Thursday, September 6, 2012

Mencari Air Menetes di Candi Banyunibo


Masuk ke area Candi Banyunibo
Dari namanya, memang bisa diartikan dari bahasa Jawa yang berarti air (banyu) dan jatuh atau menetes (nibo). Terletak di tengah area persawahan dan ladang tebu milik warga Dusun Cepit, Bokoharjo, Prambanan, Candi Banyunibo bisa dibilang cukup terpencil. Aksesnya cukup mudah jika menggunakan kendaraan pribadi menuju bagian timur Yogyakarta arah Wonosari. Waktu tempuh dari kota Yogyakarta (jika patokannya adalah Malioboro) sekitar 30 menit. Masih merupakan satu komplek dengan Candi Ratu Boko, Candi Ijo, dan Candi Barong walaupun tempatnya tidak bisa dibilang berdekatan.

Candi Banyunibo termasuk dalam jenis candi Budha yang terlihat dari ciri khasnya yaitu stupa di bagian atas candi. Kemudian di dinding luar candi terdapat terdapat ornamen dan relief yang terpahat pada batu-batu penyusunnya. Ornamen yang berbentuk tumbuhan dan hewan mendominasi bagian-bagian dinding candi.

Berdasarkan referensi, Candi Banyunibo dibangun sekitar abad ke-9 pada masa Mataram Kuno dan terdiri atas satu candi induk yang menghadap ke barat dan enam candi perwara berbentuk stupa di sisi utara, timur dan selatan. Untuk memasuki bangunan induk candi, di sisi barat terdapat tangga dan pintu masuk. Bagian dalam candi berbentuk persegi dengan dinding-dindingnya dihiasi dengan relung dan jendela. Relung bagian timur adalah yang terbesar berbentuk kala makara tapi tidak ada patung, arca atau ornamen pendamping lainnya. Jendela candi itu ternyata terbuka sampai begian luar candi sehingga kadang pengunjung iseng naik ke jendela menuju ke luar (teras) candi. 

Bagian dinding teras sebelah kanan dan kiri dihiasi dengan relief perempuan dan laki-laki yang menggambarkan dewi kesuburan, Haritti dan suaminya Vaisaravana. Kemudian penulis penasaran mengapa candi ini diberi nama ‘banyunibo’. Di area sekitar candi tidak ditemukan adanya mata air yang jatuh dalam bentuk apapun. Bahkan sekedar tetesan air yang mungkin bisa dilihat pun tidak ada.

Ekspektasi muncul bahwa nama itu diambil dari kebiasaan masyarakat tempo dulu yang gemar memberikan nama pada bangunan-bangunan suci dengan istilah yang yang filosofis. Banyu dan nibo, mungkin masyarakat Mataram Kuno pada waktu itu menggunakan candi ini sebagai tempat pemujaan untuk meminta hujan dan kesuburan. Ini diperkuat dengan adanya relief Dewi Haritti yang notabene dewi kesuburan bagi umat Budha.

Alhasil perjalanan penulis ke Candi Banyunibo, tidak berhasil menemukan air menetes dalam bentuk apapun. Apalah arti sebuah nama, demikian kata Shakespearre.

THANKS TO: Nika dan Riri, temen-temen baru di Jogja dan especially for My Partner in Crime, Ciwulsky. Let’s plan another trip around Jogja next time, yaa!

Wednesday, September 5, 2012

Tahu Gak, Ada yang Namanya Taman Lampion Monjali?

Salah satu lampion di Taman Lampion Monjali
Selalu telat ngepost! Telat...telat...telat. Kenapa kata-kata itu gak bisa jauh dari hidup gue? Sederhananya postingan ini, harusnya udah dari kemarin-kemarin gue post di 123Persen! tapi baru juga sekarang bisa nongol gitu aja.

Ini tentang liburan, jadi topiknya gak berat-berat kayak biasanya. Hahaha. Dan emang gak jauh-jauh dari postingan sebelumnya, tentang Jogja. Ya, minggu lalu gue masih di Jogja, ceritanya sih liburan. Tepatnya tanggal 27 Agustus 2012 pukul 15.00 WIB gue sampe di Jogja dan langsung nyari temen gue di sana buat numpang nginep. Alhasil dapet deh satu sohib gue dari jaman SMP dulu yang bersedia nampung makhluk macam gue buat numpang tidur di kosan istananya.

