Showing posts with label Reinkarnasi. Show all posts
Showing posts with label Reinkarnasi. Show all posts

Tuesday, April 1, 2014

Kenapa Harus Jadi PNS?

Yakin jadi PNS?
Ceritanya, seorang ayah sedang pusing tidak kepalang. Bagaimana tidak, anak laki-lakinya yang sulung yang menjadi tumpuan cita-citanya menolak untuk jadi pengusaha. Anaknya bersikeras ingin jadi pegawai negeri. Alasannya sederhana menjadi pengusaha penuh resiko dan melelahkan, sementara jadi pegawai negeri kerjanya santai, uangnya pasti (meski tidak kerja serius dan sering bolospun gaji tidak berkurang), terus waktu tua dapat jaminan.

Bapaknya marah besar dengan alasan tersebut.

“Bapak ini pegawai negeri tapi bapak tidak bekerja dengan alasan seperti kamu.”, demikian suara keras sang Ayah.

“Bapak mengabdikan diri pada negeri ini meski bapak sering merasa asing di negeri sendiri…Bapak sering merasa tolol di antara para pemeras rakyat yang sah di mata hukum. Jadi pengusaha itu lebih mulia, kamu bisa membantu memberi nafkah orang lain…” bentak bapak.

Babak Baru Hidup Segera Dimulai


Life is a choice..
Huh hah huh hah!!!

Lama banget rasanya sejak terakhir kali gue mosting di blog. Berapa ribu momen terlewatkan buat gue share di sini? Berapa juta kata-kata yang luput gue sampaikan lewat portal maya ini? Ampundeh… saking (sok) sibuknya akhir-akhir ini sampai kehilangan kebahagiaan dan kemerdekaan gue dalam menulis dan mencurahkan segala hal lewat tarian jari-jari di keyboard.

Detik ini gue mulai lagi, harus mulai dari awal dan meskipun begitu belum tentu juga bisa sama seperti dulu. Sedih rasanya ketika kebahagiaan ini terenggut oleh yang namanya rutinitas yang gue sendiri belum bisa mengaturnya. Entahlah, mau gimana juga nantinya bakal harus gue jalanin dengan sungguh-sungguh dan istiqomah (ceileeeh…bahasa gue udah kayak ustad-ustad ye..).

Thursday, April 11, 2013

Kontemplasi Absurditas Sisyphus karya Albert Camus

Parodi Myth of Sisyphus | distilleryimage
Sudah lama rasanya sejak terakhir kali membaca filsafat. Mungkin tiga bulan yang lalu ketika saya membaca Myth of Sisyphus-nya Albert Camus. Saya ingat waktu itu saya baca itu karena ada tugas dari dosen. Tugas untuk menganalisis berbagai macam karya sastra dengan dikontemplasikan pemikiran tokoh filsafat eksistensialis. Secara garis besar karya ini menceritakan tentang Sisyphus yang dikutuk dewa untuk menggelindingkan batu dari kaki gunung ke puncaknya. Berkali-kali pekerjaan itu dilakukan dan berkali-kali pula batu itu menggelinding ke kaki gunung. Kata para dewa, tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tanpa harapan.

Eksistensialisme Marcel dalam Libri di Luca: Bukan Resensi

Libri di Luca
Ada sekelompok orang yang menamakan dirinya Lector. Mereka adalah orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Orang-orang yang mampu memengaruhi orang lain lewat sebuah bahan bacaan yang dibacakannya. Memengaruhi orang tanpa mereka sadari. Memengaruhi pandangan mereka pada tulisan, tema atau hal lainnya. Bahkan bisa mengubah pendapat seseorang tentang sebuah masalah, semau mereka. Apakah ini kemampuan, bakat atau bencana yang bisa merugikan orang lain?

