 |
| sumber: montgomerytoday.blogspot.com |
Saat ini dunia berharap pada para pria yang menghabiskan waktunya untuk
membaca buku dan mengikuti banyak pelatihan, mencermati perkembangan
terakhir yang ada di dunia ini dan menganalisis berbagai peristiwa
daripada mereka yang sibuk berhura-hura, pergi ke salon, menata rambut,
mempermak wajah dan memperkaya aksesorisnya.
Dunia, jauh lebih
berharap kepada seorang pria yang peduli akan lingkungannya, kepada
permasalahan bangsanya, ketimbang pria yang menghabiskan uangnya untuk
memepercantik kulitnya.
Haha, bentar-bentar…sebenarnya apa yang
sedang kita omongin ya? Oiya, saya coba jelaskan, sebenernya kita
sedang membahas tentang pria
uberseksual. Apa itu? Emang tu juga istilah
baru. Apa sama dengan pria
metroseksual? Apa malah
homoseksual?
Uberseksual, kalau dengan istilah
metroseksual ya hampir-hampir mirip lah tapi kalau dengan istilah
homoseksual, hmmmm kayaknya jauh deh. Hahaha
Istilah
uberseksual itu diciptakan oleh sosiolog Amerika, Marian Salzman. Ehmm,
sebenarnya istilah
metroseksual juga diciptakan olehnya dan dia pulalah
yang membunuh sitilah eh istilah tersebut. Istilah ini berasal dari
bahasa Jerman, ‘
uber’ yang berarti ‘segalanya, unggul, superior’ dan
bahasa latin ‘
sexus’ yang artinya ‘gender’. Jadi lelaki
uberseksual bisa
diartikan sebagai ‘lelaki yang mempunyai sifat dan karakter unggul dan
superior’.
Menurut Marian Salzman, lelaki
uberseksual adalah
lelaki yang menggunakan aspek positif maskulinitas, seperti kepercayaan
diri, kepemimpinan dan kepedulian terhadap ohrang lain di kehidupannya.
Pria ini lebih sangat peduli pada nilai-nilai dan prinsip hidupnya dan
lebih memilih untuk memeperkaya ilmju dan wawasannya di sela-sela waktu
kososng yang ia miliki. Nah, pada saat ini dunia membutuhkan sosok
lelaki dengan karakter yang telah disebutkan di atas.
Saya akan
mencoba mengambil anekdot tentang lelaki
uberseksual dan
metroseksual
karena pengertian keduanya kadang disamakan tapi sebenarnya jauh
berbeda.
Jika lelaki metroseksual membelanjakan uangnya untuk ke
salon atau bersenang-senang di mall, pria uberseksual menginvestasikan
uangnya di bisnis, lembaga social atau keagamaan.
Jika lelaki
metroseksual lebih nyaman berada di gym untuk memebentuk ototnya, pria
uberseksual lebih senang menjejakkan kakinya ke lumpur, berkutat dengan
masalah erosi pantai.
Jika lelaki metroseksual memeperbincangkan
masalah mode terbaru, pria uberseksual memeperbincangkan masalah moral
yang makin parah di bangsa ini.
Jika lelaki metroseksual lebih
memilih berhura-hura di akhir pekannya, pria uberseksual mendatangi
perpustakaan untuk mengisi otaknya dengan berbagai wawasan.
Namun,
walau mereka sekokoh karang dalam meyakini prinsip-prinsip hidupnya,
mereka juga adalah pria-pria yang hangat dan tidak kaku. Mereka memang
tidak menangis jika menonton sinetron-sinetron kacangan di TV atau
ditolak oleh wanita yang dicintainya, tapi mereka akan menangis jika
melihat ketidakadilan terjadi dimana-mana, atau sangat terharu jika ada
bencana yang menghancurkan rumah-rumah penduduk yang miskin. Mereka
begitu peduli dengan orangtuanya dan kawan-kawannya.
Itulah
kualitas seorang lelaki
uberseksual. Mereka kaya dan memanfaatkan
kekayaannya untuk kebaikan dunia. Mereka tenar dan memanfaatkan
ketenarannya untuk mengajak orang lain untuk berbuat baik. Mereka cerdas
dan memanfaatkan kecerdasannya untuk menjadi bagian dari solusi
permasalahan dunia. Mereka stylish dan rapi, tetapi tidak berlebihan.
Mereka berhati hangat tapi tidak cengeng. Mereka tidak hanya memikirkan
penampilannya, keluarganya, atau bisnisnya, tetapi juga memikirkan
bangsanya. Mereka memiliki mimpi-mimpi untuk dunia ini dan bekerja keras
mewujudkannya. Itulah para lelaki
uberseksual.
Itulah para LELAKI MASA
DEPAN…
Mereka…adalah para lelaki yang ditunggu dunia….
Terimakasih:
Wahyu Awaludin dan Marian Salzman