sejatinya sedang kita kita taklukan dalam setiap pendakian-pendakian pucuk-pucuk tertinggi yang menusuk langit itu.

Salam lestari. Selamat mendaki!

Wednesday, December 26, 2012

Prometheus dan Kierkegaard: The Truth is Subjectivity


Soren Kierkegaard & Prometheus (movie)
Film hasil karya sutradara terkenal Scott Riddley ini membawa genre fiksi ilmiah. Prometheus diawali dengan adegan yang menurut saya membingungkan maksud dan tujuannya sampai akhirnya bisa dimengerti setelah pertengahan film. Bagian tersebut menceritakan tentang proses penciptaan manusia, bahwa mereka diciptakan dari medium tanah dan air. Kemudian logika membawa pemahaman pada adegan awal film ini yaitu bahwa untuk menciptakan kehidupan baru yang ideal harus dengan menghancurkan kehidupan yang lama. 

Ada Camus di “Malaikat Juga Tahu"-nya Rectoverso

Foto Albert Camus dan Novel Rectoverso karya Dee Lestari
Mengubah rutinitas itu sama saja dengan menawar bumi agar berhenti mengedari matahari.

Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.

Dewi Lestari atau Dee adalah seorang penulis cerdas yang dalam setiap karyanya selalu tidak hanya unsur sastra yang diketengahkan. Dia bisa meracik adonan dari berbagai bidang ilmu ke dalam sebuah karya sastra yang luar biasa kontemplatis. Pemikiran fiktif, sains, kimia, sosiologi sampai filsafat adalah tema-tema yang menjadi ranah garapan karya-karyanya. Dia selalu bisa menjadi seorang yang saintis, humanis, sosialis, dan filosofis dalam karya-karya yang sederhana dan rumit dalam satu paket. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah sebuah karya hibrida gabungan buku dan musik, Rectoverso.

Friday, December 14, 2012

Dapatkah Thou kembali menjadi It?


I and Thou | gambar: gfxtra.com
Pandangan filsafat Martin Buber tertuang dalam sebuah buku, yang tidak terlalu tebal untuk sebuah buku filsafat, berjudul I and Thou. Pandangan utamanya dalam buku ini menyatakan bahwa awal dari segala sesuatu adalah relasi. Manusia hidup dalam relasi. Baginya, all real living is meeting, manusia akan hidup terisolir jika tanpa melakukan relasi apa-apa. Relasi yang pertama adalah I-It, dan yang kedua adalah I-Thou.

Absurd Hero dalam Mythe of Sisyphus

Sisyphus | gambar: photobucket.com

Di dalam “Mythe of Sisyphus” karya Albert Camus, ada bagian yang membahas mengenai manusia absurd. Pada bagian ini, Camus menginterpretasikan atau lebih tepatnya merefleksikan pemikirannya tentang absurditas dalam tiga kisah menarik. Kisah-kisah ini memberi pemahaman rumit tentang manusia absurd itu. Saya merasa ikut menjadi absurd atau mungkin sayalah absurd hero itu ketika membaca ke-absurd-an pemikiran Camus dalam tiga kisah manusia absurd tersebut.

Wednesday, December 12, 2012

Kafka yang Gagal Bercinta

Milena Jesenska | yadvashem.org
Beberapa hari yang lalu saya diajak berdiskusi dengan seorang dosen filsafat. Topik yang kami bicarakan seputar 'cinta'. Wah ini menarik, pikir saya. Makanya saya mulai terlarut dalam obrolan demi obrolan sambil minum segelas blue squash. Kami membicarakan seputar Kafka. Kenapa Kafka? Saya juga kurang begitu ingat bagaiman awal mula membicarakan Kafka. Jelasnya, tadinya ngomongin seputar kafe dan tiba-tiba muncul nama "Milena Cafe".

Milena ini nama yang tak asing bagi para pecinta karya Kafka tentunya. Obrolan berlanjut dan yang saya dapat justru identitas dan sejarah Kafka.