Diawali dengan kematian seorang pemilik toko buku terkenal di distrik Vesterbro, Kopenhagen, perjalanan kisah ini bermula. Libri di Luca, nama toko buku tersebut. Toko buku legendaris milik keluarga pecinta buku, Campelli. Luca Campelli adalah generasi kesekian yang mewarisi harta berharga tersebut sebelum akhirnya meninggal di toko buku miliknya karena—menurut banyak pendapat—terkena serangan jantung. Dia juga seorang Lector. Sepeninggalnya, kepemilikan Libri di Luca kemudian jatuh ke anak Luca satu-satunya yang berprofesi sebagai pengacara, Jon Campelli.

Tuesday, April 9, 2013

Sisi Gelap Manusia

meski berkali-kali kukatakan dan kuyakini
bahwa manusia adalah gudangnya khilaf
namun cibiran tetap menohok sinis
sembari bisik-bisik lewat pintu belakang
merendahkan menghina dan segala kata usil

tapi tak mengapa
sebab manusia memeang cenderung diperbudak nafsunya
dan memperbudak sesamanya
pemuda manislaku di muka kedua orang tuanya
yang ternyata berjalan mengitari pusat perbelanjaan
mencari mangsa perempuan tua yang nampak berpunya

Friday, March 22, 2013

Renungan Nakal di Penghujung Hari


Sumber: wallpaperswala.com
Merasa lemah bagi manusia ialah sesuatu yang wajar bagi makhluk angkuh laiknya manusia. Lemah tak kenal gender. Lemah tak pandang usia. Lemah tak peduli jabatan. Lemah tak perlu batasan terestrial. Everybody’s going to be weak whenever they want to. Mmm I’m sorry, it should be weird but yea, whenever they will, it will... Seseorang bisa merasa lemah atau sekedar lemah biasa atau memang benar-benar dia orang lemah. That’s no prob, guys. Any difference? It’s all about W E A K.

Suatu ketika, di sebuah bilik sempit di tepi rel kereta, seorang pria bersenandung dengan diiringi alunan cello gitarnya. Dari bibirnya yang kering terlantun irama-irama In My Life-nya The Beatles. Nadanya tak begitu jelas dan artikulasinya juga begitu payah. Dia hanya tampak seperti bergumam alih-alih bernyanyi. Satu-satunya hal yang membuatnya terdengar melantunkan In My Life itu adalah dentingan gitarnya yang mantap. Dia memainkannya dengan hati. Entahlah, aku tiba-tiba bisa merasakan apa yang pria itu rasakan. Dia sedang mengutarakan rindunya. Lewat dentingan senar akustik, dia mencoba mengirimkan ungkapan-ungkapan rindunya entah pada siapa, atau apa.

Monday, February 18, 2013

Saat Jogja Bener-Bener Njogjani


Beautiful Jogja trip destination.
Enam hari di Jogja menyadarkan gue banyak hal. Enam hari di Jogja membuat gue lebih merasa punya hati. Enam hari di Jogja menjadikan otak gue bisa bekerja lebih dari biasanya. Enam hari di Jogja belum pernah gue lakuin sebelumnya. Enam hari di Jogja tidak hanya sekedar perjalanan fisik, nurani lebih banyak bicara. Enam hari di Jogja, kota ini sungguh luar biasa. Enam hari di Jogja, enam tahun pun rasanya masih kurang cukup untuk menguak rahasia di balik pesona dan misteri kota kecil ini.

Jogja kini dan dulu jaman esempe sepertinya masih tak jauh berubah. Malioboro masih di sana, Tamansari masih di situ, Prambanan juga tetep berdiri tegak, Gudeg juga masih manis, bakpia juga masih tetep “pathok”, dan katanya Sarkem juga masih ada meskipun gue juga sama sekali nggak pernah kesana. Pesona kekunoan Jogja masih banyak terasa di banyak arsitektur art deco di sepanjang kota tua ini. Khasanah kota budaya yang semenjak masa Kerajaan Mataram ini sudah mewarisi banyak tradisi masih tetap terawat baik.

Friday, December 14, 2012

Dapatkah Thou kembali menjadi It?


