Showing posts with label Diskusi Sambel. Show all posts
Showing posts with label Diskusi Sambel. Show all posts

Saturday, September 30, 2017

Parenting Jaman Now

Ilustrasi parenting | Sumber gambar: psychiatristpune.in
Dari judulnya sudah mencerminkan aura kekiniannya kan? Sekarang semua serba kekinian. Dikit-dikit kekinian, dikit-dikit kekinian. Sampe akhirnya kekiniannya ya cuma dikit-dikit. Tulisan ini akan cukup panjang, jadi mohon bersabar ini ujian. He he he....

Topik yang mau saya ungkapkan ini cukup berbeda dari semua jenis tulisan yang pernah saya post. Parenting. Ya topik ini belum pernah saya bahas atau ulas dalam curahan hati blog ini. Ngomongin soal parenting, yang mau saya tulis di sini sebenarnya adalah hasil diskusi singkat dengan sahabat yang cukup jarang bertemu seminggu yang lalu. Kala itu, bakda asar di masjid salah satu mall di Depok, saya bertiga dengan dua sahabat saya iseng-iseng ngobrol ngalor ngidul awalnya. Dari awalan itu, nggak tau juga kenapa kemudian mengarah ke topik parenting.

Friday, December 13, 2013

Bekerja Atau Berpura-Pura Sibuk?

Back to busy...back to work.
Tak perlu berpura-pura sibuk.

Orang dinilai dari karya yang dituntaskan dan bagaimana ia mengerjakannya.

Bukan dari seberapa lama ia duduk di balik meja kerja, atau seberapa banyak pertemuan yang diikutinya, atau seberapa padat jadwal waktunya. Sungguh jauh berbeda pengertian sibuk dengan bekerja.

Pekerjaan terkadang menuntutmu untuk sibuk. Namun, sibuk tidak selalu berarti bekerja. Berperilaku sibuk lebih mudah dilakukan ketimbang bekerja.

Apakah kamu sibuk agar tampak bekerja?

Thursday, December 12, 2013

It's a Good Day to Have a Good Day

Have a nice day... 
Pagi ini aku banyak berpikir, nggak seperti biasanya. Biasanya mikir sih tapi nggak segitunya. Kali ini tentang bagaimana sebenernya kita memulai hari dengan bener biar bisa seperti yang biasa kita sampaikan ke orang lain “have a nice day ya..” atau “have a great day..”. Yah, biar nggak sekedar ucapan maka harus ada triknya kan ya atau langkah yang harus dilakuin biar minimal hari kita bisa berjalan lancar dan “it’s a beautiful day, ever..”

Hari yang cerah bukan ditandai dengan matahari yang bersinar terang atau udara yang sejuk, melainkan dari hati dan pikiran yang segar. Kecerahan suatu hari dimulai dari dirimu sendiri. Kita tahu bahwa sesuatu yang dimulai dengan baik merupakan separuh dari pencapaian tujuan. Karena itu, memulai aktivitas hari ini dengan kecerahan suasana adalah modal besar untuk menyelesaikan hari dengan baik pula. Bagaimana memulai hari dengan cerah sangat dipengaruhi oleh pola hidup kita. Berikut beberapa tips ringan yang semoga bisa membantu buat memulai hari-hari kita dengan cerah.

Tuesday, November 12, 2013

Masalah dan Analogi Segelas Air

image: ryandutka.com
Nah ini ada cerita yang menurut saya asosiasinya oke untuk terus-terus diingat ketika lagi berhadapan dengan masalah. Semoga kamu dapat deep-insight...

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Steven Covey, pakar Leadership-7 Habits, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: seberapa berat menurut Anda segelas air ini?

Thursday, April 11, 2013

Kontemplasi Absurditas Sisyphus karya Albert Camus

Parodi Myth of Sisyphus | distilleryimage
Sudah lama rasanya sejak terakhir kali membaca filsafat. Mungkin tiga bulan yang lalu ketika saya membaca Myth of Sisyphus-nya Albert Camus. Saya ingat waktu itu saya baca itu karena ada tugas dari dosen. Tugas untuk menganalisis berbagai macam karya sastra dengan dikontemplasikan pemikiran tokoh filsafat eksistensialis. Secara garis besar karya ini menceritakan tentang Sisyphus yang dikutuk dewa untuk menggelindingkan batu dari kaki gunung ke puncaknya. Berkali-kali pekerjaan itu dilakukan dan berkali-kali pula batu itu menggelinding ke kaki gunung. Kata para dewa, tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tanpa harapan.

Eksistensialisme Marcel dalam Libri di Luca: Bukan Resensi

Libri di Luca
Ada sekelompok orang yang menamakan dirinya Lector. Mereka adalah orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Orang-orang yang mampu memengaruhi orang lain lewat sebuah bahan bacaan yang dibacakannya. Memengaruhi orang tanpa mereka sadari. Memengaruhi pandangan mereka pada tulisan, tema atau hal lainnya. Bahkan bisa mengubah pendapat seseorang tentang sebuah masalah, semau mereka. Apakah ini kemampuan, bakat atau bencana yang bisa merugikan orang lain?

Diawali dengan kematian seorang pemilik toko buku terkenal di distrik Vesterbro, Kopenhagen, perjalanan kisah ini bermula. Libri di Luca, nama toko buku tersebut. Toko buku legendaris milik keluarga pecinta buku, Campelli. Luca Campelli adalah generasi kesekian yang mewarisi harta berharga tersebut sebelum akhirnya meninggal di toko buku miliknya karena—menurut banyak pendapat—terkena serangan jantung. Dia juga seorang Lector. Sepeninggalnya, kepemilikan Libri di Luca kemudian jatuh ke anak Luca satu-satunya yang berprofesi sebagai pengacara, Jon Campelli.

