Showing posts with label Tips dan Trik. Show all posts
Showing posts with label Tips dan Trik. Show all posts

Friday, December 13, 2013

Bekerja Atau Berpura-Pura Sibuk?

Back to busy...back to work.
Tak perlu berpura-pura sibuk.

Orang dinilai dari karya yang dituntaskan dan bagaimana ia mengerjakannya.

Bukan dari seberapa lama ia duduk di balik meja kerja, atau seberapa banyak pertemuan yang diikutinya, atau seberapa padat jadwal waktunya. Sungguh jauh berbeda pengertian sibuk dengan bekerja.

Pekerjaan terkadang menuntutmu untuk sibuk. Namun, sibuk tidak selalu berarti bekerja. Berperilaku sibuk lebih mudah dilakukan ketimbang bekerja.

Apakah kamu sibuk agar tampak bekerja?

Thursday, December 12, 2013

It's a Good Day to Have a Good Day

Have a nice day... 
Pagi ini aku banyak berpikir, nggak seperti biasanya. Biasanya mikir sih tapi nggak segitunya. Kali ini tentang bagaimana sebenernya kita memulai hari dengan bener biar bisa seperti yang biasa kita sampaikan ke orang lain “have a nice day ya..” atau “have a great day..”. Yah, biar nggak sekedar ucapan maka harus ada triknya kan ya atau langkah yang harus dilakuin biar minimal hari kita bisa berjalan lancar dan “it’s a beautiful day, ever..”

Hari yang cerah bukan ditandai dengan matahari yang bersinar terang atau udara yang sejuk, melainkan dari hati dan pikiran yang segar. Kecerahan suatu hari dimulai dari dirimu sendiri. Kita tahu bahwa sesuatu yang dimulai dengan baik merupakan separuh dari pencapaian tujuan. Karena itu, memulai aktivitas hari ini dengan kecerahan suasana adalah modal besar untuk menyelesaikan hari dengan baik pula. Bagaimana memulai hari dengan cerah sangat dipengaruhi oleh pola hidup kita. Berikut beberapa tips ringan yang semoga bisa membantu buat memulai hari-hari kita dengan cerah.

Friday, May 17, 2013

Skripsi vs Pacar, Mana yang Paling Benar?


Skripsi lo... | Sumber gambar: hamdandesign.net
Saat menjadi mahasiswa, banyak hal menyenangkan bisa lo dapet. Pengalaman, teman, ilmu, keterampilan, sampai ke gebetan atau pacar juga bisa aja lo dapetin. Seiring waktu berjalan, hingga sampailah sang mahasiswa menjadi “mahasiswa tingkat akhir” yang punya momok menakutkan bernama skripsi, tugas akhir atau apalah itu namanya. Istilah di kampus gue buat tugas akhir mahasiswa tingkat akhir jenjang S1 itu ya skripsi.

Skripsi menjadi semacam dementor yang gemar mencium dan menyedot hawa kebahagiaan dari orang-orang. Kalo dalam kasus ini ya itu tadi, mahasiswa tingkat akhir. Ketika mengerjakan skripsi, banyak masalah yang sering muncul. Mulai dari uang saku menipis, teman yang satu-per-satu mulai nggak keliatan, orientasi hidup yang fluktuatif, pertanyaan dari ortu “kapan lulus? kapan wisuda?” dan masalah sama pacar.

Thursday, January 10, 2013

Puncak Gunung: The Ultimate Goal

Menggapai Puncak Rinjani | gambar: djarum-super.com
Sering ditanya,"Apa sih tujuan utama kamu kalo mendaki gunung?"

Pertanyaan singkat yang selalu aku jawab singkat juga,"Puncak!"

Kegiatan mendaki gunung menjadi hobiku yang kurang tersalurkan semenjak SMP dulu. Sejak pertama kali menyusur jalur perbukitan di sebelah utara kota kelahiranku, Kebumen. Menyusuri sebuah jajaran perbukitan demi menyusul teman-teman yang sedang camping pramuka pada waktu itu. Berempat (aku, danang, taufik dan mbah syarif) sengaja tidak melewati jalur utama yang bisa ditempuh dengan motor ataupun angkutan umum. Kami justru sengaja menyusuri hutan dan sungai menuju kesana. Suka duka saat perjalanan, dalamnya rasa persahabatan ketika di perjalanan, kekonyolan-kekonyolan yang tak terduga, hingga kepuasan saat tiba di tujuan dan sambutan sang alam pada kami menjadi kehangatan tersendiri yang aku rasakan saat bersatu dengan alam.

