Showing posts with label Sosial Masyarakat. Show all posts
Showing posts with label Sosial Masyarakat. Show all posts

Tuesday, April 1, 2014

Kenapa Harus Jadi PNS?

Yakin jadi PNS?
Ceritanya, seorang ayah sedang pusing tidak kepalang. Bagaimana tidak, anak laki-lakinya yang sulung yang menjadi tumpuan cita-citanya menolak untuk jadi pengusaha. Anaknya bersikeras ingin jadi pegawai negeri. Alasannya sederhana menjadi pengusaha penuh resiko dan melelahkan, sementara jadi pegawai negeri kerjanya santai, uangnya pasti (meski tidak kerja serius dan sering bolospun gaji tidak berkurang), terus waktu tua dapat jaminan.

Bapaknya marah besar dengan alasan tersebut.

“Bapak ini pegawai negeri tapi bapak tidak bekerja dengan alasan seperti kamu.”, demikian suara keras sang Ayah.

“Bapak mengabdikan diri pada negeri ini meski bapak sering merasa asing di negeri sendiri…Bapak sering merasa tolol di antara para pemeras rakyat yang sah di mata hukum. Jadi pengusaha itu lebih mulia, kamu bisa membantu memberi nafkah orang lain…” bentak bapak.

Babak Baru Hidup Segera Dimulai


Life is a choice..
Huh hah huh hah!!!

Lama banget rasanya sejak terakhir kali gue mosting di blog. Berapa ribu momen terlewatkan buat gue share di sini? Berapa juta kata-kata yang luput gue sampaikan lewat portal maya ini? Ampundeh… saking (sok) sibuknya akhir-akhir ini sampai kehilangan kebahagiaan dan kemerdekaan gue dalam menulis dan mencurahkan segala hal lewat tarian jari-jari di keyboard.

Detik ini gue mulai lagi, harus mulai dari awal dan meskipun begitu belum tentu juga bisa sama seperti dulu. Sedih rasanya ketika kebahagiaan ini terenggut oleh yang namanya rutinitas yang gue sendiri belum bisa mengaturnya. Entahlah, mau gimana juga nantinya bakal harus gue jalanin dengan sungguh-sungguh dan istiqomah (ceileeeh…bahasa gue udah kayak ustad-ustad ye..).

Friday, December 13, 2013

Bekerja Atau Berpura-Pura Sibuk?

Back to busy...back to work.
Tak perlu berpura-pura sibuk.

Orang dinilai dari karya yang dituntaskan dan bagaimana ia mengerjakannya.

Bukan dari seberapa lama ia duduk di balik meja kerja, atau seberapa banyak pertemuan yang diikutinya, atau seberapa padat jadwal waktunya. Sungguh jauh berbeda pengertian sibuk dengan bekerja.

Pekerjaan terkadang menuntutmu untuk sibuk. Namun, sibuk tidak selalu berarti bekerja. Berperilaku sibuk lebih mudah dilakukan ketimbang bekerja.

Apakah kamu sibuk agar tampak bekerja?

Tuesday, November 12, 2013

Masalah dan Analogi Segelas Air

image: ryandutka.com
Nah ini ada cerita yang menurut saya asosiasinya oke untuk terus-terus diingat ketika lagi berhadapan dengan masalah. Semoga kamu dapat deep-insight...

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Steven Covey, pakar Leadership-7 Habits, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: seberapa berat menurut Anda segelas air ini?

Friday, May 17, 2013

Skripsi vs Pacar, Mana yang Paling Benar?


Skripsi lo... | Sumber gambar: hamdandesign.net
Saat menjadi mahasiswa, banyak hal menyenangkan bisa lo dapet. Pengalaman, teman, ilmu, keterampilan, sampai ke gebetan atau pacar juga bisa aja lo dapetin. Seiring waktu berjalan, hingga sampailah sang mahasiswa menjadi “mahasiswa tingkat akhir” yang punya momok menakutkan bernama skripsi, tugas akhir atau apalah itu namanya. Istilah di kampus gue buat tugas akhir mahasiswa tingkat akhir jenjang S1 itu ya skripsi.

Skripsi menjadi semacam dementor yang gemar mencium dan menyedot hawa kebahagiaan dari orang-orang. Kalo dalam kasus ini ya itu tadi, mahasiswa tingkat akhir. Ketika mengerjakan skripsi, banyak masalah yang sering muncul. Mulai dari uang saku menipis, teman yang satu-per-satu mulai nggak keliatan, orientasi hidup yang fluktuatif, pertanyaan dari ortu “kapan lulus? kapan wisuda?” dan masalah sama pacar.

Thursday, April 11, 2013

Kontemplasi Absurditas Sisyphus karya Albert Camus

Parodi Myth of Sisyphus | distilleryimage
Sudah lama rasanya sejak terakhir kali membaca filsafat. Mungkin tiga bulan yang lalu ketika saya membaca Myth of Sisyphus-nya Albert Camus. Saya ingat waktu itu saya baca itu karena ada tugas dari dosen. Tugas untuk menganalisis berbagai macam karya sastra dengan dikontemplasikan pemikiran tokoh filsafat eksistensialis. Secara garis besar karya ini menceritakan tentang Sisyphus yang dikutuk dewa untuk menggelindingkan batu dari kaki gunung ke puncaknya. Berkali-kali pekerjaan itu dilakukan dan berkali-kali pula batu itu menggelinding ke kaki gunung. Kata para dewa, tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tanpa harapan.