Monday, February 18, 2013

Saat Jogja Bener-Bener Njogjani


Beautiful Jogja trip destination.
Enam hari di Jogja menyadarkan gue banyak hal. Enam hari di Jogja membuat gue lebih merasa punya hati. Enam hari di Jogja menjadikan otak gue bisa bekerja lebih dari biasanya. Enam hari di Jogja belum pernah gue lakuin sebelumnya. Enam hari di Jogja tidak hanya sekedar perjalanan fisik, nurani lebih banyak bicara. Enam hari di Jogja, kota ini sungguh luar biasa. Enam hari di Jogja, enam tahun pun rasanya masih kurang cukup untuk menguak rahasia di balik pesona dan misteri kota kecil ini.

Jogja kini dan dulu jaman esempe sepertinya masih tak jauh berubah. Malioboro masih di sana, Tamansari masih di situ, Prambanan juga tetep berdiri tegak, Gudeg juga masih manis, bakpia juga masih tetep “pathok”, dan katanya Sarkem juga masih ada meskipun gue juga sama sekali nggak pernah kesana. Pesona kekunoan Jogja masih banyak terasa di banyak arsitektur art deco di sepanjang kota tua ini. Khasanah kota budaya yang semenjak masa Kerajaan Mataram ini sudah mewarisi banyak tradisi masih tetap terawat baik.

Monday, July 30, 2012

Lelaki yang Ditunggu Dunia

sumber: montgomerytoday.blogspot.com
Saat ini dunia berharap pada para pria yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan mengikuti banyak pelatihan, mencermati perkembangan terakhir yang ada di dunia ini dan menganalisis berbagai peristiwa daripada mereka yang sibuk berhura-hura, pergi ke salon, menata rambut, mempermak wajah dan memperkaya aksesorisnya.

Dunia, jauh lebih berharap kepada seorang pria yang peduli akan lingkungannya, kepada permasalahan bangsanya, ketimbang pria yang menghabiskan uangnya untuk memepercantik kulitnya.

Haha, bentar-bentar…sebenarnya apa yang sedang kita omongin ya? Oiya, saya coba jelaskan, sebenernya kita sedang membahas tentang pria uberseksual. Apa itu? Emang tu juga istilah baru. Apa sama dengan pria metroseksual? Apa malah homoseksual? Uberseksual, kalau dengan istilah metroseksual ya hampir-hampir mirip lah tapi kalau dengan istilah homoseksual, hmmmm kayaknya jauh deh. Hahaha

Istilah uberseksual itu diciptakan oleh sosiolog Amerika, Marian Salzman. Ehmm, sebenarnya istilah metroseksual juga diciptakan olehnya dan dia pulalah yang membunuh sitilah eh istilah tersebut. Istilah ini berasal dari bahasa Jerman, ‘uber’ yang berarti ‘segalanya, unggul, superior’ dan bahasa latin ‘sexus’ yang artinya ‘gender’. Jadi lelaki uberseksual bisa diartikan sebagai ‘lelaki yang mempunyai sifat dan karakter unggul dan superior’.

Menurut Marian Salzman, lelaki uberseksual adalah lelaki yang menggunakan aspek positif maskulinitas, seperti kepercayaan diri, kepemimpinan dan kepedulian terhadap ohrang lain di kehidupannya. Pria ini lebih sangat peduli pada nilai-nilai dan prinsip hidupnya dan lebih memilih untuk memeperkaya ilmju dan wawasannya di sela-sela waktu kososng yang ia miliki. Nah, pada saat ini dunia membutuhkan sosok lelaki dengan karakter yang telah disebutkan di atas.

Saya akan mencoba mengambil anekdot tentang lelaki uberseksual dan metroseksual karena pengertian keduanya kadang disamakan tapi sebenarnya jauh berbeda.
Jika lelaki metroseksual membelanjakan uangnya untuk ke salon atau bersenang-senang di mall, pria uberseksual menginvestasikan uangnya di bisnis, lembaga social atau keagamaan.
Jika lelaki metroseksual lebih nyaman berada di gym untuk memebentuk ototnya, pria uberseksual lebih senang menjejakkan kakinya ke lumpur, berkutat dengan masalah erosi pantai.
Jika lelaki metroseksual memeperbincangkan masalah mode terbaru, pria uberseksual memeperbincangkan masalah moral yang makin parah di bangsa ini.
Jika lelaki metroseksual lebih memilih berhura-hura di akhir pekannya, pria uberseksual mendatangi perpustakaan untuk mengisi otaknya dengan berbagai wawasan.
Namun, walau mereka sekokoh karang dalam meyakini prinsip-prinsip hidupnya, mereka juga adalah pria-pria yang hangat dan tidak kaku. Mereka memang tidak menangis jika menonton sinetron-sinetron kacangan di TV atau ditolak oleh wanita yang dicintainya, tapi mereka akan menangis jika melihat ketidakadilan terjadi dimana-mana, atau sangat terharu jika ada bencana yang menghancurkan rumah-rumah penduduk yang miskin. Mereka begitu peduli dengan orangtuanya dan kawan-kawannya.