Thursday, July 19, 2012

Ketika Ditanya: Kenapa Mendaki Gunung?

Photo by Danang, edited by Ambarr
Aku bukan seorang yang berpengalaman dalam hal mendaki gunung, tapi suka mendaki gunung. Aku juga bukan orang yang sering travelling, tapi aku suka melakukannya, mencari-cari waktu dan destinasi yang tepat untuk selalu melakukannya.

Mendaki gunung adalah aktivitas fisik yang cukup menguras tenaga, memacu adrenalin tapi sekaligus olahraga batin. Aspek jasmani dan rohani dalam kegiatan pendakian buatku selalu seimbang. Dalam pendakian, kita tidak hanya dituntut untuk mempersiapkan fisik secara matang tetapi juga aspek batin kita juga harus kondusif dan terkadang justru aktivitas mendaki gunung ini menjadi obat hati yang cukup manjur. Ketika sampai di puncak, aku merasakan sentuhan batin dan merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta.

Perjalanan yang baik adalah persiapan yang baik, berlaku juga dalam mendaki gunung. Aku sih tidak ingin membahas tentang persiapan detail untuk pendakian gunung karena di situs lain sudah banyak yang membahasnya. Aku hanya ingin mengingatkan lagi bahwa untuk pendakian suatu gunung harus dipersiapkan dengan pertimbangan yang matang, mulai dari;
  1. Destinasi gunung yang akan didaki,
  2. Jenis atau karakter medan dari gunung tersebut,
  3. Jumlah atau rekan pendakian,
  4. Lamanya pendakian (lebih tepatnya lama perjalanan mulai dari berangkat sampai target sampai di rumah kembali),
  5. Rencana anggaran,
  6. Jasmani dan rohani tentunya,
  7. Perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan selama perjalanan pendakian,
  8. Transportasi yang akan digunakan,
  9. Perizinan, baik pada orang-orang terdekat maupun pihak register di pos pendakian,
  10. Kontingensi plan untuk poin 3, 4, 5, 7 dan 8 jika mungkin ada perubahan.
Jika persiapan-persiapn tersebut sudah kita lakukan dengan baik, ibaratnya kita sudah melakukan setengah perjalanan dan tinggal setengah lagi sebelum sampai tujuan dan pulang dengan selamat. 

Kemudian, apa sih sebenarnya yang dicari para pendaki gunung? Aku sering ditanya teman, “apa sih yang lo cari dan lo dapetin dari hobi lo mendaki gunung? Lo suka nyari-nyari bahaya ya?”. Buatku itu pertanyaan yang sulit, tapi aku ingin memberikan kutipan dari beberapa pendaki gunung profesional ketika ditanya hal-hal serupa.
"Begitu aku berada di atas gunung, akau tahu bahwa perasaan seperti ini akan membuatku memusatkan perhatian penuh pada tugas yang sedang kuhadapi. Tetapi kadang aku bertanya-tanya, tidakkah aku melakukan perjalanan panjang ini hanya untuk menyadari bahwa yang kucari sebenarnya adalah sesuatu yang kutinggalkan di belakang." (Thomas F. Hornbein)
"Kenyataannya, aku ingin mendaki gunung itu lebih dari apapun yang pernah kuinginkan dalam hidupku." (John Krakauer)
"Kemudian aku mulai mendaki gunung, dan olahraga ini memberiku banyak hal yang tidak aku temukan dalam kehidupan biasa. Tantangan, persahabatan dan perasaan memiliki misi selalu mengikuti setiap pendakian." (John Taske)
Orang-orang yang tidak pernah mendaki gunung cenderung beranggapan bahwa olahraga ini merupakan olahraga nekat. Sebuah kegiatan yang tidak masuk akal untuk meningkatkan gairah hidup. Akantetapi, anggapan bahwa para pendaki hanyalah orang-orang yang kecanduan adrenalin, yang selalu mengejar kepuasan moral, tidak sepenuhnya benar. Mendaki tidak sama dengan olahraga golf atau tenis. Ketahanan fisik dan emosional, perjuangan yang dituntut oleh kegiatan mendaki gunung menjadikan olahraga ini bukan sekedar permainan.