Sunday, October 28, 2012

Seremonialitas Sumpah Pemuda


Sumber: search button from Twitter for Blackberry
Jangan bebani harimu dengan “sumpah pemuda” yang muluk-muluk. Mending yang simpel tapi konsisten dan komitmen pada apa yang diucapkan.

Hari ini di twitter begitu ramai twit yang mengutarakan pendapat mereka mereka mengenai Sumpah Pemuda. Apa mereka tahu maknanya atau tidak, itu urusan lain. Pokoknya lihat apa yang lagi rame, langsung deh ikutan. Twitnya pun bermacam-macam, mulai dari sekedar mengucapkan selamat hari sumpah pemuda, mengkritisinya, mengalaykan, bahkan menggalaui Hari Sumpah Pemuda pun ada.

Saya tertarik dengan twit seorang wanita yang cukup simpel tapi silakan dinilai sendiri. Demikian isi twitnya:
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Hari dimana para pemuda harus merealisasikan sumpah-sumpah mereka. Hayolooo…

Friday, September 21, 2012

Paradoks*


Paradoks terjadi di mana saja. | sumber: the-markteers.com
Banyak hal yang kadang tidak sesuai dengan apa yang di awal sudah kita rencanakan. Di saat seperti itu, kita hanya harus tetap tawakkal, semoga setiap hal yang terjadi di hidup kita memang itu yang terbaik. Tuhan memberikan setiap hembusan nafas yang kita keluarkan bukan tanpa tujuan. Dia punya maksud tersendiri bahwa kita harus bisa mengoptimalkan setiap hembusan nafas kita dengan selalu mengingat-Nya.

Sering kita merasa kecewa karena apa yang kita peroleh tidak seperti yang kita harapkan. Ketahuilah karena memang manusia tak ada kata puas. Selalu menuntut lebih, selalu mengharapkan yang terbaik tapi kurang merespon pada diri sendiri. Sudah seharusnya kita melihat ke dalam, jangan hanya menuntut setiap output-input saja. Bahwa di antara dua elemen itu ada yang namanya proses. Sudahkah kita berlaku optimal dalam memproses setiap output yang kita terima?

Sungguh naif ketika orang menganggap bahwa orang lain tidak lebih baik dari kita. Merasa paling benar, paling sempurna dan merasa paling berkontribusi. Setiap komponen dalam hidup memiliki keterkaitan yang paralel. Tidak semudah itu mengatakan bahwa kita yang paling berperan dalam suatu hal. Pasti ada komponen lain yang menjadi faktor x dan faktor y bahkan faktor-faktor lain niscaya muncul dengan sendirinya.

Benar bahwa manusia memang makhluk paling sempurna di antara semua makhluk di muka bumi ini. Sekaligus makhluk yang paling tidak sempurna dalam mengelola dan memanfaatkan kesempurnaannya. Banyak dari kita yang merasa selalu kurang padahal dirinya berkecukupan  bahkan lebih. Ada pula sebaliknya. Dunia dipenuhi oleh segala hal yang paradoksial.

Hal kecil dibesar-besarkan. Hal besar dianggap tak ada dan lebih parah lagi menganggap bahwa sudah tidak ada lagi korelasi antara otak dan rohani. Ketidaksinkronan itulah yang pada akhirnya menghasilkan pola pikir pendek dan absurd yang berbuntut pada keputus-asaan, kegalauan dan merasa disia-siakan.

*Curahan hati seorang sahabat, aktivis, penulis kolom sekaligus kakak gue.

Jakarta, 21 September 2012
Bunker Perpustakaan UI

Tuesday, September 11, 2012

Eksistensi Individu, Manusia


Ikan eksistensialis.
What you are is the result of your choices rather than the reversed. 
You are what yourself to be!

Siapa yang tidak sependapat dengan kata-kata di atas? Coba tunjuk jari? Ada juga tuh yang bilang kalo you are what you are. Keduanya itu sangat jauh berbeda secara pengertian dan hakikat ekstensialis seorang insan. Sebenernya lo mau ngomongin apa sih, mbar?