Eksistensialisme Marcel dalam Libri di Luca: Bukan Resensi

Libri di Luca
Ada sekelompok orang yang menamakan dirinya Lector. Mereka adalah orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Orang-orang yang mampu memengaruhi orang lain lewat sebuah bahan bacaan yang dibacakannya. Memengaruhi orang tanpa mereka sadari. Memengaruhi pandangan mereka pada tulisan, tema atau hal lainnya. Bahkan bisa mengubah pendapat seseorang tentang sebuah masalah, semau mereka. Apakah ini kemampuan, bakat atau bencana yang bisa merugikan orang lain?

Diawali dengan kematian seorang pemilik toko buku terkenal di distrik Vesterbro, Kopenhagen, perjalanan kisah ini bermula. Libri di Luca, nama toko buku tersebut. Toko buku legendaris milik keluarga pecinta buku, Campelli. Luca Campelli adalah generasi kesekian yang mewarisi harta berharga tersebut sebelum akhirnya meninggal di toko buku miliknya karena—menurut banyak pendapat—terkena serangan jantung. Dia juga seorang Lector. Sepeninggalnya, kepemilikan Libri di Luca kemudian jatuh ke anak Luca satu-satunya yang berprofesi sebagai pengacara, Jon Campelli.

Tuesday, April 9, 2013

Sepak Bola! Menggelinding Pun Memakai Otak!

gempita seluruh hamparan lapangan
berpeluh air liur ambisi kemenangan
mengatur siasat agar tendangan menuju sarang kemuliaan
dan jutaan umat gempar berteriak bagai perang kumpulan raksasa
dari segala penjuru dunia...
pada detik yang sama, waktu yang sama
mempunyai reaksi seragam yang seiring sama
begitu bermaknanyabenda bulat bundar yang terlempar lewat otot-otot kaki itu
mengelabui pihak lawan dengan segala aksi
menari atas kejelian kecerdasan otak, lagi-lagi menuju kaki

Sunday, March 31, 2013

Jakarta Night Trip: Menikmati Sudut Malam Jakarta



Menanti sunrise di Sunda Kelapa
Jakarta, sebuah kota megapolitan dengan segala hingar-bingar kesibukannya, dikenal dengan kota yang tak pernah tidur. Ya, sebelas-duabelas sama NY lah. Kemacetan, panas, polusi udara, kebisingan, bau menyengat menjadi warna kota yang dulunya dikenal dengan nama Batavia ini. Selain itu, gedung-gedung tinggi, pusat-pusat perbelanjaan modern, hingga pemukiman kumuh memberikan kesan kontras. Masyarakatnya yang heterogen dengan berbagai latar belakang, menghuni setiap sudutnya. Di sisi lain, pesona eksotisme kota ini masih cukup mengundang bagi para pemburu tempat-tempat unik dan menarik. Apalagi jika mendatanginya pada momen yang tidak biasa.

Berawal dari obrolan ringan di kosan, gue bareng lima temen berniat melakukan trip yang beda dari biasanya kebanyakan orang menikmati Jakarta. Jakarta Night Trip, kami menyebutnya. Menikmati Jakarta di siang hari mungkin sudah terlalu biasa bagi gue yang punya derajat kepenasaran terlalu over dan suka hal-hal baru yang ekstrim. Jakarta harus gue eksplor dengan cara yang lain dari biasanya. JNT ini juga terinspirasi dari beberapa artikel di internet yang membahas beberapa tempat di Jakarta yang menarik untuk dinikmati di malam hari.

Monday, February 18, 2013

Saat Jogja Bener-Bener Njogjani


Beautiful Jogja trip destination.
Enam hari di Jogja menyadarkan gue banyak hal. Enam hari di Jogja membuat gue lebih merasa punya hati. Enam hari di Jogja menjadikan otak gue bisa bekerja lebih dari biasanya. Enam hari di Jogja belum pernah gue lakuin sebelumnya. Enam hari di Jogja tidak hanya sekedar perjalanan fisik, nurani lebih banyak bicara. Enam hari di Jogja, kota ini sungguh luar biasa. Enam hari di Jogja, enam tahun pun rasanya masih kurang cukup untuk menguak rahasia di balik pesona dan misteri kota kecil ini.

Jogja kini dan dulu jaman esempe sepertinya masih tak jauh berubah. Malioboro masih di sana, Tamansari masih di situ, Prambanan juga tetep berdiri tegak, Gudeg juga masih manis, bakpia juga masih tetep “pathok”, dan katanya Sarkem juga masih ada meskipun gue juga sama sekali nggak pernah kesana. Pesona kekunoan Jogja masih banyak terasa di banyak arsitektur art deco di sepanjang kota tua ini. Khasanah kota budaya yang semenjak masa Kerajaan Mataram ini sudah mewarisi banyak tradisi masih tetap terawat baik.

Sunday, October 28, 2012

Seremonialitas Sumpah Pemuda


Sumber: search button from Twitter for Blackberry
Jangan bebani harimu dengan “sumpah pemuda” yang muluk-muluk. Mending yang simpel tapi konsisten dan komitmen pada apa yang diucapkan.

Hari ini di twitter begitu ramai twit yang mengutarakan pendapat mereka mereka mengenai Sumpah Pemuda. Apa mereka tahu maknanya atau tidak, itu urusan lain. Pokoknya lihat apa yang lagi rame, langsung deh ikutan. Twitnya pun bermacam-macam, mulai dari sekedar mengucapkan selamat hari sumpah pemuda, mengkritisinya, mengalaykan, bahkan menggalaui Hari Sumpah Pemuda pun ada.

Saya tertarik dengan twit seorang wanita yang cukup simpel tapi silakan dinilai sendiri. Demikian isi twitnya:
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Hari dimana para pemuda harus merealisasikan sumpah-sumpah mereka. Hayolooo…

Monday, July 30, 2012

Lelaki yang Ditunggu Dunia

sumber: montgomerytoday.blogspot.com
Saat ini dunia berharap pada para pria yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan mengikuti banyak pelatihan, mencermati perkembangan terakhir yang ada di dunia ini dan menganalisis berbagai peristiwa daripada mereka yang sibuk berhura-hura, pergi ke salon, menata rambut, mempermak wajah dan memperkaya aksesorisnya.