Ada lagi kutipan dari Om John Krakauer setelah doi mendaki Gunung Everest;
"Aku selalu sadar bahwa mendaki gunung merupakan kegiatan yang sangat beresiko. Aku juga sadar bahwa bahaya merupakan komponen terpenting dalam permainan ini. Tanpa itu, mendaki gunung tidak berbeda dengan rekreasi rutin yang lain. Rasanya menyenangkan bisa bersentuhan dengan sebuah keabadian yang menyimpan sejuta teka-teki, melihat sekilas wilayah-Nya yang terlarang. Mendaki merupakan kegiatan yang mengagumkan. Aku sangat yakin akan hal itu bukan karena berbagai resiko yang terkandung di dalamnya melainkan justru karena semua resiko tersebut."
Dari kutipan-kutipan pendaki profesional di atas, tinggal bagaimana kita melihat kegiatan mendaki gunung itu. Buatku kegiatan mendaki gunung mampu menciptakan perasaan memiliki. Menjadi seorang pendaki berarti bergabung dengan kelompok masyarakat mandiri yang idealis, kelompok yang yang kerap kali diabaikan tapi secara mengejutkan justru tidak terkontaminasi oleh dunia secara keseluruhan.

Mendaki gunung adalah budaya yang ditandai dengan persaingan, sangat maskulin dan yang terpenting adalah bahwa semua pendaki selalu berusaha untuk mengesankan pendaki yang lain (itu selalu aku rasakan ketika mendaki suatu gunung). Mencapai puncak manapun kurang penting dibanding dengan cara kita mencapainya, itu yang selalu dikatakan temanku saat mendaki gunung. Seorang pendaki akan merasa bangga jika dia berhasil mencapai puncak melewati rute yang paling sulit dengan perlengkapan minimal dan keberanian yang sulit dibayangkan. Tapi kemudian jangan menjadikan ini sebagai pembenaran untuk mengabaikan persiapan yang matang setiap menjelang pendakian. Bagaimanapun, keselamatan kita adalah tetap utama hingga kembali ke rumah dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa.
"Jika kamu selalu mengeluh, kamu tidak akan mencapai puncak. Mumpung kita ada di tempat ini (Everest), sebaiknya kita jadikan pengalaman ini sesuatu yang menyenangkan." (Scott Fischer)
Jadikan setiap kegiatan pendakian gunung sebagai sesuatu yang menyenangkan. Mindsetting otak kita dengan hal itu dan percaya bahwa kita akan sampai puncak dengan spektakuler dan turun gunung dengan selamat. Keep mountaineering! Take it to the limit! Reach your summit!

Monday, June 4, 2012

The Power of Post-It


Contoh Post-it notes, sumber: www.officekitten.co.uk

Tahu Post-It kan? Itu loh kertas-kertas kecil yang (umumnya sih) warnanya kuning, ada juga warna-warna lain, yang di salah satu sisinya ada bagian lengket yang bisa ditempel di manapun. Sekarang mau diapain nih Post-It itu? Sekarang saya pengen share pengalaman aja tentang Post-It satu ini.
Kenapa saya kasih judul artikel ini The power of “Post-It”? Itu berkaitan dengan teknik pengembangan ide dalam diskusi yang pernah saya lakukan yang (bener-bener) manfaatin Post-It ini. Kami menggunakan Post-It sebagai media untuk menyampaikan ide-ide baru mengenai topic yang kami diskusikan. Kelompok kecil diskusi kami ini membahas mengenai “Bagaimana untuk menciptakan strategi pengembangan media massa yang berbasis pada pembaca di era IT”.
Kemudian kelompok kami diberi satu pak Post-It dan diberi waktu 15 menit untuk menuliskan ide, solusi dan berbagai aspek yang mungkin dilakukan sesuai dengan topic tadi itu. Setelah 15 menit berlalu, ketua kelompok menyuruh masing-masing member untuk menempelkan Post-It yang sudah terisi tadi ke whiteboard yang disediakan. Selesai semua ini, kelompok kami mereview catatan-catatan yang tertempel itu dan mengelompokkannya sesuai temanya, misal; ide-ide yang berkaitan dengan perangkat IT, atau sumber daya manusia dan sebagainya.
Logo Post-it
Apa yang kami lihat selanjutnya? Duplikasi ide mungkin saja terjadi kan. Nah ini mengindikasikan bahwa idea tau solusi yang demikian (kemungkinan besar) bisa relevan dengan topik diskusi kami. Akhirnya, kami bisa menemukan langkah strategis yang baru berdasarkan diskusi yang kami lakukan yang menggunakan metode yang menurut kami juga baru sih. Hehe. Unik, tapi bisa membuktikan bahwa dalam menyelesaikan suatu masalah bisa juga dengan cara yang fun. That’s it!