The journey begins! Malemnya gue langsung calling cewek yang ngakunya super keci dan kiyut dengan nama yang cukup bombastis, Ciwulsky. Who's her? Sabar...ntar juga gue ceritain. Lanjut, tadinya sih sempet bingung mau jalan kemana malem-malem gini. Muncul deh alternatif destinasi night trip kami, yaitu antara ke Malioboro, Langensari, Tugu Jogja atau Taman Lampion di Monjali. And the choice fell on Taman Lampion Monjali dengan pertimbangan gak jauh-jauh amat deh kayaknya dan sewaktu memutuskan itu, gue belum sempet ngebayangin seperti apa bakal tempat itu.


Singkatnya, sampai deh kami di Taman Lampion Monjali dengan sedikit tergesa karena si cewek keci satu itu ternyata sedang menahan HIV-nya (re: hasrat ingin vivis, maap alay...doi juga yang ngajarin). Oke lanjut aja ya, gak enak nulisnya.

Masuk ke area taman yang ternyata memang masih satu komplek dengan Museum Jogja Kembali (Monjali) yang terkenal itu, kita disuguhi dengan pemandangan lampion-lampion warna-warni dengan aneka bentuk yang artistik. Ada bentuk tokoh-tokoh kartun seperti spongebob, patrick, winnie the pooh, hello kitty, micky mouse, bentuk hewan, hantu dan bentuk-bentuk abstrak lain. Tidak cuma itu loh, ada wahana lain yang menarik untuk dicoba seperti becak kecil, sepeda, perahu kayuh, atv, dan rumah hantu. Si Ciwuls ini udah sensi aja denger suara-suara dari rumah hantu itu, diajakin masuk mana berani dia.

Oiya, ada juga music corner yang selalu menyuguhi pengunjung dengan lagu-lagu yang...ehm cukup menghibur sebenernya tapi kalo gue sendiri kurang bisa menikmati. Dan lagi, kalo boleh komentar, sebenrnya konsep taman lampion ini bagus sebagai wahana wisata yang mendatangkan uang. Tapi tempatnya di sebuah monumen yang notabene merupakan salah satu warisan sejarah. Jadi, dari segi maintenance harus lebih ekstra diperhatikan. Misalnya nih, gue gak ngebayangin gimana suasana Monjali di siang hari dengan banyaknya lampion-lampion ini. Okelah kalo terawat, tapi beberapa dari lampion ini terlihat rusak dan jika siang hari kayaknya kelihatan kumal deh. Dan ini juga merupakan tanggung jawab bersama antara pengelola dan pengunjung. Tapi tentunya pengelola harus lebih ekstra dalam menangani fenomena ini. Untuk kemaslahatan bersama kan?


Lanjut deh, petualangan kami di Taman Lampion gak cuma sampe di situ aja. Kami berkeliling ke seluruh area taman buat nyari spot foto yang menarik dan artistik. Bahkan, untuk mendapatkan spot tersebut si ciwulsky ini harus bersusah payah memanjat dinding dan hasilnya...gak mengecewakan kok. Setelah puas berfoto di area dalam taman, kami keluar karena kata cewek yang katanya nama aslinya 'taylor swift' ini, ada spot foto yang menarik di luar, yaitu replika Tugu Jogja. Yeay! Kami foto di sana beberapa kali. Belum sempat foto di Tugu yang aslinya gak apa, tapi bisa dong foto di replikanya dulu. Hehehe.

Makin malam makin dingin, kami masih sempat ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul di depan food court area (tanpa makan atau minum apapun). Tempatnya emang cukup asik juga buat ngobrol dan kunjungan keluarga cocok banget. Menjelang pulang, berhubung jam malam cewek kiyut ini sampe pukul 10 malem, gue baru mikir...kayaknya kebanyakan pengunjung yang dateng itu anak-anak ya. Dan wahana yang ada juga sebagian besar buat anak-anak. But the point is, gak masalah aja kami 'yang sudah bukan anak-anak lagi' main-main ke tempat wisata anak-anak. It's fun and none can stop us! Hahaha. 

Belum sempat foto sama Tugu yang asli, replikanya dulu deh..

Kami pulaaaaang...