Itulah kualitas seorang lelaki uberseksual. Mereka kaya dan memanfaatkan kekayaannya untuk kebaikan dunia. Mereka tenar dan memanfaatkan ketenarannya untuk mengajak orang lain untuk berbuat baik. Mereka cerdas dan memanfaatkan kecerdasannya untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan dunia. Mereka stylish dan rapi, tetapi tidak berlebihan. Mereka berhati hangat tapi tidak cengeng. Mereka tidak hanya memikirkan penampilannya, keluarganya, atau bisnisnya, tetapi juga memikirkan bangsanya. Mereka memiliki mimpi-mimpi untuk dunia ini dan bekerja keras mewujudkannya. Itulah para lelaki uberseksual.

Itulah para LELAKI MASA DEPAN…

Mereka…adalah para lelaki yang ditunggu dunia….

Terimakasih:
Wahyu Awaludin dan Marian Salzman

Friday, July 27, 2012

Tempe untuk Kehidupan


Siapa sih yang gak kenal tempe?
Hari ini, Jumat (27/7) adalah hari terakhir pedagang-pedagang di Jakarta dan sekitarnya mogok jualan tempe. Yah, sejak tiga hari yang lalu pedagang dan produsen tempe di area Jakarta melakukan mogok produksi dan jualan. Hal ini dipicu aksi protes mereka terhadap pemerintah yang dirasa tidak mampu mengendalikan dan mengatasi melambungnya harga kedelai di pasar nasional. Puncaknya, pada Selasa (24/7) kemarin ketika Gakopttindo (Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia) melakuka aksi sweeping di pasar-pasar untuk menyita tempe dan tahu dari para pedagang. Aksi ini mendapat tanggapan pro dan kontra dari masyarakat.

Itu sekilas tentang kondisi di Jakarta yang saya alami beberapa hari terakhir menyikapi fenomena kelangkaan dan melambungnya harga kedelai nasional. Tapi di sini saya melihat dari sisi lain dari fenomena ini. Ketika mendengar isu-isu tentang kelangkaan kedelai dan berimbas pada berkurangnya produktivitas tempe di Jakarta, saya langsung menghubungi keluarga saya di kampong (Kebumen, Jawa Tengah). Bukan apa-apa, karena dari dulu tempe adalah makanan favorit saya dan keluarga. Maklum orang desa seperti saya ini tentu punya ketertarikan berbeda dengan orang kota pada umumnya. 

Saya menelpon ibu saya dua hari yang lalu, menanyakan;

“Bu, emang di Kebumen tempe langka bu?”

“Enggak tuh, emang kenapa?”, Ibuku menjawab dengan nada heran.

“Nggak ada, Bu. Cuma di Jakarta ini sekarang tempe lagi langka, katanya harga kedelai naik.”

“Oh ya? Berarti kesempatan buat Ibu bisa jual kedelai ke Jakarta ya?”, Ibuku komentar dengan semangat, padahal beliau gak pernah jualan kedelai.

“Ibu ada-ada aja. Sejak kapan jualan kedelai? Tapi bener nih Bu, di rumah tempe masih banyak di bibi-bibi yang jualan itu?”

“Namanya juga usaha, De. Hehehe. Iya, beneran di rumah banyak tuh tempe. Harganya juga gak ada bedanya dari kemarin-kemarin. Ibu tahu nih kenapa Jakarta rebut-ribut soal tempe. Pasti karena masalah apa itu namanya improt-improt itu kan? Lha wong Negara yang katanya kaya sumberdaya alam dan tanahnya subur kok masih ngandelin luar negeri buat masalah pangan. Lho kok ya kenapa nggak pemerintah yang telaten ngoordinir masyarakatnya buat membangkitkan kembali kekuatan pangan Negara. Dulu aja bisa swasembada pangan kok ya sekarang gak bisa”, Ibuku berkomentar dan saya membiarkannya meneruskan pendapat beliau itu.

“Lha terus, njur piye, Bu?”

“Kamu itu katanya mahasiswa kok ya nggak ada kritisnya sama sekali toh? Ibu ini sih curiga jangan-jangan isu-isu kayak gini itu bikinan pemerintah. Mungkin saja toh? Pemerintah sengaja membuat kedelai langka, terus dengan berlagak pahlawan akan menngeluarkan kebijakan khusus tentang ini sehingga setelah semua teratasi, citra pemerintah akan naik. Iya lah, mungkin aja ini politik pencitraan pemerintah loh.”

“Ibu jangan suuzon sama pemerintah gitu. Bisa aja kan ini karena emang bener-bener nyata dan bukan rekayasa pemerintah.”

“Oalah kamu ini kayak nggak ngerti politik aja, De. Kalo ada isu-isu yang berkaitan dengan masyarakat langsung kayak gini kan banyak orang toh yang tiba-tiba nongol sok pahlawan terus berpendapat ini itu. Biar dibilang pro-rakyat. Maklum to, lha wong bentar lagi kan pemilu presiden…” Komentar ibuku makin menjadi-jadi.

Itu cuma beberapa petikan percakapan telepon antara saya dengan ibu. Awalnya saya penasaran apakah kondisi yang terjadi di Jakarta, imbasnya juga dirasa di tempat lain, khususnya kampung saya. Ternyata di kampong saya tidak begitu signifikan dampaknya. Malah ibu saya yang punya argumen lain mengenai fenomena ini. Sungguh terlalu, saya merasa malu sebagai generasi muda yang kurang kritis pada fenomena yang terjadi di masyarakat.