Be Curious, Wajib Nih!


sumber: ralfschwartz.typepad.com

Untuk jadi orang yang kreatif, kita perlu nih buat selalu mengembangkan atau memperluas wawasan otak kita. Setuju gak? Harusnya sih setuju, karena emang dua hal itu sangat erat kaitannya. Gimana kita bisa disebut kreatif atau melangkah untuk jadi orang kreatif kalo gak tau apa-apa atau gak memahami banyak hal, apalagi untuk hal sepele. Kalo hal-hal sepele aja kita gak tau, kadang justru kita kesulitan untuk memahami hal-hal yang lebih besar.
Untuk itu, kita (sangat) perlu nih secara teratur untuk belajar atau memahami atau paling gak ngerti deh tentang sesuatu yang balu eh baru maksudnya. Buat apa kita harus mempelajari hal-hal baru seperti itu? Jawabannya mudah; it will keeps your mind fresh and makes it easier to relate between different topics. Nah, ketauan kan gimana pentingnya untuk tau menahu hal-hal baru di sekitar kita misalnya. 
So, make it habit untuk belajar sesuatu yang baru setiap saat, entah itu bahasa yang tidak sehari-hari kita gunakan, hobi baru atau topic-topik yang menarik di sekitar kita. Ada begitu banyak hal baru yang bisa kita pelajari di dunia ini kalo kita niat dan mau untuk secara sungguh-sungguh jadi orang yang lebih berwawasasn dan…kreatif tentunya.
Nah, sekarang ketauan kan gimana kaitannya antara memperluas wawasan dengan karakter kreatif dalam diri kita? 
So, what you can learn about it? How does this new topic relate to what you already now? 

Saturday, May 19, 2012

Daydreaming: Kenapa Tidak?

Daydreaming? Why not, sumber: www.cosmosmagazine.com
Ehem! Inget gak kamu pernah ngerasain pikiranmu nge-freeze sejenak saat kamu mikirin suatu ide atau solusi dari suatu masalah yang pengen banget kamu utarakan tapi gak kesampaian? Nahloh! Dan kemudian ide-ide itu muncul begitu saja ketika kamu bengong ngelamun pas duduk di depan jendela ngeliatin hujan gerimis rintik-rintik mengalir di kaca jendela (nah lebay…haha)? Atau saat kamu merasa rileks ngedengerin music kesayanganmu di telinga?


Kaitannya dengan ini adalah ide kreatif atau solusi luar biasa bisa muncul kapan saja dimana saja dan bagaimanapun caranya. Ada kalanya justru ide itu muncul di saat-saat yang (sangat) tidak biasa. Contohnya; saya nih, kadang my best idea itu muncul itu pas lagi di toilet, duduk atau jongkok sambil nikmatin hawa-hawa toilet tiba-tiba muncul ide kreatif yang (mungkin) belum atau sama sekali gak pernah kepikiran sebelumnya. Bahkan ada saat di toilet dimana tadinya gak inget tentang sesuatu yang dipikirin pas di luar toilet tiba-tiba di toilet itu seperti dapet ilham muncullah ide itu. 


Semua itu berkaitan dengan ide-ide itu muncul kadang emang di saat kita butuh ke-rileks-an yang luar biasa, ketenangan dan kedamaian. Ide besar muncul dari tempat yang paling busuk sekalipun. Ya, jangan pernah sepelekan hal-hal kecil semacam itu deh mulai sekarang. Mungkin aja kan mimpi kita di siang bolong, lamunan kita di tepi jalan justru akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa di masa depan kita nantinya!

Never be afraid to grab what ever you daydreaming!

Thursday, May 17, 2012

Visualisasi, bisa dong?