Dunia, jauh lebih berharap kepada seorang pria yang peduli akan lingkungannya, kepada permasalahan bangsanya, ketimbang pria yang menghabiskan uangnya untuk memepercantik kulitnya.

Haha, bentar-bentar…sebenarnya apa yang sedang kita omongin ya? Oiya, saya coba jelaskan, sebenernya kita sedang membahas tentang pria uberseksual. Apa itu? Emang tu juga istilah baru. Apa sama dengan pria metroseksual? Apa malah homoseksual? Uberseksual, kalau dengan istilah metroseksual ya hampir-hampir mirip lah tapi kalau dengan istilah homoseksual, hmmmm kayaknya jauh deh. Hahaha

Istilah uberseksual itu diciptakan oleh sosiolog Amerika, Marian Salzman. Ehmm, sebenarnya istilah metroseksual juga diciptakan olehnya dan dia pulalah yang membunuh sitilah eh istilah tersebut. Istilah ini berasal dari bahasa Jerman, ‘uber’ yang berarti ‘segalanya, unggul, superior’ dan bahasa latin ‘sexus’ yang artinya ‘gender’. Jadi lelaki uberseksual bisa diartikan sebagai ‘lelaki yang mempunyai sifat dan karakter unggul dan superior’.

Menurut Marian Salzman, lelaki uberseksual adalah lelaki yang menggunakan aspek positif maskulinitas, seperti kepercayaan diri, kepemimpinan dan kepedulian terhadap ohrang lain di kehidupannya. Pria ini lebih sangat peduli pada nilai-nilai dan prinsip hidupnya dan lebih memilih untuk memeperkaya ilmju dan wawasannya di sela-sela waktu kososng yang ia miliki. Nah, pada saat ini dunia membutuhkan sosok lelaki dengan karakter yang telah disebutkan di atas.

Saya akan mencoba mengambil anekdot tentang lelaki uberseksual dan metroseksual karena pengertian keduanya kadang disamakan tapi sebenarnya jauh berbeda.
Jika lelaki metroseksual membelanjakan uangnya untuk ke salon atau bersenang-senang di mall, pria uberseksual menginvestasikan uangnya di bisnis, lembaga social atau keagamaan.
Jika lelaki metroseksual lebih nyaman berada di gym untuk memebentuk ototnya, pria uberseksual lebih senang menjejakkan kakinya ke lumpur, berkutat dengan masalah erosi pantai.
Jika lelaki metroseksual memeperbincangkan masalah mode terbaru, pria uberseksual memeperbincangkan masalah moral yang makin parah di bangsa ini.
Jika lelaki metroseksual lebih memilih berhura-hura di akhir pekannya, pria uberseksual mendatangi perpustakaan untuk mengisi otaknya dengan berbagai wawasan.
Namun, walau mereka sekokoh karang dalam meyakini prinsip-prinsip hidupnya, mereka juga adalah pria-pria yang hangat dan tidak kaku. Mereka memang tidak menangis jika menonton sinetron-sinetron kacangan di TV atau ditolak oleh wanita yang dicintainya, tapi mereka akan menangis jika melihat ketidakadilan terjadi dimana-mana, atau sangat terharu jika ada bencana yang menghancurkan rumah-rumah penduduk yang miskin. Mereka begitu peduli dengan orangtuanya dan kawan-kawannya.

Itulah kualitas seorang lelaki uberseksual. Mereka kaya dan memanfaatkan kekayaannya untuk kebaikan dunia. Mereka tenar dan memanfaatkan ketenarannya untuk mengajak orang lain untuk berbuat baik. Mereka cerdas dan memanfaatkan kecerdasannya untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan dunia. Mereka stylish dan rapi, tetapi tidak berlebihan. Mereka berhati hangat tapi tidak cengeng. Mereka tidak hanya memikirkan penampilannya, keluarganya, atau bisnisnya, tetapi juga memikirkan bangsanya. Mereka memiliki mimpi-mimpi untuk dunia ini dan bekerja keras mewujudkannya. Itulah para lelaki uberseksual.

Itulah para LELAKI MASA DEPAN…

Mereka…adalah para lelaki yang ditunggu dunia….

Terimakasih:
Wahyu Awaludin dan Marian Salzman

Friday, July 27, 2012

Tempe untuk Kehidupan


Siapa sih yang gak kenal tempe?
Hari ini, Jumat (27/7) adalah hari terakhir pedagang-pedagang di Jakarta dan sekitarnya mogok jualan tempe. Yah, sejak tiga hari yang lalu pedagang dan produsen tempe di area Jakarta melakukan mogok produksi dan jualan. Hal ini dipicu aksi protes mereka terhadap pemerintah yang dirasa tidak mampu mengendalikan dan mengatasi melambungnya harga kedelai di pasar nasional. Puncaknya, pada Selasa (24/7) kemarin ketika Gakopttindo (Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia) melakuka aksi sweeping di pasar-pasar untuk menyita tempe dan tahu dari para pedagang. Aksi ini mendapat tanggapan pro dan kontra dari masyarakat.