I and Thou | gambar: gfxtra.com
Pandangan filsafat Martin Buber tertuang dalam sebuah buku, yang tidak terlalu tebal untuk sebuah buku filsafat, berjudul I and Thou. Pandangan utamanya dalam buku ini menyatakan bahwa awal dari segala sesuatu adalah relasi. Manusia hidup dalam relasi. Baginya, all real living is meeting, manusia akan hidup terisolir jika tanpa melakukan relasi apa-apa. Relasi yang pertama adalah I-It, dan yang kedua adalah I-Thou.

Absurd Hero dalam Mythe of Sisyphus

Sisyphus | gambar: photobucket.com

Di dalam “Mythe of Sisyphus” karya Albert Camus, ada bagian yang membahas mengenai manusia absurd. Pada bagian ini, Camus menginterpretasikan atau lebih tepatnya merefleksikan pemikirannya tentang absurditas dalam tiga kisah menarik. Kisah-kisah ini memberi pemahaman rumit tentang manusia absurd itu. Saya merasa ikut menjadi absurd atau mungkin sayalah absurd hero itu ketika membaca ke-absurd-an pemikiran Camus dalam tiga kisah manusia absurd tersebut.

Sunday, October 28, 2012

Ibuuuuuuuuuuu...


Merasa termarjinalkan, lagi-lagi perasaan seperti ini turut mewarnai hariku dari kemarin. Memikirkan kata-kata ibu di telepon dan short message yang intinya sama. Aku jadi anak bagaimana sebenarnya? Jauh dari orang tua, dulu jadi anak paling bandel di rumah, tidak bisa merawat diri sendiri dan sekarang jatuh sakit. Merasa termarjinalkan, warna kelabu temaram menjadi aura yang mengikutiku mungkin sejak kemarin

Ibu bilang,”salah sendiri tidak pulang, kalau sakit beneran ya sana rasain sendiri, kalau udah sembuh cepet kabarin.” Mungkin tidak ada yang salah dengan kata-kata itu. Tapi entah kenapa aku begitu memikirkannya. Kata-kata itu diulang dan sama persis di layar henpon dan di telinga. Intonasinya sama, datar tapi emosional. Jangan tanya ekspresi macam apa itu. Yang jelas aku menangkap nada kekecewaan seorang ibu.

Entahlah, aku termarjinalkan. Secara naluri inang dan pemikiran mungkin. Menjelang idul adha kemarin aku memang jatuh sakit. Imunitas menurun dan influenza menyerang. Ditambah leher serasa ditimpa sekarung beras, ngilu dan kaku. Kebanyakan teman satu kosan pulang ke kampung halamannya, merayakan lebaran qurban bersama keluarganya. Aku biasanya juga demikian. Tapi tahun ini, entahlah. Aku tidak ada keinginan pulang walaupun sebenarnya ingin. Biasanya walaupun tidak pulang kampung, minimal aku pulang ke rumah kakakku di Bekasi. Lebaran qurban bareng keponakan di sana. Biasanya selalu ada tradisi barbeque party semalam setelah idul adha. Maklum, daging banyak tinggal bakar.

Tapi kali ini, aku termarjinalkan. Secara fisik dan hati. Aku kembali memikirkan kata-kata ibuku kemarin dan pagi tadi di sms.

Terasingkan memang bukan hal yang mengenakkan. Sungguh. Itu hanya akan membuatmu merasa sepi dan kurang berguna. Dalam hal apapun. Aku merasa getir di dada. Tak tahu mungkin pikiranku terlalu tinggi mengawang dan tak tahu jalan pulang. Sekarang, tinggal nurani berbalut seonggok daging kemanusiaan. Nurani berkata tanpa diimbangi logika untuk berpikir. Melankolis dramatis, tapi mengalun cukup statis. Satu per satu serpihan piringan hitam memori aku ratakan.