Gapai mimpi mulai dengan visualisasikan mimpi

Yeay! Ini berkaitan loh sama langkah kreatif kita sebelumnya. Ada yang inget? Ya benar sekali, wishing (berharap). Sebelumnya kan kita udah banyak berharap nih, lalu apa? Kalo gak ada langkah lanjutan dari kitanya kan sama aja boong kan? Nah ini nih yang emang perlu kita pelajari, visualisasi. Lebih tepatnya memvisualisasikan apapun yang ada di benak atau pikiran atau otak kita apa apa yang ingin kita capai.

Contohnya nih; aku punya mimpi suatu saat nanti bisa membangun perpustakaan yang gaul dengan konsep yang anak muda banget. Selanjutnya, visualisasikan pikiran atau ide-ide kreatif itu, cobalah untuk memikirkan bagaiman detail perpustakaan yang ada di benak itu, bagaimana tampilannya, bentuknya, koleksi apa aja yang kira-kira bakal dimasukkan, dan sebagainya. Apa warna lantainya ya? Perasaan seperti apa yang kira-kira bakal kamu dapatkan di perpustakaan itu? Dimana letak-letak layanan perpustakaan akan diletakkan? Dan seterusnya.

Intinya gini nih, dengan membangun gambaran yang jelas di kepala, motivasi untuk mencapai apa yang kita cita-citakan akan semakin meningkat dan yang jelas; you will also know exactly what you want and how you want it to be.

Gimana? Luar biasa kan? Mulailah dari sekarang! Jangan tunda-tunda lagi langkah kreatif inovatif-mu!

Tuesday, May 15, 2012

I Wish ...


Sumber gambar: 3.bp.blogspot.com
Yap! Kemarin udah sempet memaparkan tentang berani mengambil resiko sebagai langkah kreatif kita dalam berinovasi. Kemudian yang tidak kalah (agak) pentingnya juga, yang sering kita menyepelekannya adalah berharap, ya berharap. 

Pernah kan sewaktu kecil kamu mencoba menutup mata menjelang hari ulang tahunmu yang ke-7 misalnya dan kemudian berharap the best present you could imagine? Pernah kan? Ayo jujur aja gak usah malu-malu. Haha. Ketika kamu berharap itu, kamu pasti merasakan bahwa kamu bisa menyentuh atau menggapai setiap apa yang kamu bayangkan/harapkan, that’s  right? Correct me if I’m wrong.

Nah, sekarang ketika kita beranjak dewasa ternyata kita juga bisa melakukan hal yang sama saat kita ingin memulai suatu langkah kreatif. Loh, gimana caranya? Mungkin itu yang akan pertama terbersit di benak temen-temen semua. Ya kan ya kan kan kan? Haha. Jadi gini, sederhana juga kok. Mulailah dengan apa yang kira-kira dapat membantumu dalam hidup atau pekerjaan atau hal-hal kreatif lainnya.

Misal nih;
“Semoga aku bisa menyelesaikan proyek besar ini tepat waktu, tapi aku bisa tetap santai dengan kegiatan kuliah di kampus.”(ini biasa terjadi di mahasiswa jurusan saya, haha).

 Kemudian, kita kembali berharap ke dalam sesuatu yang lebih serius lagi, misal;
"Aku harap semoga aku bisa menentukan apa yang menjadi prioritas di hidupku dan bisa bekerja dengan sebaik mungkin dengan seimbang.” 

Gimana? Apa malah bingung? Anda bingung itu tandanya Anda berpikir, ya toh? 

Jangan berhenti berharap, selama kita hidup dan berpikir untuk tetap hidup untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif dan inovatif. Percaya deh, dimulai dengan harapan, mungkin akan bisa menghasilkan suatu proses kreatif dan pencapaian yang luar biasa sebagaimana yang kita cita-citakan.

Semangat!

Monday, May 7, 2012

Berani Ambil Resiko?

Berani ambil resiko | Sumber gambar: charlesngo.com
Tidak ada inovasi tanpa resiko menyertainya. Mungkin itu kalimat yang tepat untuk mengawali perubahan di diri kita, dan gue sih khususnya. Kita bisa saja memberikan suatu ide dan gagasan yang berbeda dan baru, tapi disitu kita juga belum tentu bisa diterima dengan senang hati. Di sanalah resiko muncul ketika ide atau gagasan yang kita sampaikan atau berikan ternyata tidak bekerja, setidaknya tidak berjalan dengan baik, bahkan gagal sama sekali.