Harapan masyarakat pada pemerintah begitu besar untuk kesejahteraan hidup mereka. Kedelai dan olahannya bagi sebeagian besar masyarakat Indonesia sudah menjadi kehidupan. Sisi kehidupan lain yang memang jarang atau bahkan tidak pernah absen dari kesehariannya. Bagaimana tidak, masyarakat Indonesia sudah begitu akrab dengan olahan bahan pangan satu ini. Tempe, tahu, kecap, oncom, susu kedelai, dan sebagainya merupakan hal yang sangat familiar di lidah orang Indonesia. Nah, kemudian apa yang terjadi jika tiba-tiba bahan pangan itu menghilang di pasaran?

Pemerintah dan masyarakat sudah seharusnya bersinergi untuk membangun kebijakan yang spektakuler dan strategis untuk menjaga stabilitas pangan nasional. Kebijakan yang pemerintah ambil dalam hal ini harus kompatibel dengan kebutuhan petani-petani tanah air. Merekalah pahlawan kita, sudah sepantasnya kita dukung dengan fasilitas dan sarana pendukung yang memadai. Harga-harga alat pertanian dan pupuk juga harus memadai dan seimbang antara potensi pendapatan dan pengeluaran yang harus mereka keluarkan. 

Kemudian yang tidak kalah pentingnya ialah masyarakat sendiri juga harus sadar lingkungan dan melakukan pengembangan pembangunan yang sadar alam. Jangan terlalu banyak menggerus lahan pertanian untuk membangun properti. Memang ini penting, tapi analisislah dampaknya ke depan. Bagaimana jika 20 tahun yang akan datang lahan pertanian di Indonesi sudah habis dan tidak produktif lagi. Kita akan semakin bergantung dengan Negara lain dalam hal pangan. Dengan begitu, bukankah sama saja kita menghancurkan sendiri kedaulatan Negara ini?

Semua pihak, marilah bercermin pada diri kita masing-masing, siapakah yang seharusnya bertanggung jawab akan fenomena yang terjadi selama ini?

Monday, June 18, 2012

M[alay]sia, Negeri Absurd yang Patut Dikasihani



Trending topic twitter sejak semalam (17/6)
News hari ini (18/6) seputar politik-budaya sedikit memanas. Bukan soal korupsi seperti makanan sehari-hari masyarakat Indonesia lewat media massa tapi justru hal yang mengusik jati diri bangsa ini. Ya, untuk ke sekian kalinya Malaysia mengklaim kebudayaan asli Indonesia. Kali ini tari Tor-Tor dan alat musik Gondang Sambilan yang merupakan khasanah bangsa Indonesia dari tanah Batak, Sumatera Utara.


Media massa berkoar, makanan empuk rating berita hari ini seputar klaim Malaysia. Masyarakat pun mengutarakan pendapatnya lewat berbagai media dan jejaring sosial. Sejak semalam trending topic twitter diisi oleh sejumlah statement orang Indonesia. Dear Malaysia, Tor Tor, #TorTorPunyaIndonesia mengisi trending topic twitter bahkan sampai tadi pagi ternyata masih juga bertengger di sana.

Wajar memang ketika apa yang kita miliki diklaim (diakui milik) oleh pihak lain. Pasti kita akan berjuang dengan menggebu-gebu bahwa itu memang milik kita. Bukan demikian, saudaraku? Kita, orang Indonesia memang cenderung suka heboh, sensitif dan kagetan. Ketika ada hal yang mengusik pribadi atau jatidiri, pasti akan langsung menjadi hal ‘panas’. 


Klaim Malaysia ini sudah yang ke-23 kalinya terhadap budaya kita. Setelah Reog, Angklung, Kain Ulos, Motif Batik Parang, lagu Jali-Jali, Tari Pendet, lagu Rasa Sayange, dan sebagainya, kini giliran budaya Batak, Tari Tor-Tor dan alat musik Gondang Sambilan. Kita patut bertanya, apa sebenarnya yang terjadi? Sebelum mengoreksi orang lain kan alangkah baiknya kita introspeksi ke dalam diri kita sendiri. 


Jika kita bercermin pada kasus-kasus klaim negeri tetangga ini sebelumnya, sepertinya memang ada yang salah dengan kita, orang Indonesia. Indonesia, negeri dengan berjuta pesona khasanah budaya dan surganya kesenian-kesenian yang sangat eksotis di mata dunia. Tapi dengan kekayaan budaya itu, rasa memiliki dan mencintai kita masih kurang. Apalagi di tengah arus globalisasi dan cenderung mulai kebarat-baratan, dewasa ini tidak sedikit generasi muda Indonesia yang enggan mencintai, menghargai apalagi sampai mempelajari budaya daerah. Jika sikap itu tidak muncul, bagaimana budaya daerah bisa tetap lestari di tengah gerusan jaman? 


Sebelum ada klaim Malaysia terhadap budaya kita, semisal tari Tor-Tor atau alat musik Gondang Sambilan, memang kita pernah tahu atau ingin tahu tentang produk budaya itu? Pernahkah kita sadar jika alat musik yang bernama Gondang Sambilan itu ada? Kebanyakan dari kita, khususnya generasi muda, akan menjawab “sejujurnya saya juga baru tahu sekarang”. 