Itu sekilas tentang kondisi di Jakarta yang saya alami beberapa hari terakhir menyikapi fenomena kelangkaan dan melambungnya harga kedelai nasional. Tapi di sini saya melihat dari sisi lain dari fenomena ini. Ketika mendengar isu-isu tentang kelangkaan kedelai dan berimbas pada berkurangnya produktivitas tempe di Jakarta, saya langsung menghubungi keluarga saya di kampong (Kebumen, Jawa Tengah). Bukan apa-apa, karena dari dulu tempe adalah makanan favorit saya dan keluarga. Maklum orang desa seperti saya ini tentu punya ketertarikan berbeda dengan orang kota pada umumnya. 

Saya menelpon ibu saya dua hari yang lalu, menanyakan;

“Bu, emang di Kebumen tempe langka bu?”

“Enggak tuh, emang kenapa?”, Ibuku menjawab dengan nada heran.

“Nggak ada, Bu. Cuma di Jakarta ini sekarang tempe lagi langka, katanya harga kedelai naik.”

“Oh ya? Berarti kesempatan buat Ibu bisa jual kedelai ke Jakarta ya?”, Ibuku komentar dengan semangat, padahal beliau gak pernah jualan kedelai.

“Ibu ada-ada aja. Sejak kapan jualan kedelai? Tapi bener nih Bu, di rumah tempe masih banyak di bibi-bibi yang jualan itu?”

“Namanya juga usaha, De. Hehehe. Iya, beneran di rumah banyak tuh tempe. Harganya juga gak ada bedanya dari kemarin-kemarin. Ibu tahu nih kenapa Jakarta rebut-ribut soal tempe. Pasti karena masalah apa itu namanya improt-improt itu kan? Lha wong Negara yang katanya kaya sumberdaya alam dan tanahnya subur kok masih ngandelin luar negeri buat masalah pangan. Lho kok ya kenapa nggak pemerintah yang telaten ngoordinir masyarakatnya buat membangkitkan kembali kekuatan pangan Negara. Dulu aja bisa swasembada pangan kok ya sekarang gak bisa”, Ibuku berkomentar dan saya membiarkannya meneruskan pendapat beliau itu.

“Lha terus, njur piye, Bu?”

“Kamu itu katanya mahasiswa kok ya nggak ada kritisnya sama sekali toh? Ibu ini sih curiga jangan-jangan isu-isu kayak gini itu bikinan pemerintah. Mungkin saja toh? Pemerintah sengaja membuat kedelai langka, terus dengan berlagak pahlawan akan menngeluarkan kebijakan khusus tentang ini sehingga setelah semua teratasi, citra pemerintah akan naik. Iya lah, mungkin aja ini politik pencitraan pemerintah loh.”

“Ibu jangan suuzon sama pemerintah gitu. Bisa aja kan ini karena emang bener-bener nyata dan bukan rekayasa pemerintah.”

“Oalah kamu ini kayak nggak ngerti politik aja, De. Kalo ada isu-isu yang berkaitan dengan masyarakat langsung kayak gini kan banyak orang toh yang tiba-tiba nongol sok pahlawan terus berpendapat ini itu. Biar dibilang pro-rakyat. Maklum to, lha wong bentar lagi kan pemilu presiden…” Komentar ibuku makin menjadi-jadi.

Itu cuma beberapa petikan percakapan telepon antara saya dengan ibu. Awalnya saya penasaran apakah kondisi yang terjadi di Jakarta, imbasnya juga dirasa di tempat lain, khususnya kampung saya. Ternyata di kampong saya tidak begitu signifikan dampaknya. Malah ibu saya yang punya argumen lain mengenai fenomena ini. Sungguh terlalu, saya merasa malu sebagai generasi muda yang kurang kritis pada fenomena yang terjadi di masyarakat.

Harapan masyarakat pada pemerintah begitu besar untuk kesejahteraan hidup mereka. Kedelai dan olahannya bagi sebeagian besar masyarakat Indonesia sudah menjadi kehidupan. Sisi kehidupan lain yang memang jarang atau bahkan tidak pernah absen dari kesehariannya. Bagaimana tidak, masyarakat Indonesia sudah begitu akrab dengan olahan bahan pangan satu ini. Tempe, tahu, kecap, oncom, susu kedelai, dan sebagainya merupakan hal yang sangat familiar di lidah orang Indonesia. Nah, kemudian apa yang terjadi jika tiba-tiba bahan pangan itu menghilang di pasaran?

Pemerintah dan masyarakat sudah seharusnya bersinergi untuk membangun kebijakan yang spektakuler dan strategis untuk menjaga stabilitas pangan nasional. Kebijakan yang pemerintah ambil dalam hal ini harus kompatibel dengan kebutuhan petani-petani tanah air. Merekalah pahlawan kita, sudah sepantasnya kita dukung dengan fasilitas dan sarana pendukung yang memadai. Harga-harga alat pertanian dan pupuk juga harus memadai dan seimbang antara potensi pendapatan dan pengeluaran yang harus mereka keluarkan. 

Kemudian yang tidak kalah pentingnya ialah masyarakat sendiri juga harus sadar lingkungan dan melakukan pengembangan pembangunan yang sadar alam. Jangan terlalu banyak menggerus lahan pertanian untuk membangun properti. Memang ini penting, tapi analisislah dampaknya ke depan. Bagaimana jika 20 tahun yang akan datang lahan pertanian di Indonesi sudah habis dan tidak produktif lagi. Kita akan semakin bergantung dengan Negara lain dalam hal pangan. Dengan begitu, bukankah sama saja kita menghancurkan sendiri kedaulatan Negara ini?

Semua pihak, marilah bercermin pada diri kita masing-masing, siapakah yang seharusnya bertanggung jawab akan fenomena yang terjadi selama ini?