Akantetapi, kalo kita gak berani untuk mengambil resiko semua itu, inovasi-inovasi yang ada di pikiran kita will just remain an idea dong. Pastinya sayang banget kan? Apalagi kalo ternyata di suatu saat kita pernah ngerasain atau ngalamin bahwa ide seseorang yang diaplikasikan ternyata kita juga udah memikirkannya. Nah, apa gak rugi bandar kalo padahal sebelumnya pun kita udah punya ide itu cuma gak berani buat mengungkapkannya? Pikir-pikir lagi deh kalo mau cupu sekarang.

Kemudian yang gak kalah pentingnya adalah kenali jenis resiko yang mungkin terjadi dari ide, gagasan, atau inovasi yang mau kita terapkan. Ini penting dong, daya analisis kita juga harus dipake dalam hal ini. Jangan berpikir gak bisa dulu sebelum mencoba. Sederhananya dalam menganalisis resiko yang mungkin terjadi itu ibarat kita mencoba untuk memahami diri sendiri aja. Itu susah tapi kalo kita mau, pasti bisa. Nah gitu aja mikirnya gak usah yang ribet-ribet gitu lah.

Ketika kita udah bisa mengira-ngira apa yang mungkin terjadi (resiko terburuk) kalo kita mengambil kebijakan ini dalam hidup kita, tentunya kita akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Tapi tujuannya bukan itu, lebih kepada bagaimana kita mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan ide, gagasan atau inovasi kita sehingga bisa menghasilkan hal yang luar biasa.

Jangan pernah takut untuk mengambil resiko!

Thursday, January 12, 2012

Tips Kentut Aman dan Sehat


Buang angin adalah suatu keadaan dimana kita merasakan suatu kelegaan sekaligus keresahan, apalagi jika buang angin di tempat umum dan banyak orang di sekitar kita. Ups..tapi kali ini gue mau share tentang tips sehat dan aman buang angin atau kentut (khususnya di tempat umum). Buat lo yang demen melakukan ritual ini dan tetep mau terlihat eksotis, perhatikan posting gue baik-baik…kemon cyiiinnn…
Ada banyak hal yang harus diperhatikan (tidak dianjurkan) saat akan/sedang buang angin, apa aja deh?
1. Buanglah angin pada tempatnya! Ini penting. Dimana tempat buang angin paling aman? Apakah di kantong kresek atau di ‘dalam hati’ saja.
2. Jangan terlalu sering buang angin, benar! Karena dapat menguras tenaga. Pada kasus tertentu, diperlukan asupan makan dan gizi yang mencukupi angka kecukupan gizi untuk mengganti zat-zat yang terbuang karena buang angin.
3. Nih, urgent! Lo juga harus memperhatikan waktu yang tepat saat kentut atau buang angin. :p alternatifnya..check this out! 
~saat truk sampah lewat, jadi kan lo bisa ngeles ‘ihhh sampah bau banget’ tapi gausah ditambahin ‘persis deh kayak kentut gue’. 
~saat boker, jadi gak akan ada korban keganasan lo dari suatu fenomena angin yang terhempas. 
~yang terpenting nih! Waktu yang paling tepat buat kentut itu yaa…SAAT KEBELET KENTUT. Oke?
4. Berkreasilah saat kentut, bila perlu berinovasi dengan membuat kentut rasa stroberi, rasa melon, rasa mangga atau rasa jeruk.
5. Bila terbiasa mnghasilkan suara kentut yg membahana, samarkan dengan suara batuk, jeritan kuntilanak atau, teriakan babi ngepet.
6. Usahakan untuk tidak membaui kentut atau angin buangan ini, apapun bentuk dan ukurannya. Oke?
7. Oiya kelupaan. Karena kentut mengandung zat-zat yang berbahaya, jadi WASPADALAH waspadalah!
8. Terakhir, buatlah peringatan dini atas bahaya dan wabah ancaman kentut yang berkeliaran.
Oke, sekian tips kentut aman dan sehat, semoga tips-tips tersebut tidak benar-benar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari Anda. #trims

Tuesday, December 27, 2011

Menulis di Media Massa, Siapa Takut!