Begitulah keadaannya, kita berkoar-koar ketika budaya kita diklaim negara lain tapi tak pernah peduli keberadaannya apalagi sampai pada tahap melestarikannya. Mungkin ini lebih baik daripada tidak pernah tahu sama sekali akan adanya budaya yang diklaim itu. Sedikit banyak, orang Indonesia juga harus berterimakasih pada m[alay]sia, karena adanya klaim ini masyarakat Indonesia sadar bahwa ternyata masih memiliki tarian yang bernama Tor-Tor dan alat musik yang bernama Gendang Sembilan. Cukup ironis memang tapi memang sepantasnya kita mulai peduli dengan apa yang memang menjadi milik dan hak kita, orang Indonesia.


Terkait dengan klaim ini, kita juga patut kasihan dengan Malaysia. Negeri yang miskin jatidiri dan sedang berusaha mencarinya. Mereka mengaku etnis melayu tapi tak ada unsur budaya milik mereka yang menjadi identitas. Mereka juga negeri yang too ambitious tapi terlalu naif juga dengan jargonnya, Malaysia Truly Asia, ingin menjadi negara yang merupakan miniatur asia dalam artian semua unsur asia ada di Malaysia. Bagaimana mungkin suatu negara yang tak beridentitas jelas seperti ini bisa menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia. Kita cukup tertawa saja melihat klaim yang Malaysia lakukan pada budaya-budaya kita.


Mereka hanya bisa memproduksi dan mempelajari tapi jiwa dari kesenian dan budaya tersebut hanya kita (orang Indonesia) yang memilikinya. Hakikat sebuah budaya adalah bisa hidup ketika ada jiwa (soul) di dalamnya. Kitalah yang memberi jiwa pada setiap produk budaya yang dihasilkan, Malaysia tak akan pernah bisa.


Akantetapi ini bukan pembenaran juga bahwa kita abai terhadap apa yang kita miliki. Kita tidak boleh lengah. Momentum ini, kita khususnya generasi muda yang visioner harus bisa merekonstruksi pemikiran kita. Harus mau belajar, memahami, peduli dan tanggap pada budaya daerah kita, minimal budaya daerah masing-masing. 


Khasanah bangsa ini, harga mati, harus kita lestarikan sekuat tenaga. Ada banyak cara untuk mengembalikan eksistensi budaya daerah yang maujud menjadi khasanah kebudayaan nasional ini. Bisa dengan mulai belajar seni-seni tradisional, menggelar event-event budaya daerah, menghidupkan kembali pusat-pusat kajian budaya daerah, dan bukan tidak mungkin kita mengajukan hak paten tentang khasanah budaya kita. Pada intinya, kembali pada sikap, menjaga dan melestarikan apa yang memang menjadi hak milik kita. Sederhananya demikian.

Jika bukan kita, siapa lagi? Sekarang atau menyesal selamanya!
Tari Tor-Tor, sumber: tobaphotographer.com

Alat musik Gordang Sambilan, sumber: 4.bp.blogspot.com

Thursday, November 24, 2011

Fenomena Manusia Abad 21 (Part I, sebuah pengantar)


Akankah Neutrino Menggugurkan Einstein?
"JENEWA, KOMPAS.com - Adanya partikel yang bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya tampaknya semakin bisa dibuktikan. Laboratorium Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) baru saja melakukan eksperimen ulang tentang kecepatan gerak neutrino.
Hasil eksperimen tentang pengukuran kecepatan neutrino pertama kali diumumkan September 2011 lalu. Hasil menunjukkan bahwa neutrino bergerak 20 per 1 juta lebih cepat dari kecepatan cahaya. Para ilmuwan melakukannya dalam program Oscillation Project with Emulsion-tRacking Apparatus (OPERA), dengan cara menembakkan neutrino dari laboratorium CERN di Jenewa ke Gran Sasso National Laboratory, Italia, menempuh jarak 730 kilometer di kedalaman 1400 meter di bawah tanah.
Hasil penelitian itu membuat geger karena selama ini dunia fisika meyakini, sesuai pendapat Albert Einstein, bahwa tak ada partikel yang bergerak melebihi kecepatan cahaya yang sebesar 299.792 kilometer per detik atau dibulatkan menjadi 300.000 km per detik. Beberapa kalangan ilmuwan menanggapi skeptis.
Ekeperimen ulang yang telah mendapatkan hasil sesuai eksperimen awalnya. CERN mengumumkan hasil eksperimen ulang ini pada Jumat (18/11/2011) lalu. Mereka mengatakan bahwa eksperimen ulang dilakukan dengan jauh lebih teliti. Ilmuwan benar-benar melihat waktu awal saat neutrino mulai ditembakkan.
"Pengukuran detail dan melihat implikasi yang mendalam dalam fisika, membutuhkan ketelitian yang tinggi. Hasil postif membuat kita makin percaya diri," kata Fernano Ferroni, predisen Institut Penelitian Fisika Nuklir Italia seperti dikutip AP, Jumat
Dengan hasil penelitian ini, kemungkinan kebenaran hasil penelitian CERN semakin bisa dibuktikan. Jika satu saja lembaga penelitian di luar CERN yang berhasil melakukan eksperimen analog dan mendapatkan hasil yang sama, maka keberanaran tentang neutrino bisa dibulatkan dan implikasinya akan menggugurkan pendapat Einstein. Akankah neutrino menggugurkan Einstein?

Saya ingin melihat fenomena tersebut bukan untuk menganalisis, mengomentari atau bahkan membantah. Sekedar dalam taraf pemahaman saya sebagai orang sosial. Dunia sains adalah lembah dan hilir dari kehidupan alam jagat raya ini. Jika kita telisik lebih jauh, bagaimana segala gejala alam yang terjadi di alam ini seolah-olah selalu ingin dibuktikan secara ilmiah. Siapa pelakunya? Manusia. Benar, makhluk satu ini memang sebagai makhluk badani yang tidak dan selalu merasa ingin tahu. Pada hakikatnya memang demikian.