Manusia hidup, tumbuh dan berkembang hakikatnya didasarkan pada pilihan. Pilihan-pilihan itulah yang menjadikan manusia menjadi manusia dan ada secara eksistensinya. Manusia yang eksistensialis adalah mereka yang berani membuat pilihan dalam hidupnya. Hidup manusia tidak mungkin hanya berjalan sebagaimana mestinya. Apa gunanya manusia diberi akal pikiran jika tidak digunakan dalam hal rasio dan penalaran secara harfiah maupun substansial.

You are what yourself to be. Setiap orang memiliki kemampuan dalam hal memilih. Bagaimana ia harus melangkah, menjalani hidup, memaknai setiap jengkal perjalanan, menghembuskan napas untuk kehidupan, memandang setiap fatamorgana, dan menjangkau segala hal di depan. Manusia bisa memilih. Memilih untuk bahagia, memilih untuk sukses, memilih untuk hal-hal lainnya.

Dunia tidak diatur kecuali oleh diri kita sendiri. Kita yang menentukan kemana kita akan menjadi dan melangkah untuk mencapai setiap pencapaian dalam hidup. Kecemasan muncul karena hidup yang hanya sementara. Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Tapi kadang ada orang-orang yang berkata bahwa dia ingin hidup lebih lama. Padahal sesungguhnya bukan tentang berapa lama kita hidup tapi bagaimana kita hidup. Hidup menjadi berharga karena kita tahu itu akan berakhir. Harus ada pencapaian dalam hidup sebelum kita meninggalkannya.

Kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa semakin lama kita hidup maka semakin lama kesempatan untuk bisa menjangkau setiap pencapaian. Menurutku, itu tidak masuk akal karena sungguh bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama biarpun masa hidupnya jauh berbeda. Hanya saja, beberapa orang tidak memilih untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di hadapannya dengan sebaik mungkin. Sedangkan beberapa orang yang lain sebaliknya.

Sekarang tinggal bagaimana kita menentukan diri kita masing-masing di masa depan. Akan menjadi seperti apa dan bagaimana. Setiap hal butuh proses, tidak ada yang instan. Bahkan untuk mie instan yang katanya instan, cara makannya pun harus dengan air panas yang notabene harus dimasak dulu. Jadi, jalani setiap proses hidupmu dengan usaha yang maksimal. Tentukan dari sekarang kalo kita harus bahagia di masa depan. Untuk bahagia, kita harus tahu caranya. Pelajari itu dan pilih dengan yakin! Jadi orang harus punya keyakinan!

Monday, July 30, 2012

Lelaki yang Ditunggu Dunia

sumber: montgomerytoday.blogspot.com
Saat ini dunia berharap pada para pria yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan mengikuti banyak pelatihan, mencermati perkembangan terakhir yang ada di dunia ini dan menganalisis berbagai peristiwa daripada mereka yang sibuk berhura-hura, pergi ke salon, menata rambut, mempermak wajah dan memperkaya aksesorisnya.

Dunia, jauh lebih berharap kepada seorang pria yang peduli akan lingkungannya, kepada permasalahan bangsanya, ketimbang pria yang menghabiskan uangnya untuk memepercantik kulitnya.

Haha, bentar-bentar…sebenarnya apa yang sedang kita omongin ya? Oiya, saya coba jelaskan, sebenernya kita sedang membahas tentang pria uberseksual. Apa itu? Emang tu juga istilah baru. Apa sama dengan pria metroseksual? Apa malah homoseksual? Uberseksual, kalau dengan istilah metroseksual ya hampir-hampir mirip lah tapi kalau dengan istilah homoseksual, hmmmm kayaknya jauh deh. Hahaha

Istilah uberseksual itu diciptakan oleh sosiolog Amerika, Marian Salzman. Ehmm, sebenarnya istilah metroseksual juga diciptakan olehnya dan dia pulalah yang membunuh sitilah eh istilah tersebut. Istilah ini berasal dari bahasa Jerman, ‘uber’ yang berarti ‘segalanya, unggul, superior’ dan bahasa latin ‘sexus’ yang artinya ‘gender’. Jadi lelaki uberseksual bisa diartikan sebagai ‘lelaki yang mempunyai sifat dan karakter unggul dan superior’.