Terasingkan membuatku berpikir. Tidak hal lain sesederhana keterlibatan. Ketika terlibat, jelas kita masuk dalam hal yang kita libatkan. Ketika melibatkan diri, membuat kita mengerti apa yang kita libati. Ketika aku mengerti apa yang aku libati, aku percaya dia selalu ada meski dalam dimensi berbeda. Seketika aku tersadar, sejujurnya aku tak pernah termarjinalkan. Semua itu fatamorgana.

Ibu, I miss you in my every single breath I have breathe away. I knew you always here (heart).


My Room, one corner of the room in my brain. October, 27th 2012

Tuesday, September 11, 2012

Eksistensi Individu, Manusia


Ikan eksistensialis.
What you are is the result of your choices rather than the reversed. 
You are what yourself to be!

Siapa yang tidak sependapat dengan kata-kata di atas? Coba tunjuk jari? Ada juga tuh yang bilang kalo you are what you are. Keduanya itu sangat jauh berbeda secara pengertian dan hakikat ekstensialis seorang insan. Sebenernya lo mau ngomongin apa sih, mbar?

Manusia hidup, tumbuh dan berkembang hakikatnya didasarkan pada pilihan. Pilihan-pilihan itulah yang menjadikan manusia menjadi manusia dan ada secara eksistensinya. Manusia yang eksistensialis adalah mereka yang berani membuat pilihan dalam hidupnya. Hidup manusia tidak mungkin hanya berjalan sebagaimana mestinya. Apa gunanya manusia diberi akal pikiran jika tidak digunakan dalam hal rasio dan penalaran secara harfiah maupun substansial.

You are what yourself to be. Setiap orang memiliki kemampuan dalam hal memilih. Bagaimana ia harus melangkah, menjalani hidup, memaknai setiap jengkal perjalanan, menghembuskan napas untuk kehidupan, memandang setiap fatamorgana, dan menjangkau segala hal di depan. Manusia bisa memilih. Memilih untuk bahagia, memilih untuk sukses, memilih untuk hal-hal lainnya.

Dunia tidak diatur kecuali oleh diri kita sendiri. Kita yang menentukan kemana kita akan menjadi dan melangkah untuk mencapai setiap pencapaian dalam hidup. Kecemasan muncul karena hidup yang hanya sementara. Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Tapi kadang ada orang-orang yang berkata bahwa dia ingin hidup lebih lama. Padahal sesungguhnya bukan tentang berapa lama kita hidup tapi bagaimana kita hidup. Hidup menjadi berharga karena kita tahu itu akan berakhir. Harus ada pencapaian dalam hidup sebelum kita meninggalkannya.

Kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa semakin lama kita hidup maka semakin lama kesempatan untuk bisa menjangkau setiap pencapaian. Menurutku, itu tidak masuk akal karena sungguh bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama biarpun masa hidupnya jauh berbeda. Hanya saja, beberapa orang tidak memilih untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di hadapannya dengan sebaik mungkin. Sedangkan beberapa orang yang lain sebaliknya.

Sekarang tinggal bagaimana kita menentukan diri kita masing-masing di masa depan. Akan menjadi seperti apa dan bagaimana. Setiap hal butuh proses, tidak ada yang instan. Bahkan untuk mie instan yang katanya instan, cara makannya pun harus dengan air panas yang notabene harus dimasak dulu. Jadi, jalani setiap proses hidupmu dengan usaha yang maksimal. Tentukan dari sekarang kalo kita harus bahagia di masa depan. Untuk bahagia, kita harus tahu caranya. Pelajari itu dan pilih dengan yakin! Jadi orang harus punya keyakinan!

Friday, November 18, 2011

Paradoks Alami Hidup

_kembali seperti sediakala. aku suka dengan kehidupan seperti ini. kehidupan yang labil. kehidupan yang dinamis. kehidupan yang penuh dengan intrik dan masalah. mungkin orang sering berpikir, mengapa orang lain begitu santai dan begitu beruntung dengan kehidupan mereka. itu pandangan yang sama sekali salah. di satu sisi, memang tidak ada hidup yang begitu sempurna tanpa gejolak. dan apa gunanya hidup kalau begitu monoton? disisi lain orang selalu menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya. paradoks kehidupan yang akan tetap abadi selama manusia masih menjadi penghuni dunia fana ini.