Sore tadi (20 Desember 2011 yang lalu sih) ngobrol dengan Mbak Anne tentang kiat menulis, eh doi curhat panjang lebar, mulai dari cerpen, novel, fanfiction, cerbung, sampe nulis berita. Mbak Anne ini seorang penulis lepas di bberapa majalah, kolumnis, cerpenis, blogger, tapi redaktur tetap di Koran swasta juga. Gue mau sedikit berbagi tentang obrolan gue dengan doi tadi, terutama yg tentang menulis di media massa, sekarang lumayan favorit. Sekaligus pengen membangkitkan passion menulis generasi muda sekarang, menulis yang bukan sekedar menulis. Menulis juga bisa menghasilkan.


Kita tau sekarang media massa menjamur, entah itu cetak atau elektronik. Lahan subur buat loe-loe yang kreatif dan pengen cari pengalaman. Salah satunya dengan..."MENULIS". Sesuai tema, khususnya menulis di media massa. Banyak orang beranggapan menulis di media massa itu sulit, tidak sedikit pula yang beranggapan sebaliknya. Tidak mudah untuk menilai mana yang benar atau mana yang salab. Bisa jadi keduanya benar. Atau malah..gampang-gampang sulit, sulit-sulit gampang. 


Maksudnya, menulis di media massa emang gak mudah tapi bukan berarti sulit melulu sehingga mustahil orang melakukannya. Kalau kita mengakui unsur kesulitannya, mau mendekatinya, merangkulnya (jiehh) dan selalu mencoba, maka lama-lama juga akan terasa gampang. Sebaliknya, kalo kita terlalu 'nggampangke', maka justru akan menjadi sulit karena tidak bakal menghasilkan apa-apa, berhenti di tempat, istilahnya stagnan. Jadi, menulis di media massa itu bisa jadi gampang, bisa juga jadi sulit, tergantung masing-masing orang menganggap dan menyikapinya. Yang pasti, memang tidak mudah mengubah yang sulit menjadi gampang dalam sekejap. Butuh proses dan waktu yang tidak sebentar. 


Faktanya, mereka yang kini berhasil menulis di media massa dengan gampang pasti pernah mengalami kegagalan, kesulitan dan masa-masa sulit. Kemudahan yang didapat bukan hadiah gratis yang jatuh dari langit kayak duren runtuh gitu, tapi hasil kerja keras yang tidak kenal berhenti. Ehm, juga berkat kmauan untuk mmbekali diri dengan perlengkapan yang memadai berupa teknik penulisan dan kejelian mencari bahan. 


Jadi, tiga hal menurut Mbak Anne yangg harus diakrabi kalo pengen berhasil menulis di media massa. Apa aja?
1. Teknik penulisan, 
2. Isi, dan yg gak kalah pentingnya 
3. Kontinyuitas. 
Ketiganya mjd bekal utama bagi para penulis, khususnya media massa. Intinya, ingin memberi gambaran kalo menulis gak cuma nulis aja, kalo disalurkan dengan tepat, bisa membawa hoki. SO jangan berhenti menulis apalagi takut menulis!! Tuangkan ide-ide segarmu, pemahaman brilianmu dan semua tentang hidup, mimpi, cita dan harapan dalam sebuah karya! Pasti dan semoga bisa bermanfaat jika kita menempatkannya dengan tepat.


"Ambisi tidak akan pernah menghasilkan apa-apa sampai ia dipadukan dg kerja keras." 