Saturday, June 30, 2012

Alternatif Pengisi Liburan Panjang Mahasiswa

Libur telah tiba...
Libur telah tiba...
Hore...horeee! 
Horeeeeee.....!!
Libur telah tibaaaa....
Akhirnya pada liburan juga ya. Apa kabar kalian semua? Semoga baik-baik di alam sana (loh?). Liburan semester genap emang udah tiba, apalagi buat gue malah udah dari kemaren-kemaren. Secara kampus gue emang paling awal masuk masa liburannya. Dan itu berarti masuknya juga paling awal dong..........(aaaah preeeeet deh kalo inget masuk kuliah lagi)

Terlepas dari hiruk pikuk itu semua, mari kita berbagi tips untuk menghabiskan liburan yang hampir 3 bulan ke depan ini. Gak mungkin kan lo ngabisin waktu 3 bulan libur cuma buat ngendon di rumah? Hibernasi sepanjang waktu? Yang ada jadi kepompong terus keluar kupu-kupu. Iya kalo keluarnya kupu-kupu, kalo kumbang kotoran gimana? Item, jorok, agak bulet, menonjol gimanaa gitu. STOP! Hahaha.

Gue mau share aja tentang apa yang gue lakuin, mau lakuin dan udah gue lakuin selama liburan panjang ini. Yah, itung-itung bisa buat referensi buat blogwalker, pembaca, penulis, pengarang, penyair, politikus, pecinta alam, psikolog, dekaka yang sengaja atau gak sengaja mampir ke blog gue ini.

Ngiter-ngiter naik kendaraan umum. Mungkin ini terdengar aneh buat kalian ya. Pasti belum pernah nyobain kan? Makanya coba dulu baru komentar. Naik kendaraan umum keliling kota, bisa naik bus (kalo di Jakarta naik Trans Jakarta), kereta (ada Commuter Line). Mau jalan-jalan keliling kota ya ini alternatifnya. Bisa aja secara gak sengaja nemu tempat-tempat unik yang belum pernah keliatan sebelumnya di kota lo, ya kan? Sekalian wisata sosial juga loh. Mode transportasi umum kan memang alternatif sebagian besar warga kota. 


Ngeceng ke perpustakaan. Ada berapa banyak perpustakaan yang sudah pernah lo kunjungin sepanjang hidup lo? Berapa perpustakaan yang udah lo sambangin di kota lo sendiri? Kalo jawabannya masih di bawah 20, itu menunjukkan emang lo bukan orang yang demen perpustakaan (abaikan parameter ini, cuma buat gue). Bener, buat gue wisata perpustakaan jadi minat baru yang menyenangkan sekaligus menambah wawasan. Berkunjung ke perpustakaan, apalagi yang tempatnya nyaman dan cozy abis pasti akan bikin kita merasa betah dan ketagihan untuk ke sana lagi. So, bisa dicoba deh, buat lo-lo pada yang pengen hunting perpustakaan dan menambah daftar bacaan lo, cobain ini. Mulai dari kota lo sendiri, baru merambah ke tempat-tempat lain.


Nge-net. Bahasa gaul dari main internet. Siapa sih anak gaul sekarang yang gak doyan sama ini. Apalagi buat abege-abege labil yang keranjingan media sosial semisal fesbuk atau twiter. Kalo mereka udah onlen dijamin deh bakal betah berjam-berjam bahkan seharian di depan laptop, pc, tablet, atau handphone-nya. Tapi inget ya temen-temen, jangan terlalu berlebihan main internet. Tetep inget kesehatan, jangan lupa makan, istirahat dan bersosialisasi dengan kerabat sekitar juga penting. 


Baca, nulis. Dua hal ini emang salah satu hobi gue. Kalo udah ada bahan bacaan aja, bisa seharian buku itu gue lahap sampai lupa makan demi nyelesein bahan bacaan tersebut (jangan dicontoh). Membaca emang satu hal yang bikin otak kita fresh sekaligus bekerja keras. Menulis, juga emang sidejob gue. Apapun, kapanpun, dimanapun, kalo lagi pengen nulis, ya nulis. Dan jangan sembarang nulis. Kalo bisa sih nulis yang menghasilkan, bisa nulis cerpen, novel, artikel terus dikirim deh ke majalah, surat kabar atau penerbit. Siapa tahu beruntung terus diorbitin kan? Bisa juga kalo pas ada lomba-lomba penulisan (cerpen, novel, karya tulis, flash fiction, fiksi mini, dsb) kita ikut aja. Gak ada salahnya. Justru akan melatih kemampuan kita. Inget loh, menulis dan membaca itu dapat melatih daya analisis dan imajinasi seseorang.

Musik. Musik itu luas, seluas musik itu sendiri. Kalo gue tertarik dengan irama jazzy, ethnic dan blues. Dan gue selalu terkendala alat kalo pengen main musik. Jadi, ya seringnya cuma main gitar, iseng nyiptain lagi, ngaransemen lagu juga, direkam sendiri, dengerin sendiri, sukur-sukur kalo ada yang minta voice note, ya gue kasih deh. terus pasti deh, dapet pujian. Dibilang, mbar lo berbakat juga main gitarnya. Lagu lo bagus coba rekam yang lebih bener lagi. Cukup interesting sih buat gue.


Magang atau part-time. Ini nih yang sering dilakuin sama temen-temen gue kalo pas libur kuliah. Selain menambah pengalaman dunia kerja juga dapet income yang lumayan laah buat kocek mahasiswa. Dan yang terpenting sih, ngerasain bisa dapet duit sendiri dari kerja sendiri terus dinikmati sendiri tuh LUAR BIASA. Coba aja deh, buat lo yang pengen ngerasain. Magang lah sesuai dengan minat dan bidang lo, atau lintas bidang juga tak masalah selama lo bisa meng-handle-nya. It will gonna be ok if you belive you can do anything with your passion and keep hardworking!