_aku tumbuh, belajar, menjalani dan mengamati dari hidupku sendiri dan sebagian dari pengalaman visual yang aku alami sendiri. setiap jengkal pengalaman begitu berarti. aku merasa begitu beruntung dan bersyukur atas semua yang sudah ataupun sedang aku alami. bersyukur, bersyukur dan bersyukur. itulah hakikat manusia di dunia. jalani yang terbaik dan semoga kita semua akan mendapat yang terbaik. wallahu alam.

_aku bersyukur masih diberi kehidupan, sgala nikmat dan berkah dari-Mu. Rabb.

Wednesday, November 16, 2011

Cerita yang Menguap

Menguap! Dua hari terkapar di perasingan. Terpapar segudang masalah dan pikiran duniawi. Sebenarnya anomali pada diri gue ini sudah bermula dari kurang lebih sebulan yang lalu. Hanya saja, waktu itu mungkin belum cukup bisa untuk menerima--setidaknya memahami--keadaan yang terjadi seolah begitu cepat. Rentetan kilat dan badai elektromagnetik (oke, ini lebay) menggantung dai langit-langit hidup gue semenjak itu.

Ehm, gue gak mau juga sih terlalu detail memaparkan apa yang terjadi. Jadi, cukup banyak kata pengganti yang dipake buat ngejelasin ini semua. Tapi intinya tetep sama. Masalah dan beban yang mulai gue tumpuk sejak sebulan yang lalu cukup banyak mengganggu dan cenderung mengurangi produktivitas gue dalam hal kreativitas. Mau dibilang apa juga boleh. Bayangin aja, selama sebulan ini yang gue lakuin sebagian besar cuma merenung, memikirkan gimana perjalanan hidup gue sama lo. Sehari dua puluh empat jam dan hampir sepertiganya bahkan lebih gue pake buat itu. Ekspektasi gue ke lo sama sekali berubah sekarang. Gue mungkin bejat dimata orang. Di lain sisi, ada dorongan dari dalam yang menuntut gue untuk bersikap realistis. Masih jaman hari gini manja, cowok cengeng? Ehm, semoga itu gak ada dalam kamus gue.

Masa lalu ya biarlah. Kita cuma bisa belajar dari kesalahan. Agar supaya tentunya gak mengulanginya lagi di masa depan. Tapi buat gue sih gak begitu banyak sisi negatif bagi kita. Sebagian besar diri lo jadi sebagian besar yang lain motivasi buat gue selama ini. Itu yang gue pertahanin sampe sekarang. Dan gue juga yakin gak akan pernah bisa untuk dilupain.

Cinta, keadaan, nafsu dan kesempatan. Empat hal yang mungkin jadi kunci di cerita gue kali ini. Empat hal yang banyak memberi warna keajaiban cinta kita. Empat hal yang belum sepenuhnya mendukung hubungan kita. Sebagian dari itu, tertanam dengan sangat luar biasa di alam bawah sadar gue. Sesuatu yang gak bisa dijelasin dengan hanya 200-5000 kata. Pemaparan ilmiah pun, belum bisa menelaah lebih lanjut mengenai gejolak aliran muatan negatif-positif yang terjadi antara kita. Dua kutub yang berbeda muatan tentunya ketika didekatkan akan saling melekat. Namun di sekelilingnya tanpa kita sadari juga, banyak muatan-muatan yang diluar batas kemampuan kita untuk mengendalikannya. Justru menentang aliran negatif-positif kita.

Semua cerita tentang kita. Semua kisah tentang cinta kita. Semua hal terindah antara kita. Semua motivasi tersembunyi antara kita. Semua keajaiban yang kita ciptakan dan sama-sama kita rasakan. Semua spirit yang membuat kita menikmati indahnya hidup. Semua pelajaran yang bisa kita ambil. Semua kesalahan yang sudah kita jalani dan kita bisa memperbaikinya. Semua perjalanan hidup yang begitu mengesankan. Semua cerita tentang kita. Semua itu akan jadi satu. Satu untuk kita. Sekarang ataupun nanti. 