PS:
Ciwulsky itu cewek yang ngakunya gaul tapi sebenernya alay. Ngakunya kiyut padahal enggak, ngakunya cantik padahal ehm...tau sendiri lah ya. Hahaha. Dia mahasiswa KG UGM yang masih dianggep anak SD sama mantan guru SD-nya. Rumahnya ada di dalam labirin yang terhubung dengan sebuah goa melalui portkey. Dan yang pasti dia fans fanatik gue. Yah...itulah makhluk satu itu. =))

PS: 2
Ini baru hari pertama gue liburan di Jogja loh...lagi males nge-post, besok lanjutin lagi deh.

Jogja Selalu Jogja

Tugu Jogja, ikon kota Jogja | sumber: yogyes.com
Jogja emang gak ada matinya! Trip kali ini sangat berkesan di Kota Gudeg yang cukup emejing ini. Niatnya sih buat ngisi liburan pasca lebaran kemarin. Jadi ceritanya pas lebaran nih, bukannya nyante-nyante di rumah eh malah suruh bantuin jualan bakso di warung reyot keluarga di kampung. Bosen gak tuh...bosen lah. Butuh penyegaran mata, pikiran, hati dan perasaan pastinya. Nah, Jogja jadi destinasi saya kali ini.

Kenapa Jogja? Dari dulu Jogja emang selalu menarik buat saya. Jaman taman kanak-kanak dulu Jogja jadi alternatif tempat berlibur yang cukup menarik dan yang pasti menurut keluarga saya, murah dan lengkap. Benar saja, coba kalian searching di Google dengan keyword 'jogja', 'jogjakarta', atau 'yogyakarta'. Kita akan disuguhi dengan situs-situs yang menayangkan berbagai review dan gambar-gambar tentang Jogja. Semakin tertarik dan menarik bagi siapa saja yang ingin menikmati pesona tradisi berpadu modernitas yang selaras dengan unsur naturalisnya.

Jogja, sejak dulu memang dikenal sebagai destinasi wisata yang menyajikan banyak alternatif kunjungan. Mulai dari wisata candi, kamu bisa mengunjungi komplek percandian di Jogjakarta dan sekitarnya. Jogja kan memang disebut juga sebagai Kota Seribu Candi. Terus buat yang tertarik wisata pantai, di sekitar Jogja bagian selatan banyak spot-spot pantai yang sangat layak masuk ke dalam daftar kunjungan. Sebut saja Pantai Parangtritis, Pantai Depok, Pantai Baron, Pantai Indrayanti, Pantai Sundak, Pantai Siung dan masih banyak lagi sih. Jangan khawatir juga yang doyan wisata belanja, Jogja terkenal dengan Malioboro-nya yang menjadi surganya pernak-pernik yang lucu dan menarik. Jangan takut untuk menawar kalo ingin dapat barang menarik dengan harga terjangkau. Kalo ingin beli kerajinan keramik bisa dateng ke daerah Kasongan, terus kalo ingin ke pasar tradisional bisa datang ke Pasar Beringharjo.

Tidak hanya itu, Jogja juga pandai memanjakan para wisatawan yang berkunjung dengan wisata kulinernya, wisata alam, wisata arsitektur, pertunjukan seni dan juga agrowisata. Di Jogja, kita bisa menyaksikan saksi-saksi bisu perjalanan sejarah kerajaan Jawa dengan berkunjung ke keratonnya. Juga bisa menikmati pesona monumen dan museum yang ada Jogja adalah kepuasan tersendiri. Silakan berkunjung ke Tugu Jogja yang terkenal itu, Museum Affandi sang maestro, Museum Sonobudoyo gudangnya keris, atau ke Monumen Jogja Kembali untuk menyaksikan saksi peristiwa 6 jam di Jogja.

Jogja memang akan tetap selalu Jogja, tentunya selama kita, warga Indonesia dan Orang Jogja khususnya, senantiasa mau men-Jogja-kan Jogja selaiknya Jogja itu sendiri. Ngerti kan maksud saya? Kalo tidak, berarti Anda mikir...selamaat! Dan satu yang pasti adalah bahwa kalo bukan kita yang mau 'nguri-nguri' potensi bangsa ini, siapa lagi? Apa harus menunggu negara lain mengklaim salah satu potensi bangsa ini lagi? It's hard, but we can do it if we can do something for it.