Do the project. Definisi proyek itu macem-macem ya dan luas. Kalo buat mahasiswa macem gue sih proyek itu bisa berarti ngurusin kepanitiaan di kampus, ngerjain jobdes sebagai bagian dalam organisasi intra/ekstra kampus, ngerjain proyek sesuai bidang lo bareng tim, ikutan lomba (semisal PKM, Program Kreativitas Mahasiswa) bareng tim, dsb. Itu bisa juga untuk mengisi liburan kita loh, apalagi bisa menghasilkan juga. Itung-itung buat nambahin uang saku dan lagi bisa jadi proyek jangka panjang. Luar biasa bukan kalo emang lo mau memulai perubahan besar dalam hidup lo mulai dari: sekarang!


Backpacker-an. Bisa domestik bisa juga luar negeri. Tergantung persiapan yang kita lakukan. Tapi alangkah indah dan baiknya sebelum berkunjung ke luar negeri, kita nikmati dulu panorama alam negeri kita tercinta ini, Indonesia. Kita punya banyak tempat-tempat alternatif buat para backpacker yang menarik, semisal Karimunjawa, Wakatobi, Lombok, Maluku, Bunaken, Belitong, Kep. Seribu, pokoknya dari ujung Sabang sampai Merauke, Indonesia punya banyak hidden-tourism yang layak dan patut untuk dikunjungi.


Ayo bikin liburan ini lebih bermakna dan bermanfaat, setidaknya buat diri lo sendiri! 

Monday, June 18, 2012

M[alay]sia, Negeri Absurd yang Patut Dikasihani



Trending topic twitter sejak semalam (17/6)
News hari ini (18/6) seputar politik-budaya sedikit memanas. Bukan soal korupsi seperti makanan sehari-hari masyarakat Indonesia lewat media massa tapi justru hal yang mengusik jati diri bangsa ini. Ya, untuk ke sekian kalinya Malaysia mengklaim kebudayaan asli Indonesia. Kali ini tari Tor-Tor dan alat musik Gondang Sambilan yang merupakan khasanah bangsa Indonesia dari tanah Batak, Sumatera Utara.


Media massa berkoar, makanan empuk rating berita hari ini seputar klaim Malaysia. Masyarakat pun mengutarakan pendapatnya lewat berbagai media dan jejaring sosial. Sejak semalam trending topic twitter diisi oleh sejumlah statement orang Indonesia. Dear Malaysia, Tor Tor, #TorTorPunyaIndonesia mengisi trending topic twitter bahkan sampai tadi pagi ternyata masih juga bertengger di sana.

Wajar memang ketika apa yang kita miliki diklaim (diakui milik) oleh pihak lain. Pasti kita akan berjuang dengan menggebu-gebu bahwa itu memang milik kita. Bukan demikian, saudaraku? Kita, orang Indonesia memang cenderung suka heboh, sensitif dan kagetan. Ketika ada hal yang mengusik pribadi atau jatidiri, pasti akan langsung menjadi hal ‘panas’. 


Klaim Malaysia ini sudah yang ke-23 kalinya terhadap budaya kita. Setelah Reog, Angklung, Kain Ulos, Motif Batik Parang, lagu Jali-Jali, Tari Pendet, lagu Rasa Sayange, dan sebagainya, kini giliran budaya Batak, Tari Tor-Tor dan alat musik Gondang Sambilan. Kita patut bertanya, apa sebenarnya yang terjadi? Sebelum mengoreksi orang lain kan alangkah baiknya kita introspeksi ke dalam diri kita sendiri. 


Jika kita bercermin pada kasus-kasus klaim negeri tetangga ini sebelumnya, sepertinya memang ada yang salah dengan kita, orang Indonesia. Indonesia, negeri dengan berjuta pesona khasanah budaya dan surganya kesenian-kesenian yang sangat eksotis di mata dunia. Tapi dengan kekayaan budaya itu, rasa memiliki dan mencintai kita masih kurang. Apalagi di tengah arus globalisasi dan cenderung mulai kebarat-baratan, dewasa ini tidak sedikit generasi muda Indonesia yang enggan mencintai, menghargai apalagi sampai mempelajari budaya daerah. Jika sikap itu tidak muncul, bagaimana budaya daerah bisa tetap lestari di tengah gerusan jaman? 


Sebelum ada klaim Malaysia terhadap budaya kita, semisal tari Tor-Tor atau alat musik Gondang Sambilan, memang kita pernah tahu atau ingin tahu tentang produk budaya itu? Pernahkah kita sadar jika alat musik yang bernama Gondang Sambilan itu ada? Kebanyakan dari kita, khususnya generasi muda, akan menjawab “sejujurnya saya juga baru tahu sekarang”. 


Begitulah keadaannya, kita berkoar-koar ketika budaya kita diklaim negara lain tapi tak pernah peduli keberadaannya apalagi sampai pada tahap melestarikannya. Mungkin ini lebih baik daripada tidak pernah tahu sama sekali akan adanya budaya yang diklaim itu. Sedikit banyak, orang Indonesia juga harus berterimakasih pada m[alay]sia, karena adanya klaim ini masyarakat Indonesia sadar bahwa ternyata masih memiliki tarian yang bernama Tor-Tor dan alat musik yang bernama Gendang Sembilan. Cukup ironis memang tapi memang sepantasnya kita mulai peduli dengan apa yang memang menjadi milik dan hak kita, orang Indonesia.