Tuesday, October 18, 2011

Semut Nangkring di Lidah

Kebiasaan buruk datang, melanda, meng-injeksi kehidupan gue sekarang. Bukan bermaskud lebay tapi memang demikian  adanya. Seperti halnya misalnya, semalem nih ya gue baru aja membunuh makhluk tidak berdosa dan tidak berdaya dengan sewenang-wenang. Seperti tanpa rasa bersalah dengan santainya gue memites seekor semut yang nangkring  di lidah gue.

Bagi sebagian orang mungkin itu biasa, begitu juga bagi gue jika situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan (disingkat jadi sikon******) tentu akan berbeda. Semalem posisi gue sedang dalam kondisi berpikir, yah, benar! Berpikir! Jarang-jarang kan gue melakukan hal bodoh semacam itu. Bujubuset! Emang gue sebodoh itu ya? (walaupun begitulah kenyataannya tapi setidaknya tidak perlu dipertegas disini deh).

Ketika gue membunuh semut itu, emang belum ada perasaan apapun. Baru setelah gue ambil semut tersebut dari lidah gue dan gue lihat ternyata sudah tidak bernyawa, kok rasanya ada yang ganjil. Ada rasa  penyesalan, kasian, terharu juga yang tiba-tiba muncul. Apalagi kalau gue kaitkan dengan buku etika dari K. Bertens yang sedang gue baca. Sepertinya kok gue sendiri sebagai manusia yang katanya paling beradab justru sudah melakukan tindakan yang immoral (catet! immoral beda dengan amoral ya). Begitulah, sekalipun hanya seekor semut, berarti gue sudah melanggar kaidah kebebasan yang dimilikinya, sebagai makhluk yang kemungkinan di kingdom-nya juga memliki apa yang mungkin mereka sebut Hak Asasi Hewan. Ya Tuhan, sebejat apa aku ini?

Kenapa sebelumnya gue gak berpikir demikian? Gimana kalau seandainya semut yang gue bunuh itu adalah bapak atau ibu semut? Terus gimana nasib anak-anak mereka? Jadi yatim dong? Terus seandainya itu anak semut, gimana juga perasaan orang tuanya kalau tahu anaknya tewas terbunuh dan jenazahnya gak ditemukan? (setelah gue bunuh langsung gue buang gaktau kemana soalnya, sadis banget kan?).

Semut itu kan sama-sama makhluk Tuhan, apalagi mereka punya banyak keistimewaan, suatu mukjizat yang luar biasa. Kalau kita lihat video atau tulisan dari Harun Yahya  tentang keajaiban semut, kita akan tahu betapa makhluk sekecil ini mampu melakukan dan menjadi prototype dalam hal-hal besar.

Sebagaimana kita lihat bahwa ada sekitar 8800 spesies semut yang sangat luar biasa. Mereka berkoloni dan mampu melakukan hal-hal besar di luar kapasitasnya sebagai makhluk lemah. Bagaimana mereka bisa merancang suatu jalan raya (semut atta), metode pertahanan diri yang luar biasa, semut penenun, semut pemanen, semut madu, penguasa taktik yang dimiliki oleh semut api dan sebagainya.
Keajaiban pada Semut

Oleh karena itu, kita sebagai sesama makhluk yang diberi naluri dan kebebasan dalam mengelola alam ini, sudah sepantasnya untuk memiliki masing-masing peri-***  yang pada nantinya akan semakin mendewasakan kita agar saling menghargai dan menghormati sesama makhluk Tuhan, sekecil dan selemah apapun dia.

Masih menyesal, sudah membunuh semut itu semalem. Semoga diterima disisi-Nya dan dosaku diampuni. Amin...