Tuesday, July 31, 2012

Akhir yang Mengawali Kehidupan Baru


sumber: pixabay.com
Manusia lahir, tumbuh dewasa, mengenal dunia, saling memberi, menebar manfaat, merasakan cinta kemudian mati. Semua akan melewati tahap demi tahap. Gue, gak begitu yakin sudah mencapai tahap yang mana. Yang jelas gue belum mati. Tapi intinya aku bersyukur terlahir ke dunia dengan segala keunikan dan keanehan ini.

Di bawah ini adalah tulisan—lebih tepatnya curahan hati—gue ketika merasakan sedikit tahap kehidupan yang cukup asin dirasa. Asam sih sebenernya bukan asin. Hahaha. Gue gak nyangka ternyata gue bisa nulis kayak gitu. Gue bukan cowok romantic apalagi melankolis ya, tapi ternyata bisa-bisanya gue nulis beginian. Ini tepatnya ketika gue baru putus cinta. Nahloh! Ini juga tulisan udah cukup lama. Mungkin 2 tahunan yang lalu deh. Gak tau apa yang gue pikirkan waktu itu tapi yuk deh dibaca aja kalo penasaran. Kalo gak penasaran, gampang…close tab aja. Kelar!

Pengen liat gue galau? Hahaha…

22.30
Yang ada di otak gue sekarang cuma orang yang paling gue benci. Bisa jadi dia orang yang paling gue benci sedunia.

Tapi apa alasan gue benci sama lo? Padahal lo bukan siapa-siapa atau apa-apa gue.

Tapi ya itulah, benci gue bisa tanpa alasan dan emang benci sama orang kadang bisa tanpa alasan. Tergantung konteksnya dan itu yang terjadi dengan gue sekarang.

Kadang gue mikir kenapa bisa selalu mikirin lo? Apa untungnya buat gue sedangkan lo aja mungkin gak peduli sama gue, gak pernah mau tau gimana gue sekarang.

Kalo aja ada pilihan di dunia sekali, sehari tanpa doa. Satu hal yang pengen gue lakuin sekarang. “Bunuh” lo. Kejam mungkin dan gue bakal dikira binatang sama orang-orang, gak berperikemanusiaan kata mereka. Jelas aja gak berperikemanusiaan, mereka aja binatang, yang cuma bisa makan ‘kotoran’ zaman. Terus? Apa bedanya?

Ada orang yang hidupnya gak pernah bisa lepas dari orang lain, bergantung dari belas kasih orang, mengais-ngais kantong orang lain. Tau lo?

“Hidup ini begitu indah..”, kata orang yang bisa menikmatinya.
“Hidup ini naif..”, kata orang yang tidak bisa memaknainya.
“Hidup ini sementara...”, kata Pak Ustad.
“Hidup ini panggung sandiwara..”, kata Ahmad Albar..(eh salah…hidup harusnya ‘dunia’ ye)
“Hidup ini bejat…”, kata para preman.
“Hidup ini gak adil..”. kata orang-orang yang tidak tau apa itu ke’adil’an yang sebenarnya.
“Hidup ini sudah berakhir..”, kata korban pemerkosaan yang mau bunuh diri.

Dan “hidup hidup” yang lain yang mungkin dikatakan oleh setiap orang…

Tapi kalo kata gue…”Hidup itu virus”. Kenapa? Karena ketika makhluk ‘hidup’, dia akan berusaha menjangkiti makhluk ‘hidup’ lainnya. Mencari inang untuk melampiaskan nafsunya, menjalar seiring aliran darah dengan cepat, mencari tempat untuk penetrasi dan ejakulasi, dan setelah puas, dia akan mencampakkan mereka begitu saja tanpa rasa berdosa dan mencari inang yang lain untuk dia ‘jangkiti’. Tau kan maksud gue? Gak? Bagus. Itu tandanya lo mikir.

22.59
Aku kembali ke kehidupan nyata. Hanya ini yang tersisa di hidupku. Penyesalan, kekecewaan, hina, terpuruk, pecundang, …hanya itu? Yaa, mungkinkah ada sedikit harapan untuk orang sepertiku?

Aku selalu terbuai dengan mimpiku. Merasa bahwa mimpi itu nyata bukan semu. Merasa bahwa esok pagi mimpi-mimpiku semalam akan jadi kenyataan. Menganggap bahwa segala hal yang terjadi itu berawal dari mimpi.