Terkait dengan klaim ini, kita juga patut kasihan dengan Malaysia. Negeri yang miskin jatidiri dan sedang berusaha mencarinya. Mereka mengaku etnis melayu tapi tak ada unsur budaya milik mereka yang menjadi identitas. Mereka juga negeri yang too ambitious tapi terlalu naif juga dengan jargonnya, Malaysia Truly Asia, ingin menjadi negara yang merupakan miniatur asia dalam artian semua unsur asia ada di Malaysia. Bagaimana mungkin suatu negara yang tak beridentitas jelas seperti ini bisa menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia. Kita cukup tertawa saja melihat klaim yang Malaysia lakukan pada budaya-budaya kita.


Mereka hanya bisa memproduksi dan mempelajari tapi jiwa dari kesenian dan budaya tersebut hanya kita (orang Indonesia) yang memilikinya. Hakikat sebuah budaya adalah bisa hidup ketika ada jiwa (soul) di dalamnya. Kitalah yang memberi jiwa pada setiap produk budaya yang dihasilkan, Malaysia tak akan pernah bisa.


Akantetapi ini bukan pembenaran juga bahwa kita abai terhadap apa yang kita miliki. Kita tidak boleh lengah. Momentum ini, kita khususnya generasi muda yang visioner harus bisa merekonstruksi pemikiran kita. Harus mau belajar, memahami, peduli dan tanggap pada budaya daerah kita, minimal budaya daerah masing-masing. 


Khasanah bangsa ini, harga mati, harus kita lestarikan sekuat tenaga. Ada banyak cara untuk mengembalikan eksistensi budaya daerah yang maujud menjadi khasanah kebudayaan nasional ini. Bisa dengan mulai belajar seni-seni tradisional, menggelar event-event budaya daerah, menghidupkan kembali pusat-pusat kajian budaya daerah, dan bukan tidak mungkin kita mengajukan hak paten tentang khasanah budaya kita. Pada intinya, kembali pada sikap, menjaga dan melestarikan apa yang memang menjadi hak milik kita. Sederhananya demikian.

Jika bukan kita, siapa lagi? Sekarang atau menyesal selamanya!
Tari Tor-Tor, sumber: tobaphotographer.com

Alat musik Gordang Sambilan, sumber: 4.bp.blogspot.com

Thursday, June 7, 2012

Kimi no Koto ga Suki Dakara, Banget Deh!


jika kamu merasa bahagia
semoga saat ini kan berlanjut
selalu selalu selalu ku akan terus berharap
walaupun ditiup angin
kuakan lindungi bunga itu
cinta itu suara yang
tak mengharapkan jawaban
tapi dikirimkan satu arah
dibawah mentari tertawalah
menyanyi menari sebebasnya
karena kusuka suka dirimu
kuakan selalu berada disini
walau didalam keramaian
tak apa tak kau sadari
karena kusuka suka dirimu
hanya dengan bertemu denganmu
perasaanku jadi hangat
dan menjadi penuh
disaat dirimu merasa resah
berdiam diri aku mendengarkan
kuberi payung yang kupakai tuk hindari hujan
air mata yang terlinang lirik diambil dari jkt48.org
kan ku seka dengan jari di anganku
cinta bagai riak air
meluas dengan perlahan
yang pusatnya ya dirimu
walaupun sedih jangan menyerah
kelangit!
impian!
lihatlah!
kapanpun saat memikirkanmu
bisa bertemu kebetulan itu
hanya sekali dalam hidup
kupercaya keajaiban
kapanpun saat memikirkanmu
akupun bersyukur kepada tuhan
saat kutoleh ke belakang
ujung kekekalan
karena kusuka suka dirimu
kuakan selalu berada disini
walau didalam keramaian
tak apa tak kau sadari
karena kusuka suka dirimu
hanya dengan bertemu denganmu
perasaanku jadi hangat
dan menjadi penuh
ujung kekekalan
Seeettt! Kaget sendiri gue bisa-bisanya mosting lirik lagunya JKT48. Hahaha. Secara yang pertama gue salut aja sama girl band satu ini. Mereka membawa aliran J-Pop dan personelnya itu loh, banyaaaaak (gak pake banged pake 'd'). Salutnya lagi mereka itu kan sister group-nya AKB48 di Jepang, jadi mau gak mau (dan emang mau sih) mereka jadi sering tur ke luar negeri yang ada sister grup-nya AKB48 juga, termasuk pastinya Jepang. Wuasyeem, gue aja pengen banget main ke Jepang tapi udah keduluan sama mereka (oke ini gak nyambung juga sih sebenernya).

Alasan kedua gue mosting lirik ini, Kimi no Koto ga Suki Dakara (versi Jepang), Karena Kusuka Dirimu (versi JKT48 dooong...) ya karena menurut gue sih liriknya oke punya, kece abis dan yang jelas nih...filosofis. Yah, percaya nggak percaya sih ya urusan lo itu lah ya. Tapi menurut gue sih emang demikian. Kalo mau protes, protes aja sini sama gue. Datengin gue! (kalo cewek, usia 17-20 tahun, penampilan terserah, yang penting menarik, muka enak diliat...jangan lupa mau ya jadi pacar gue? wahahaha, gila!)

Oke, apapun perdebatan lo soal ini, akam gue jawab. Alasan gue bilang lirik lagu ini cukup filosofis. Beberapa alasan yang gue kasih mungkin tidak cukup memuaskan, tapi paling gak cukup sebagai gambaran deh ya.