Relativitas setiap manusia memang berbeda dari tingkat kecenderungannya dalam menangkap dan memahami suatu fenomena. Ada yang hanya melihat segala hal dengan cara membuka mata saja, ada yang merasakannya sebagai sebuah komunikasi spiritual, ada pula yang memahaminya secara kontekstual. Kemudian pada taraf yang lebih implisit, mereka yang memahami segala gejala dengan semua indera yang dimilikinya.

Kepuasan. Satu hal yang tidak pernah manusia dapatkan di dunia ini. Tidak pernah satu orang pun di dunia ini yang akan merasa puas dengan apa yang ada dalam dirinya. Selalu meras kurang dan menuntut lebih. Itulah manusia. Mengapa saya mengambil artikel tentang eksak di atas padahal yang saya bicarakan justru menyimpang jauh dari penemuan terbaru CERN di atas. Sebuah anomali tengah berlangsung di sini. Ketika seseorang menganggap teorinya tak terbantahkan oleh argumentasi apapun, betapa mereka di luar sana tengah berjuang untuk mematahkan korelasi tersebut.

Terus belajar, dan .... (isi sesuai pemahaman masing-masing)

Tuesday, October 18, 2011

Fenomena Freeport dan Jatidiri Bangsa: Sebuah Obrolan Kopi di Tengah Malam

Tiba-tiba teringat obrolan dengan teman satu kosan beberapa hari yang lalu. Obrolan yang cukup absurd, di tengah malam yang pada akhirnya tanpa kesimpulan apapun. Berawal dari obrolan seputar carut-marut kasus Freeport akhir-akhir ini. Seorang teman bertanya sebenarnya apa yang membuat Freeport itu datang ke Indonesia dan bisa dengan begitu welcome pemerintah pada saat itu menerima mereka tanpa pertimbangan-pertimbangan dari berbagai aspek?

Kemudian disitu mulai terjadi adu argumentasi. Waktu itu saya awalnya hanya berlaku sebagai pendengar kritis ceritanya. Kami berargumen dari berbagai sudut pandang dan latar belakang, di satu sisi dari aspek sains, di sisi lain dari aspek sosial masyarakat, dan saya mencoba mengaitkan di antara keduanya.

Seorang teman berpendapat bahwa Freeport datang ke Indonesia waktu itu karena kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Orde Baru, menyatakan bahwa digalakkanlah penanaman modal asing (PMA) yang ingin berinvestasi di Indonesia. Dia melanjutkan bahwa pada masa itu keadaan ekonomi Indonesia sangat terpuruk dan carut-marut sehingga diperlukan pemulihan dari segi ekonomi-finansial nasional. Salah satu cara yang ditempuh ialah dengan membuka peluang investasi terhadap aset-aset vital bangsa bagi para investor. Pada waktu itu perkembangan teknologi di Indonesia tidak memungkinkan dalam hal pengelolaan sumber daya alam (SDA), khususnya dalam bidang pertambangan. Oleh karena itu, keluarlah kebijakan bagi Penanaman Modal Asing  yang ingin mengelola sumber daya alam.Indonesia.

Kemudian muncul lagi pertanyaan, mengapa pada waktu penandatanganan kontrak dengan investor dulu hanya mencantumkan 'tembaga' dalam suratnya? Sedangkan pada kenyataannya, aset yang digali melebihi daripada itu, 'logam mulia emas' juga ikut di-eksploitasi habis-habisan. Seorang teman berargumen bahwa hal itu terjadi karena pemerintah tidak tahu dan tidak melibatkan para ilmuwan atau scientists dalam hal penentuan kebijakan atau penandatanganan kontrak kerja dengan Freeport tersebut. Lebih jelas lagi ditambahkan bahwa pemerintah membuat kebijakan secara tidak matang dari berbagai aspek. 

Argumentasi lain menegaskan bahwa disitu mulai tercium kecurangan politis dan ke-korup-an pemerintahan bangsa ini dari zaman dulu. Kemungkinan adanya politik amplop-isasi dalam pembuatan kebijakan kontrak kerja tersebut disinyalir begitu kuat. Pemerintah pada masa itu mudah diiming-imingi dengan amplop dan sejenisnya. Hal itu bisa jadi dampak juga dari keadaan ekonomi masyarakat pada masa itu. Selain itu juga karena dampak sistem pemerintahan terpusat yang begitu egaliter bagi masyarakat sekarang.

Akantetapi muncul sanggahan mengenai pendapat pertama dari seorang teman. Dia mengungkapkan bahwa tidak mungkin pemerintah tidak mencampur-tangankan para ilmuwan dalam menentukan kebijakan yang cukup vital. Dia berargumen bahwa, seperti halnya dalam sistem parlementer, dalam membuat satu kebijakan pasti akan melibatkan parlemen yang ada di dalamnya. Itu berarti jajaran menteri-menteri yang bersangkutan pasti dikaitkan. Dalam hal kontrak tambang Freeport ini, teman saya berasumsi bahwa pasti ada campur tangan dari Menteri Sumber Daya Alam dan Energi, Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Ekonomi dan sebagainya minimal atau yang berkaitan. Hal itu cukup beralasan tetapi menimbulkan pertanyaan kembali. Mengapa kebijakan yang muncul justru demikian? Hanya 'tembaga' yang tertulis bukan beserta mining product yang lain misal emas? Padahal jika itu dicantumkan pastinya akan membawa peningkatan ekonomi yang cukup signifikan masa itu ataupun sekarang yang kian memanas. Apa gunanya campur tangan para ilmuwan, ekonom dan lain-lain itu jika pada akhirnya tidak mampu menghasilkan suatu kebijakan dengan orientasi national prosperity.