Hidup, mimpi, cita-cita, cinta dan masa depan.

Kenapa aku letakkan mimpi di urutan kedua setelah hidup? Itulah salah satu dari sekian banyak kebodohanku. Hah? Benarkah aku bicara soal kebodohan? Padahal ku sendiri tak yakin apakah aku masih punya kepandaian. Setiap hal yang aku lakukan hanya membuat orang lain kecewa. Tak ada pencapaian tinggi dalam hidupku.

23.11
Gue gak tau apa yang musti gue lakuin buat lo. Gue cinta dan dan gue sayang sama lo. Apa selama ini cara gue salah buat ngungkapin semua perasaan itu sama lo? Bisa jawab?

Ngomong plis, apa yang musti gue lakuin agar lo tau kalo gue sayang banget sama lo. Gue butuh lo, cuma lo yang ngertiin gue selama ini, lo yang ada buat gue, lo yang selalu support gue dari belakang, lo yang care banget sama gue… Tapi gue sendiri gak punya perasaan. Emang gue gak pernah ngungkapin perasaan gue. Itu smua cuma kiasan, cuma mimpi…gak ada yang nyata dalam hidup gue sekarang…bahkan untuk urusan cinta, gue NOL. Terus? Apa lo peduli?

23.16
Mimpi, sebenarnya untuk apa Sang Khalik memberi kita mimpi ketika tidur? “Mimpi itu cuma bunga tidur”, kata sebagian besar orang. Tapi sebenarnya Tuhan Maha Adil bahwa Dia memberikan kita mimpi saat terlelap. Ketika kita tidak bisa menjangkau hal yang paling mustahil kita raih pun ketika tidur kita bisa menjangkaunya, mencapainya, bahkan meraihnya dan mengenakan jubah kebesarannya.

Se-riil itukah? Pertanyaan yang bagus… Aku adalah orang yang percaya pada mimpi. Hampir mendewakan mimpi. Karena hidupku pun aku anggap mimpi yang suatu saat ketika kita terjaga apa yang baru saja kita alami akan menghilang begitu saja tanpa bekas. Dan yang ada hanya kekecewaan ketika kita tidak merampungkan sesuatu yang padahal sudah seharusnya kita lakukan.

23.21
Gue selalu mikirin lo, gak tau sampe kapan perasaan ini bakal bisa ilang. Gue gak yakin.
What are you looking for, boy? … Gue emang cuma bisa nunggu, dalam segala hal. Dan karena itulah gue ngalamin semua kekecewaan dan keterpurukan ini. Don’t tell her… starting from now, I’m not sure if we’ll be together. Gue gak mau ngulangin semua kesalahan masa lalu, sama siapapun.

Masa lalu gue udah terlalu buruk untuk terulang di saat gue ingin ngelupain semua itu. Gue bakal kubur hidup-hidup masa lalu itu. Gue hidup buat masa depan bukan cuma buat mengungkit masa lalu.

Masa depan gue terlalu berharga buat dikorbanin dengan hal-hal yang gak jelas kaya gini. Gue musti berubah mulai sekarang. Hidup gue masih panjang, masih banyak orang yang sayang sama gue…setidaknya itu yang gue yakinin.

Jangan pernah lagi hadir dalam kehidupan gue. Jangan pernah terulang masa lalu…

22.33
Aku pun tak tahu mengapa mereka berpikir seolah-olah mereka tahu segalanya. Seolah mereka itu malaikat yang menjagaku siang malam. Mereka seakan tahu apa yang aku lakuin selama ini, seolah mengerti apa yang aku rasakan saat ini.

Aku sendiri. Tapi seolah ada yang selalu mengawasiku… tapi siapa?

Bahkan orang tuaku pun tak pernah peduli denganku. Aku selalu yang terburuk di keluarga. Aku selalu kalah dengan saudara-saudaraku. Akulah yang selalu jadi ejekan mereka… Apa hak mereka dengan semua itu?

Sejak kecil, tak pernah aku merasakan kasih sayang orang tua. Bahkan mungkin aku tak pernah merasakan manisnya ASI, ataupun gendongan seorang ayah. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Tapi aku selalu terima. Aku pun tak pernah menuntut apapun. Sejak aku masuk bangku TK, SD, SMP aku selalu berprestasi. Orang-orang selalu bertanya, “Anak siapa ya…pinter banget?”. Pertanyaan itu yang tak pernah aku ingin jawab tapi harus aku jawab dengan perasaan ‘apapun’.