Friday, December 16, 2011

Tips Sehat dan Aman Ngupil


TIPS sehat dan aman ngupil. (Ngupil, ini kata baku sesuai dengan KBBI gak ya? Apakah kata tersebut merupakan bahasa daerah, ataukah bahasa tidak daerah?? Jadi bingung. Kembali ke topik aja deh, walaupun tak penting);
  1. BERSIHkan jari yang akan digunakan untuk ngupil. Kalau perlu cuci dengan sabun atau deterjen, keringkan, tak perlu disetrika.
  2. Gunakan JARI yang sesuai dan memadai serta proporsional. Cukup pakai satu jari untuk satu lubang hidung, hindari ngupil pada kedua hidung dengan kedua jari sekaligus, sementara tiga jari lain pada tangan yang sama masuk mulut. Ini sungguh ADEGAN yang berbahaya karena akses napas bisa terganggu.
  3. Pastikan ngupil di TEMPAT yang tepat, yaitu bukan ngupil pada hidung orang lain. Apalagi lobang idung buaya. BAHAYAAAAAAA!!!
  4. Jangan GUNAKAN ibu jari atau jempol untuk ngupil, apalagi jempol kaki. BUSET! soak mampus idung lo!
  5. PILIH lokasi yang tepat bagi hasil aktivitas ngupil. Usahakan untuk tidak meletakkannya (lagi) pada rongga hidung, apalagi pada rongga mulut. *langsung cobain*
  6. Hindari nyicip upil yang didapat, karena perbuatan ini (mungkin) dapat MENYEBABKAN ketagihan pada jangka waktu tertentu, sekaligus dapat merusak moral bangsa.
  7. Bila PERLU, isi ulang upil demi keberlangsungan dan kelestarian hidung. Isi ulang secara rutin dan sesuai dapat menjaga kondisi optimal ngupil pada kesempatan selanjutnya.



Peringatan (dan ide) penulis:
  • Mari kita galakkan kegiatan rutin ngupil sehat berjamaah setiap saat.
  • Gerakan ngupil berjamaah mungkin dapat memecahkan rekor dunia.
  • :D

Thursday, November 3, 2011

Cara Menyusun Esai yang Baik


1. Mengenai Esai
Esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subyek tertentu. Sebuah esai dasar sendiri dibagi menjadi tiga bagian: pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek; tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek; dan terakhir adalah konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek.
Menulis esai tidak sama dengan menulis karya tulis lain seperti makalah, opini, atau feature. Dalam menulis esai, penulis dituntut kreativitasnya tersendiri karena ia harus mampu mengungkapkan pemikiran mendalamnya terhadap suatu masalah tanpa bersikap kaku pada pembaca.  Sebuah esai ilmiah harus berisi argumen dan analisis yang jelas serta data-data yang akurat dan kredibel, tetapi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca. Sehingga secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus enak dibaca.

2. Langkah Membuat Esai
Dalam menyusun sebuah esai ilmiah yang baik, penulis sebaiknya mengikuti langkah menulis esai sebagai berikut :
a. Memilih Topik
Memilih topik adalah hal pertama yang dilakukan oleh penulis. Penulis juga hendaknya menentukan apakah akan membuat esai yang merupakan tinjauan umum masalah atau tinjauan/analisis topil secara khusus. Jika ingin menganalisis topic secara khusus, topik sebaiknya dipersempit dan harus spesifik. Topik esai yang penulis sukai akan membuat esai menjadi lebih berkarakter dan kuat.
b. Membuat Outline
Outline akan membantu penulis dalam meletakkan ide-ide tentang topik dalam naskah. Esai akan menjadi lebih terorganisir, fokus, dan sistematis.
c. Menuliskan Tesis
Pernyataan tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya
d. Menuliskan Paragraf Pembuka, Tubuh Esai, dan Kesimpulan
Sebagai pembuka dari esai, paragraf pertama sebaiknya dimulai dengan menarik perhatian pembaca. Bisa dengan memberikan suatu informasi nyata atau data yang bisa menjadi ilustrasi untuk poin penulis selanjutnya. Penulis bisa memulai dengan anekdot untuk menggugah rasa minat baca. Pada akhir paragraf pembuka, penulis menuliskan pernyataan tesisnya.
Pada bagian tubuh esai ini, penulis menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi secara lengkap untuk topik yang telah dipilih. Masing-masing ide penting yang penulis tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh tesis.
Kesimpulan merupakan rangkuman poin-poin yang telah penulis kemukakan dan memberikan perspektif akhir anda kepada pembaca. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat, tetapi jangan jangan menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh tesis di atas.
e. Editing
Penulis hendaknya membaca ulang tulisannya dan meneliti apakah tata bahasa yang digunakan sudah tepat dan apakah kalimat satu dengan yang lain padu atau mengalir dengan lancar. Jika ada yang kurang, penulis bisa merevisi esainya. Pengeditan akan menyempurnakan bahasa esai.

Jika ingin sumber yang lain, bisa klik link ini http://lklivingston.tripod.com/essay/
Sumber: http://psaffisipui.wordpress.com/