Menurut Marian Salzman, lelaki uberseksual adalah lelaki yang menggunakan aspek positif maskulinitas, seperti kepercayaan diri, kepemimpinan dan kepedulian terhadap ohrang lain di kehidupannya. Pria ini lebih sangat peduli pada nilai-nilai dan prinsip hidupnya dan lebih memilih untuk memeperkaya ilmju dan wawasannya di sela-sela waktu kososng yang ia miliki. Nah, pada saat ini dunia membutuhkan sosok lelaki dengan karakter yang telah disebutkan di atas.

Saya akan mencoba mengambil anekdot tentang lelaki uberseksual dan metroseksual karena pengertian keduanya kadang disamakan tapi sebenarnya jauh berbeda.
Jika lelaki metroseksual membelanjakan uangnya untuk ke salon atau bersenang-senang di mall, pria uberseksual menginvestasikan uangnya di bisnis, lembaga social atau keagamaan.
Jika lelaki metroseksual lebih nyaman berada di gym untuk memebentuk ototnya, pria uberseksual lebih senang menjejakkan kakinya ke lumpur, berkutat dengan masalah erosi pantai.
Jika lelaki metroseksual memeperbincangkan masalah mode terbaru, pria uberseksual memeperbincangkan masalah moral yang makin parah di bangsa ini.
Jika lelaki metroseksual lebih memilih berhura-hura di akhir pekannya, pria uberseksual mendatangi perpustakaan untuk mengisi otaknya dengan berbagai wawasan.
Namun, walau mereka sekokoh karang dalam meyakini prinsip-prinsip hidupnya, mereka juga adalah pria-pria yang hangat dan tidak kaku. Mereka memang tidak menangis jika menonton sinetron-sinetron kacangan di TV atau ditolak oleh wanita yang dicintainya, tapi mereka akan menangis jika melihat ketidakadilan terjadi dimana-mana, atau sangat terharu jika ada bencana yang menghancurkan rumah-rumah penduduk yang miskin. Mereka begitu peduli dengan orangtuanya dan kawan-kawannya.

Itulah kualitas seorang lelaki uberseksual. Mereka kaya dan memanfaatkan kekayaannya untuk kebaikan dunia. Mereka tenar dan memanfaatkan ketenarannya untuk mengajak orang lain untuk berbuat baik. Mereka cerdas dan memanfaatkan kecerdasannya untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan dunia. Mereka stylish dan rapi, tetapi tidak berlebihan. Mereka berhati hangat tapi tidak cengeng. Mereka tidak hanya memikirkan penampilannya, keluarganya, atau bisnisnya, tetapi juga memikirkan bangsanya. Mereka memiliki mimpi-mimpi untuk dunia ini dan bekerja keras mewujudkannya. Itulah para lelaki uberseksual.

Itulah para LELAKI MASA DEPAN…

Mereka…adalah para lelaki yang ditunggu dunia….

Terimakasih:
Wahyu Awaludin dan Marian Salzman

Tuesday, March 13, 2012

Kalau

Kalau berusaha mengungkap kebohongan itu sulit, berusahalah untuk tidak membohongi diri sendiri.

Kalau jujur itu sulit, berusahalah untuk tidak berbohong pada diri sendiri.

Kalau menjadi manusia itu sulit, cobalah untuk memanusiakan diri sendiri.

Kalau melihat kesalahan orang lain begitu mudah, cobalah berkaca pada diri sendiri.

Kalau mengumbar nafsu begitu mudah, cobalah menasehati diri sendiri.

Kalau...


"Melihat kedalam diri sendiri sebelum mengomentari orang lain.
Bijaksana dalam bertindak, rasional dan jangan semena-mena. "