Ya, aku masih anak-anak, tepatnya kekanak-kanakan mungkin. Jelas saja sejak kanak-kanak aku tak pernah merasakan bahagianya seorang anak.

Aku selalu sendiri.

22.43
Gue masih gak bisa tidur. Wajar, buat anak kuliah tidur jam segini ga biasa juga sih. Udah biasa tidur di atas jam 1.00. Tapi sekarang beda. Beberapa waktu yang lalu selalu ada yang ngingetin gue buat tidur, makan, mandi, etc. Gak penting-penting amat benernya tapi gue nyaman sama dia.

+ Lagi ngapain nih? Belom bobo kan?

> Lagi di kosan aja, tiduran, bosen. Belom lah, kamu juga belom bobo? Ngapain?

+ Kenapa bosen? Na ngebosenin ya? Lagi gak bisa bobo, kangen… :(

> Bukan, bukan kamu dong…tugas2 kuliah nih yang bikin bosen, numpuk gak kelar2. Miss you too, Na…Jangan cembeyut gitu dong :)

+ Ya diselesein dong! Makanya jangan maen mulu! Iyaaa... :) Eh udah makan? Jangan telat loh…kebiasaan! 

> Iya2 deh nyonya… Udah kok tadi, kamu bobo gih, udah malem juga…

+ Iya deh, mataku juga tinggal 5 watt nih, hehe… Love you <3

> Siiiip deh, met bobo ya, nice drim… Love you too <3

Gue selalu inget, saat-saat yang selalu bisa bikin gue senyum-senyum sendiri, rela ninggalin semua tugas buat dia, rela buat ngorbanin uang saku sebulan demi beliin kado buat dia, rela ngabisin waktu berjam-jam buat nelpon dia… Tapi, uhh ngapain diungkit-ungkit? Gak  penting juga sekarang. Tapi tapi tapi… penting buat gue.

00.00
Aku masih kecil waktu itu ketika aku pulang sekolah dan melihat kedua orang tuaku. Tunggu! Tidak seperti yang kalian bayangkan yang seharusnya aku merasa bahagia saat kedua orang tuaku bertemu, tapi justru sedih yang muncul. Aku melihat dan mendengarkan dengan baik kedua orang tuaku bertengkar hebat. Tak jelas apa sebabnya, masih terlalu kecil aku waktu itu untuk memahami jalan pikiran orang dewasa yang serba rumit. Tapi sudah cukup mengerti bagiku bahwa kedua orang tuaku tak pernah akur.

Jarang-jarang mereka bertemu berdua sekaligus, kadang sebulan sekali, dua bulan sekali. Akupun seringkali bertemu mereka tak pernah lengkap, kadang hanya ibuku dan di lain waktu hanya ayahku yang di rumah. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka dan tak pernah menganggap aku ini ada, anak mereka sendiri.

Lagi-lagi aku sendiri dan menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuaku pernah bilang mau bercerai. Aku belum begitu mengerti waktu itu untuk memahami apa itu kata ‘cerai’, tapi mendengarnya saja aku seolah diberi tahu oleh sesuatu kekuatan yang ada dalam raga kecilku bahwa kata itu sangat buruk seburuk yang diucapkan ayahku pada ibuku…pun sebaliknya.

Aku sendiri….

“Mengapa aku jadi terjebak dengan lamunan masa lalu  lagi? Sekarang aku sudah cukup dewasa untuk mengerti arti hidup walaupun kedengarannya aneh. Karena masih banyak yang menganggapku kekanak-kanakan. Yaa…tidak lebih baik sekarang dari dulu.”

“Aku ingin terbangun dari mimpi-mimpi panjangku sekarang, aku ingin ada makhluk semacam alien yang akan membawaku ke dunia di mana orang lain tak ada yang mengenalku. Dan aku bisa memulai lagi semua dari awal, memulai semua dari nol…”

“Aku ingin bangkit dari segalanya…”

--Semakiin lama aku menulis, semakin aku tidak  mengerti apa yang baru aku tulis tapi semakin tertantang aku untuk melanjutkannya--


Jakarta, [lupa tanggal berapa bulan apa, 2010?]