Muncul lagi celetukan dari seorang teman, kemungkinan para menteri yang terlibat dalam penentuan kebijakan itu pada masa pendidikannya tidak 'benar'. Pernyataan ini cukup menggelitik sekaligus menarik juga untuk dibahas dari aspek historis personalitis para menteri itu. Kemungkinan para menteri itu dulunya juga mahasiswa seperti kita-kita ini yang katanya idealis, banyak menghujat kebobrokan bangsa di zamannya, aktivis, tapi satu catatan, normatif yang tidak bersubstantif.  Saya semakin bingung pada taraf ini, apa yang dimaksud teman saya dengan pernyataannya yang demikian. Kemudian kembali dia menjelaskan, kemungkinan mereka itu pada mulanya adalah orang-orang yang idealis dengan pemahaman mereka sendiri yang sangat goodies, tetapi pada akhirnya ketika sudah terjun di dunia nyata, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang ikut jalur, hilang ke-idealis-annya dan pada akhirnya terlepas dari kebebasan eksistensial yang dimilikinya dengan menjadi makhluk yang yes man.

Saya sendiri memahaminya di luar konteks di atas. Entah itu masalah Freeport, perseteruan blok Ambalat dengan Malaysia beberapa tahun silam, kasus Gayus Tambunan, Nazaruddin Zulkarnain, sampai pada isu yang sedang santer terdengar saat ini tentang reshuffle kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Semua itu tidak terlepas dari pribadi manusia itu sendiri. Pada hakikatnya kita, sebagai bangsa Indonesia, dewasa ini lebih senang menghakimi daripada introspeksi. Kita lebih suka menjadi komentator yang beradu argumen di depan layar kaca tentang suatu kasus. Kita lebih suka terkenal dengan ketenaran kita dan sebagainya. Akantetapi dibalik semua itu, kita lupa akan jati diri kita sebagai manusia. Kita sebagai makhluk berakal sekaligus berhati nurani dan juga memiliki kesadaran, seharusnya paham dan mengerti tentang hakikat hidup kita, apa yang kita lakukan dan kerjakan, dan mulailah menggunakan hati nurani sebagai hakim bagi diri kita sendiri tanpa mengesampingkan aspek rasio. Ketika semua itu berjalan dengan selaras seimbang, semoga nantinya kita sebagai generasi baru bangsa Indonesia, mampu dan siap untuk me-rekonstruksi bangsa ini menuju kesejahteraan bagi para penghuninya.

Giving thanks for my friends: Danang, Reda, Anis
Wish we are the best future generation for our nation, guys!

Wednesday, September 28, 2011

Intinya Fokus kok...

Setiap orang pada dasarnya memiliki keinginan. Entah itu keinginan dalam hal kecil, sederhana, sedang bahkan keinginan besar yang beralih menjadi sebuah pengharapan. Namun bagi setiap orang itu juga tentunya ada sebuah relativitas tersendiri ketika mereka menciptakan keinginan-keinginan itu sendiri.

Ini, sebuah tulisan dari argumentasi gue sendiri tanpa tedeng aling-aling teori-teori yang absurd bagi sebagian kecil seseorang. Namun pada intinya gue cuma mengutarakan sebagian gambaran dari sebagian besar orang yang menganggap bahwa setiap orang itu cenderung untuk merasa bahwa ketika mereka berusaha untuk menggapai sebuah keinginan ataupun berjuta keinginan tapi mereka justru merasa mulai bosan dan enggan dengan keinginan mereka itu. Muncullah keinginan-keinginan lain sebagi akibat dari proses perubahan itu.

Sulit dimengerti?? Emang!! hahaha, sengaja gue menulis dengan kalimat yang rumit karena yang ditekankan disini adalah sebuah perenungan. Pemahaman akan sebuah hakikat diri kita sendiri, bukan sekedar membaca literal yang dilupakan dan tertinggal di pelupuk mata setelah selesai membacanya. Mari merenung, bukan menghayal...

Konsistensi, fokus dan tangguh...sebenernya kunci dari kehidupan ya 'itu'. Sederhana kan? Akan tetapi itu akan jadi harga yang harus dibayar mahal ketika kita berusaha mengalihkan perhatian kita menuju jalan pintas menuju sebuah pencapaian. Apa sih artinya hasil tanpa suatu proses? Apakah kita mau melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan kepentingan dan keinginan kita yang sesaat sedangkan kita tahu hal itu buruk untuk masa depan kita?? Ohh, menyesal!

Mungkin bahasa yang gue pake disini terlalu sederhana tapi dengan susunan kalimat yang begitu sulit dimengerti kan? Yah itulah...Mari kita mulai berpikir! Mulai sekarang!! Fokuskan keinginan kita, bukan dalam artian kita hanya boleh memiliki satu keinginan, tapi lebih pada proses pencapaiannya...BE FOCUS, BE SUCCESS ^_^

Monday, December 6, 2010

Wahh...lama ga nulis. Hampir 3 minggu ini. Huhh...banyak yang saya alami beberapa minggu ini. Kodok Pilekk mikirr...banyak hal yang tidak bisa kita ubah secepat membalikkan telapak tangan. Tapi setidaknya kita punya usaha sih,...