  1. Lagu ini dari bait pertama aja udah bikin gue merinding, bukan karena takut tapi karena liriknya yang buat gue itu suatu pelajaran banget. Disitu tertulis jika kamu merasa bahagia semoga saat ini kamu lanjut, selalu selalu selalu ku akan terus berharap. Mengajarkan gue untuk tidak cepat merasa puas atas apa yang udah gue capai tapi teruslah berharap untuk menjadi lebih baik.
  2. Liriknya pun mengajarkan gue dalam hal filosofi cinta, bahwa cinta itu satu arah dan tak mengharapkan jawaban. Ketika kita mencintai sesuatu, niatilah bahwa kita benar-benar mencintainya secara ikhlas dan tidak berlebihan. Kita tidak perlu berharap lebih dia akan membalas perasaan kita yang penting ungkapkan cinta itu dengan tindakan bahwa kita mencintainya, jangan hanya sebatas perasaan yang dipendem sampe berjamur. Itu malah gak ada gunanya. Kalo udah mraktekin ini sih, menurut gue gak bakal gak mendapat balasan, (tentunya manit ataupun pahit tergantung sikon ya...haha).
  3. Memang yang namanya orang sedang dalam kondisi jatuh cinta, bawaannya itu aneeeeh mulu perasaannya. Makan gak keruan, tidur gak bisa merem, boker gak enak, jongkok gak bisa sambil selonjoran (yaiyalaah...) dkk deh. Dan itu pun tersirat di lirik lagu ini, walopun (misalnya nih misalnya) gue hanya melihatnya dari jauh dan orang yang gue suka itu gak sadar kalo gue ada di deketnya, gue merasa itu cukup untuk saat itu. Gue akan tetep ada disana, melihatnya, melihat senyumnya, ketawanya, cara duduknya, caranya ngomong (eitttts keterusan...).
  4. Optimis dan pantang menyerah, itulah nilai berikutnya yang tersurat di lirik lagu ini. Walupun sedih jangan menyerah! Ke langit impian, lihatlah! Ketika kita merasa menyerah dalam usaha, lihatlah ke atas, mereka yang sukses yang berhasil dengan segala usaha dan jeri payah mereka. Tapi di sana mereka tampak indah, dan ke sanalah kita akan bergabung. Kebahagiaan butuh perjuangan, optimis dan pantang menyerah.
  5. Keajaiban datang hanya disaat kita benar-benar mengharapkannya. Kapanpun saat memikirkanmu, bisa bertemu kebetulan itu. Hanya sekali seumur hidup ku percaya keajaiban. Di dunia ini memang menurut gue gak ada yang namanya kebetulan. Sekecil apapun kejadian, pasti ada sebab yang mendahuluinya. Bahkan daun yang jatuh dari pohonnya pun sudah direncanakan sebelumnya. Jadi, pastikan dalam hidup, kita harus bener-bener mempersiapkan diri untuk masa depan, untuk hidup kita nantinya. Keajaiban akan datang setelah kita benar-benar tahu makna kehidupan itu bagi kita. 
  6. Rasa cinta, sekecil apapun itu selalu menimbulkan kehangatan yang sulit rasanya diungkapkan dengan hanya 26 huruf alfabet. Perasaan itu tak pernah bisa dikontrol bahkan oleh si pemiliknya sendiri, dan sampe saat ini gue gak tahu siapa sejatinya pemilik cinta itu. Cinta itu datang di saat kita mungkin mengharapkannya dan kadang justru sebaliknya, di saat yang tak pernah kita duga sebelumnya.
Dan yang terakhir, pelajaran berharga buat gue khususnya adalah bahwa baik AKB48, JKT48 dan sister grup-sister grup lainnya bisa tumbuh dan sukses karena mereka berjuang bersama. Mereka tidak segan untuk saling berbagi. Ini yang paling berkesan buat gue, bahwa hidup sesederhana apapun itu yang terbaik darinya adalah saat bisa saling berbagi.



Download:
JKT48 - Karena Kusuka Dirimu (kimi no koto ga suki dakara)
AKB48 - Kimi no Koto ga Suki Dakara

Monday, June 4, 2012

The Power of Post-It


Contoh Post-it notes, sumber: www.officekitten.co.uk

Tahu Post-It kan? Itu loh kertas-kertas kecil yang (umumnya sih) warnanya kuning, ada juga warna-warna lain, yang di salah satu sisinya ada bagian lengket yang bisa ditempel di manapun. Sekarang mau diapain nih Post-It itu? Sekarang saya pengen share pengalaman aja tentang Post-It satu ini.
Kenapa saya kasih judul artikel ini The power of “Post-It”? Itu berkaitan dengan teknik pengembangan ide dalam diskusi yang pernah saya lakukan yang (bener-bener) manfaatin Post-It ini. Kami menggunakan Post-It sebagai media untuk menyampaikan ide-ide baru mengenai topic yang kami diskusikan. Kelompok kecil diskusi kami ini membahas mengenai “Bagaimana untuk menciptakan strategi pengembangan media massa yang berbasis pada pembaca di era IT”.
Kemudian kelompok kami diberi satu pak Post-It dan diberi waktu 15 menit untuk menuliskan ide, solusi dan berbagai aspek yang mungkin dilakukan sesuai dengan topic tadi itu. Setelah 15 menit berlalu, ketua kelompok menyuruh masing-masing member untuk menempelkan Post-It yang sudah terisi tadi ke whiteboard yang disediakan. Selesai semua ini, kelompok kami mereview catatan-catatan yang tertempel itu dan mengelompokkannya sesuai temanya, misal; ide-ide yang berkaitan dengan perangkat IT, atau sumber daya manusia dan sebagainya.
Logo Post-it
Apa yang kami lihat selanjutnya? Duplikasi ide mungkin saja terjadi kan. Nah ini mengindikasikan bahwa idea tau solusi yang demikian (kemungkinan besar) bisa relevan dengan topik diskusi kami. Akhirnya, kami bisa menemukan langkah strategis yang baru berdasarkan diskusi yang kami lakukan yang menggunakan metode yang menurut kami juga baru sih. Hehe. Unik, tapi bisa membuktikan bahwa dalam menyelesaikan suatu masalah bisa juga dengan cara yang fun. That’s it!