Beberapa  minggu ini saya melewatkan beberapa hal penting, kuliah bahasa inggris sempet bolos, rapat divisi sempet absen, dan yang terakhir..malam ini harusnya nonton wayang di Taman Mini..Tapi yasudahlahh...terima.

Ehhmm..beberapa minggu ini saya juga mengalami beberapa hal unik. Pertama, rapat penyatuan visi misi dari PO UI-GTK di halte bikun. Acaranya ga jelas banget, muter-muter tanpa solusi. Saya bosen dengan omongon si PO waktu itu yang hanya berputar-putar di sekitar visi dan rencana masa lalunya. Gak ada pentingnya sama sekali menurut saya. Sampai akhirnya banyak yang protes dan menganggap acara itu ga akan maksimal. Memang begitu keadaanya ketika terjadi anomali sebuah konsep yang pada awalnya terasa reliable dan visible, tapi ketika terkena intervensi beberapa pihak konsep tersebut berubah tak tahu ke mana juntrungannya...kasihan saya lihat Sang PO.

Kemudian, pada malam berikutnya akhirnya diadakan pleno lintas angkatan yang menghasilkan "trimo wae opo onone"..huhhh..menyebalkan...kita harus mendukung acara yang tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita, bahkan disuruh menjadi kontroler..tidak mungkiiiiiiinn!

Tapi ya sudahlah,,lagi..Kodok Pilekk Mikirr..gak ada gunanya juga kalo kita terus berdebat tentang masalah tanpa memberikan solusi. Sayapun mencobanya.....dan itu terasa indahhhh..hehe

Besokk...acara konsolidasi untuk angkatan '10, sepertinya menarik, saya juga mau ikut nimbrung sekedar setor muka tak apalah...numpang sosialisasi proker bidang juga. Tapi lagi-lagi 'kemiskinan' saya menjadi masalah....buat saya 20ribu terlalu mahal untuk acara itu..naik kereta ekonomi, masuk Kebun Raya Bogor, makan..huhhhh...lagi-lagi..

Capekk juga....nulis..tapi menarik..disini aja dulu yaaa...
Sebenernya masih banyak yang pingin saya tulis..tapi....Kodok Pilek Mikirrrr...
Bagi-bagi masalah??? Hahahaa..engga deh...

Monday, November 1, 2010

Percayalah Dengan Mimpi...


Believe in Your Dream

Benarkah ada orang yang tidak punya mimpi? Orang yang mengatakan, “Aku ini orang yang tidak punya mimpi, karena aku tidak punya kesempatan untuk bermimpi. Aku hanya ingin mewujudkan mimpi-mimpi orang lain dengan segala kemampuan yang aku miliki.”

Benarkah demikian? Mengapa orang itu begitu yakin jika dia tak punya mimpi? Tidakkah menurut Anda dia begitu angkuh dengan mengatakan bahwa ia tak punya mimpi? Logikanya, bagaimana dia akan bisa mewujudkan mimpi-mimpi orang lain sedangkan dia sendiri tidak tahu apa itu mimpi. Tidak pernah merasakan mimpi, tidak memahami hakikat dari mimpi-mimpi yang akan dia coba wujudkan itu. Mustahil!! Menurut saya itu bohong, sebuah statemen untuk mencari perhatian orang lain. Dia ingin terlihat sebagai sosok yang humanis, sangat peduli pada orang lain, bahkan ia seakan mengabaikan kepentingan dirinya sendiri.
 
Akantetapi, bagaimana dia bisa peduli dengan orang lain sedang dia sendiri tak acuh pada diri sendiri? Niscaya itu tak akan terwujud… Mengapa saya berkata demikian? Anda jangan dulu men-judge saya sebagi orang yang ‘egois’ dan mungkin terlalu mimpi saya sendiri. Bukan, jangan salah paham dulu. Saya justru ingin mengajak Anda-Anda untuk lebih merasionalkan dan menuranikan masalah ini secara baik-baik. Saya, mengatakan demikian karena saya orang yang percaya pada mimpi. Saya orang yang tak pernah menyepelekan mimpi. Bukankah hidup ini pun berawal dari sebuah ‘mimpi’?

Bukan saya naif dengan mengatakan bahwa hidup ini pun seperti mimpi. Kita sedang terbuai dalam tidur panjang yang kita sendiri pun tidak yakin kapan kita akan terbangun dari mimpi-mimpi ini. Menurut saya, mimpi itu penting. Sadar ataupun tidak, banyak inspirasi yang kita dapatkan justru pada saat kita bermimpi. Tapi itu semua bukan berarti kita adalah makhluk yang hanya gemar bermimpi. Kita juga memiliki kewajiban dalamm mewujudkann mimpi-mimpi kita.Alam sadar kita lah yang memegang peran utama dalam usaha merealisasikan mimpi-mimpi kita. 

Adakalanya kita pun mengabaikann mimpi-mimpi. Bukan sesuatu yang mendasar tapi kita punya keyakinan bahwa segala sesuatunya itu passti ada yang mengatur dan mengelola sedemikiann rupa sehingga kita bias memanfaatkan apa-apa yang ada di hadapan kita.

So, jangan pernah berhenti bermimpi, Kawan. Ingat bahwa yang terpenting bukanlah seberapa besar mimpi kita tapi seberapa besar usaha kita untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita itu…

Keep Dreaming and Reach it. . .!!!